Sudahkah
aku menjadi rumah yang benar-benar nyaman untukmu? Sudahkah sentuhan tanganku
ini menjadi sesuatu yang kau rindukan? Kau tahu, aku selalu berusaha membuatmu
nyaman berada disisiku. Kau tentu tahu kenapa aku seperti ini. Ya benar! Karena
aku ingin menjadi sepertimu. Menjadi sebuah rumah yang nyaman. Yang selamanya
ingin aku tinggali. Yang tak ingin aku berikan kepada orang lain. Aku sudah
berkali-kali mengatakan demikian, semoga kau tidak bosan mendengarnya.
Tempo hari
kita bertemu lagi. Seperti biasa, duduk berdua. Bersebelahan. Bercerita tentang
semua yang terjadi. Lebih tepatnya aku yang bercerita. Dan kau menjadi
pendengar yang cukup baik. Aku menyukainya. Namun, maafkan aku. Aku sungguh
wanita yang tidak bisa diam. Aku tidak bisa mengerti kalau sesungguhnya kamu
mungkin bosan, lelah, atau semacamnya. Maafkan aku. Tapi sekali lagi aku hanya
ingin membuatmu nyaman. Sungguh. Aku ingin membuatmu bangga memiliki aku. Maka,
aku serahkan padamu semua sifat buruk yang aku miliki. Aku sungguh
membutuhkanmu. Aku perlu diperbaiki. Dengan cinta. Ya, aku percaya kekuatan
itu. Kau tahu? Aku ingin kau yang memperbaikiku hingga aku benar-benar bisa
sejajar berdiri disamping pria yang gagah. Kau juga yang aku inginkan untuk
membuatku lebih baik, agar aku bisa menggandeng lenganmu yang kuat kemanapun
tanpa kau merasa malu. Aku tahu, kau sungguh mengerti bukan bagaimana perasaan
itu terjadi? Ya, terjadi karena sejak awal kau sudah berjalan menjadi sebuah
rumah ke arahku. Perlahan, namun pasti. Kau kemudian berhenti disini. Ditempatku
berdiri. Kau kemudian mempersilahkanku masuk. Menikmati hangatnya lengan yang
gagah itu. Aku ingin, kelak lengan inilah yang mampu melindungiku dari apapun. Kelak,
lengan ini juga yang akan menjadi sandaran terakhir hingga aku sudah tak tahu
kemana lagi arah yang akan aku tuju. Dan kau sungguh memberikan yang terbaik,
untukku. Kemudian kau menyuruhku menggenggam jemarimu. Mempersilahkan jariku
memasuki celah yang sudah tersedia. Terdorong masuk, kemudian terperangkap
begitu saja. Kau menggenggamnya erat. Seakan tak ingin lepas. Sama sepertiku. Aku
juga demikian. Sekaligus berharap semoga jemarimu terus erat. Tak pernah
longgar. Agar tak member celah untuk yang lain. Semoga juga jemarimu sanggup
menuntunku hingga esok. Hingga nanti. Hingga malam berganti pagi. Hingga hari
berganti bulan. Bulan berganti tahun. Dan seterusnya. Semoga saja kau
benar-benar tak ingin melepasnya. Sama sepertiku.
Kemudian,
setelah jemari dan lengan yang gagah itu, sekali lagi kau memberiku kenyamanan.
Kecupan hangat di kening yang selalu membuatku bak seperti puteri yang
benar-benar disayang oleh seorang pangeran. Kecupan yang hangat itu sungguh merasuk. Masuk
kefikiranku, kemudian membuatku tak berhenti berkata bahwa kau kini adalah
satu-satunya. Bahwa kau kini adalah yang harus aku tunjukkan kepada dunia,
bahwa kini aku juga bisa bahagia. Bahagia bersama pria yang gagah. Dan aku
sungguh berjanji kepadamu, aku akan berdiri disampingmu, hingga kau sudah
lelah. dan aku akan menopangmu, serapuh apapun kau nanti, aku sudah siap. Karena
hati tidak pernah mengajarkan mencintai orang yang rapuh. Tidak mengajarkan
bagaimana “meninggalkan” orang lain. Karena hati benar-benar akan berhenti pada
orang yang tepat. Pada ruang yang kosong dan cocok. Dan kau tahu? Aku sungguh
berharap, ruang yang kosong dihatimu itu adalah milikku. Adalah ruang yang
disediakan untukku. Hanya aku. Tidak untuk yang lain. Semoga kau tidak protes
jika aku sungguh ingin menempatinya. Sungguh ingin berlama-lama. Semoga saja
kau memang hanya untukku. Untukku saja.
Nah,
kau sungguh tahu sekarang bagaimana kenyamanan itu bisa tercipta. Sekarang biar
aku yang membuatmu nyaman berada bersamaku. Apa yang harus aku perbaiki selain
sifat-sifat burukku tadi? Beritahu aku. Aku ingin sepertimu. Tanpa bagian yang
buruk. Aku juga ingin sempurna. Sama seperti yang kau lakukan untukku. Aku juga
ingin menjadi satu-satunya. Sama seperti yang kau katakan padaku. Bertitahu aku.
Aku tidak ingin ada angin yang menghapus semuanya. Tidak ingin ada air yang
menghanyutkan semuanya. Aku hanya ingin menjadi sepertimu, setidaknya aku
membuatmu bangga. Setidaknya rasa bangga itu bisa terpercik meski tidak
berkali-kali. Setidaknya demikian. Semoga, kau sungguh merasa bangga. Kau sungguh
tidak merasa terbebani karena aku. Kau sungguh bahagia. Tertawa lepas. Berdua. Aku
ingin ketika kau bertemu denganku, kau tetap tersenyum. Enggan menampakkan
wajah cemberutmu yang lucu itu. Bukan main, aku sungguh bahagia melihatnya jika
kau tersenyum puas. Bahagia atas pertemuan kita yang kurang sempurna karena
aku. Sekali lagi memang akulah pengacaunya. Ah, sungguh aku hanya menjadi
pengacau ulung, bukan?
Aku berjanji
akan berkerja keras membenahi kekuranganku. Sungguh, aku tidak ingin rumahku
pergi. Kemudian kenyamanan itu hilang. Aku akan berusaha hadir seperti yang kau
minta. Tak kurang, juga tak lebih. Aku akan berusaha tetap bersamamu. Berdua. Seperti
impian kita bersama, bukan? Nah, aku akan membuktikannya bahwa aku layak
berdiri denganmu, pria gagah. Layak untuk menggandeng lenganmu. Layak untuk
menemanimu berjalan keliling dunia, sama seperti impianmu kan, komandan? Aku akan
buat diriku lebih layak, agar kau bangga memilikiku. Itu saja. Semoga semua ini
tak sia-sia. Agar kau tetap menjadi rumah bagiku. Sekarang hingga seterusnya. Semoga….
Still trying
27 January 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar