Cari Blog Ini

Selasa, 27 Januari 2015

Untukmu #3



                Sudahkah aku menjadi rumah yang benar-benar nyaman untukmu? Sudahkah sentuhan tanganku ini menjadi sesuatu yang kau rindukan? Kau tahu, aku selalu berusaha membuatmu nyaman berada disisiku. Kau tentu tahu kenapa aku seperti ini. Ya benar! Karena aku ingin menjadi sepertimu. Menjadi sebuah rumah yang nyaman. Yang selamanya ingin aku tinggali. Yang tak ingin aku berikan kepada orang lain. Aku sudah berkali-kali mengatakan demikian, semoga kau tidak bosan mendengarnya.
                Tempo hari kita bertemu lagi. Seperti biasa, duduk berdua. Bersebelahan. Bercerita tentang semua yang terjadi. Lebih tepatnya aku yang bercerita. Dan kau menjadi pendengar yang cukup baik. Aku menyukainya. Namun, maafkan aku. Aku sungguh wanita yang tidak bisa diam. Aku tidak bisa mengerti kalau sesungguhnya kamu mungkin bosan, lelah, atau semacamnya. Maafkan aku. Tapi sekali lagi aku hanya ingin membuatmu nyaman. Sungguh. Aku ingin membuatmu bangga memiliki aku. Maka, aku serahkan padamu semua sifat buruk yang aku miliki. Aku sungguh membutuhkanmu. Aku perlu diperbaiki. Dengan cinta. Ya, aku percaya kekuatan itu. Kau tahu? Aku ingin kau yang memperbaikiku hingga aku benar-benar bisa sejajar berdiri disamping pria yang gagah. Kau juga yang aku inginkan untuk membuatku lebih baik, agar aku bisa menggandeng lenganmu yang kuat kemanapun tanpa kau merasa malu. Aku tahu, kau sungguh mengerti bukan bagaimana perasaan itu terjadi? Ya, terjadi karena sejak awal kau sudah berjalan menjadi sebuah rumah ke arahku. Perlahan, namun pasti. Kau kemudian berhenti disini. Ditempatku berdiri. Kau kemudian mempersilahkanku masuk. Menikmati hangatnya lengan yang gagah itu. Aku ingin, kelak lengan inilah yang mampu melindungiku dari apapun. Kelak, lengan ini juga yang akan menjadi sandaran terakhir hingga aku sudah tak tahu kemana lagi arah yang akan aku tuju. Dan kau sungguh memberikan yang terbaik, untukku. Kemudian kau menyuruhku menggenggam jemarimu. Mempersilahkan jariku memasuki celah yang sudah tersedia. Terdorong masuk, kemudian terperangkap begitu saja. Kau menggenggamnya erat. Seakan tak ingin lepas. Sama sepertiku. Aku juga demikian. Sekaligus berharap semoga jemarimu terus erat. Tak pernah longgar. Agar tak member celah untuk yang lain. Semoga juga jemarimu sanggup menuntunku hingga esok. Hingga nanti. Hingga malam berganti pagi. Hingga hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Dan seterusnya. Semoga saja kau benar-benar tak ingin melepasnya. Sama sepertiku.
                Kemudian, setelah jemari dan lengan yang gagah itu, sekali lagi kau memberiku kenyamanan. Kecupan hangat di kening yang selalu membuatku bak seperti puteri yang benar-benar disayang oleh seorang pangeran.  Kecupan yang hangat itu sungguh merasuk. Masuk kefikiranku, kemudian membuatku tak berhenti berkata bahwa kau kini adalah satu-satunya. Bahwa kau kini adalah yang harus aku tunjukkan kepada dunia, bahwa kini aku juga bisa bahagia. Bahagia bersama pria yang gagah. Dan aku sungguh berjanji kepadamu, aku akan berdiri disampingmu, hingga kau sudah lelah. dan aku akan menopangmu, serapuh apapun kau nanti, aku sudah siap. Karena hati tidak pernah mengajarkan mencintai orang yang rapuh. Tidak mengajarkan bagaimana “meninggalkan” orang lain. Karena hati benar-benar akan berhenti pada orang yang tepat. Pada ruang yang kosong dan cocok. Dan kau tahu? Aku sungguh berharap, ruang yang kosong dihatimu itu adalah milikku. Adalah ruang yang disediakan untukku. Hanya aku. Tidak untuk yang lain. Semoga kau tidak protes jika aku sungguh ingin menempatinya. Sungguh ingin berlama-lama. Semoga saja kau memang hanya untukku. Untukku saja.
                Nah, kau sungguh tahu sekarang bagaimana kenyamanan itu bisa tercipta. Sekarang biar aku yang membuatmu nyaman berada bersamaku. Apa yang harus aku perbaiki selain sifat-sifat burukku tadi? Beritahu aku. Aku ingin sepertimu. Tanpa bagian yang buruk. Aku juga ingin sempurna. Sama seperti yang kau lakukan untukku. Aku juga ingin menjadi satu-satunya. Sama seperti yang kau katakan padaku. Bertitahu aku. Aku tidak ingin ada angin yang menghapus semuanya. Tidak ingin ada air yang menghanyutkan semuanya. Aku hanya ingin menjadi sepertimu, setidaknya aku membuatmu bangga. Setidaknya rasa bangga itu bisa terpercik meski tidak berkali-kali. Setidaknya demikian. Semoga, kau sungguh merasa bangga. Kau sungguh tidak merasa terbebani karena aku. Kau sungguh bahagia. Tertawa lepas. Berdua. Aku ingin ketika kau bertemu denganku, kau tetap tersenyum. Enggan menampakkan wajah cemberutmu yang lucu itu. Bukan main, aku sungguh bahagia melihatnya jika kau tersenyum puas. Bahagia atas pertemuan kita yang kurang sempurna karena aku. Sekali lagi memang akulah pengacaunya. Ah, sungguh aku hanya menjadi pengacau ulung, bukan?
                Aku berjanji akan berkerja keras membenahi kekuranganku. Sungguh, aku tidak ingin rumahku pergi. Kemudian kenyamanan itu hilang. Aku akan berusaha hadir seperti yang kau minta. Tak kurang, juga tak lebih. Aku akan berusaha tetap bersamamu. Berdua. Seperti impian kita bersama, bukan? Nah, aku akan membuktikannya bahwa aku layak berdiri denganmu, pria gagah. Layak untuk menggandeng lenganmu. Layak untuk menemanimu berjalan keliling dunia, sama seperti impianmu kan, komandan? Aku akan buat diriku lebih layak, agar kau bangga memilikiku. Itu saja. Semoga semua ini tak sia-sia. Agar kau tetap menjadi rumah bagiku. Sekarang hingga seterusnya. Semoga….


Still trying
27 January 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar