Cari Blog Ini

Rabu, 21 Januari 2015

Sebuah Lagu



It's just another night
And I'm staring at the moon
I saw a shooting star
And thought of you
I sang a lullaby
By the waterside and knew
If you were here,
I'd sing to you
You're on the other side
As the skyline splits in two
I'm miles away from seeing you
I can see the stars
From America
I wonder, do you see them, too?
So open your eyes and see
The way our horizons meet
And all of the lights will lead
Into the night with me
And I know these scars will bleed
But both of our hearts believe
All of these stars will guide us home

Aku matikan lagu yang terakhir aku dengar, All Of The Stars. Lagu ini hanya membuatku semakin memikirkanmu. Aku masih ingat ketika malam itu. Percakapan manis kita memang terjadi hampir setiap waktu. Ah iya, aku memang tidak bisa lepas tanpa mengetahui kabarmu sedetik saja. Mengapa? Karena memang aku memikirkanmu setiap saat. Apakah salah? Tentu saja tidak, kan? Tolong jangan menyalahkan perasaanku. Aku tidak tahu apa yang membuat perasaan ini tumbuh subur. Aku juga tidak mengerti jenis pupuk apa yang aku gunakan. Entahlah, rasanya benar-benar semakin tumbuh. Semakin hijau saja. Aku tidak sabar ingin tahu sampai kapan perasaan ini tumbuh subur. Sampai kapan perasaan ini tidak layu. Semoga saja, pupuk yang tak bernama itu masih aku simpan. Sehingga bisa aku gunakan hingga kapan saja. Hingga kamu masih akan tetap ada disampingku.
            Aku baringkan tubuhku. Aku rentangkan tangan. Nyaman sekali. Kau tahu tidak? Saat seperti inilah aku sering berfikir sesuatu. Hingga saat ini aku masih enggan percaya kenapa aku bisa bersamamu. Hingga detik ini aku masih seperti bermimpi. Mimpi yang indah. Enggan terbangun meski hari sudah mulai berganti dan berganti. Enggan memekakkan mata walau guratan cahaya sudah menyilaukan. Aku juga enggan berpindah posisi. Tak ingin jika mimpi ini bergeser sedikit saja. Aku hanya ingin terlelap. Kalau boleh, aku ingin terus tidur seperti ini. Jika memang ini mimpi. Tolong ijinkan aku untuk terus memejamkan mata. Namun sungguh beruntungnya aku, ini semua bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan. Skenario Tuhan yang sungguh indah. Dia masih mengijinkanku untuk menikmati semuanya dalam kenyataan. Bukan dalam mimpi yang aku paksakan. Kau tahu? Aku mungkin berlebihan. Tapi aku memang enggan berpindah posisi jika ini memang mimpi. Takut, kalau-kalau kau ikut bergeser juga.
            Aku mengambil handphone yang sedari tadi aku letakkan di samping. Kembali aku tekan tombol turn on pada gambar music dan mengalunlah lagu All Of The Stars untuk yang kedua kali. Aku pikir ini akan menjadi lagu cinta kita berdua. Lagu yang sampai kapanpun akan tetap enak di dengar meski untuk bertahun-tahun kedepan. Meski esok akan menjadi lagu kuno yang bahkan sudah dilupakan penggemarnya. Namun, tenang saja Om Ed Sheeren, akan aku pastikan aku tidak akan melupakan lagumu. Bagaimanapun, lagu ini banyak ikut andil dalam perjalanan cintaku dengannya. Selamanya pasti akan aku ingat. Aku berjanji.
            Lagu itu terus saja mengalun dengan lembut. Masuk dari telingaku kemudian merasuki otakku. Berhasil membuat bayangan semu wajahmu. Meski semu, aku berani bertaruh itu mirip sekali dengan wajahmu. Ya! bagaimana tidak? aku hafal betul tabiatmu. Teramat hafal malah. Meski aku orang baru, aku yakin akan tetap menjadi orang yang menghafal semuanya setelah perempuan yang tempo hari kau katakan sebagai orang yang paling lucu, ibumu. Dan tentu dalam hati aku berharap, setelah itu semoga adalah aku. All Of The Stars masih setia beralun hingga menuju reff  yang kedua kali. Lagu ini bak menyihirku. Membuatku seperti terbang mengitari wajahmu. Menyelaminya. Memaksaku menatap mata itu. Mata yang penuh dengan kedamaian. Mata yang seperti mengajakku untuk tetap bersama. Senyum itu? Jangan tanyakan! Aku selalu tidak kuat meliaht kau tersenyum. Simpul yang indah dan menyembul penuh keikhlasan itu tidak hanya menyihir. Bahkan membuatku semakin lekat. Tak ingin lepas. Tak ingin jauh. Hanya ingin mendekat. Dekat sedekat mungkin. Menatapnya. Kemudian mengecupnya lembut. Ada banyak yang bisa aku temukan padamu. Semua rasa yang belum pernah ada didalam hidupku, kau lukis perlahan. Menorehkan warna-warna baru yang tak hanya indah namun sangat memanjakan mata. Ah iya, kau tahu semua ini hanya membuatku semakin rindu. Rindu. Rindu sekali. Bah!
            Beberapa menit berlalu. Aku masih berbaring. Kali ini aku biarkan lagu Thinking Out Loud yang mengalun bebas memenuhi isi ruangan yang tak lebih dari tiga meter ini. Kau ingat tidak? Ketika malam itu kau memintaku untuk menyanyikannya. Kau memaksaku hanya karena lagu ini begitu romantis. Ah iya, kau tentu ingat. Rasa-rasanya aku ingin tertawa sendiri jika teringat malam itu. Aku mati-matian menghafalkan lirik lagu yang sama sekali belum pernah aku dengar. Dan aku harus menyanyikannya untukmu. Tolong jangan tertawakan momen itu. Kau tidak tahu betapa aku sungguh berusaha menghafalkannya hanya untukmu. Hanya untuk mengirim voice note yang berdurasi sepersekian menit? Kau tentu tidak mengerti mengapa aku sungguh mau melakukannya. Akan aku beritahu. Kau sungguh ingin tahu? Aku kira kau juga sudah tahu jawabannya. Karena aku juga merasakan hal yang sama. Sama seperti yang diutarakan dalam lagu itu, “Well, me—I fall in love with you every single day.” Itu adalah jawaban yang paling tepat. Kau harus tahu itu.
            Lagu kedua cinta kita masih mengalun. Hampir pada puncaknya, entahlah, atmosfer apa yang merasukiku setiap aku mendengarkan lagu ini. Rasanya seperti menemukanmu kembali disini. Disampingku. Merasa seperti tak ada jarak yang membentang diantara kita. Seperti tak ada angin yang berhembus. Tak ada tembok besar yang menutup. Aku melihat semua ini lengang. Dan kau ada disini. Disampingku. Hey, ada sesuatu yang ingin aku utarakan. Hingga sekarang aku sungguh tidak ingin kita terberai karena apapun. Hingga nanti aku ingin kau tetap ada disampingku. Dan aku tetap ada di sampingmu. Menyenderkan kepalaku pada bahumu. Mengecup keningku sebagai tanda kau benar-benar akan selalu disini. Tak akan pergi. Sungguh, kau harus mengerti. Aku tak ingin kita berakhir sia-sia. Kelak, aku hanya ingin satu. Kau tetap jadi untukku, dan sebaliknya.
Akan aku biarkan lagu cinta kita itu tetap mengalun. Akan aku biarkan juga tanganku terlentang. Mataku menatap langit-langit kamar yang kosong. Kulitku menahan dingin malam yang menusuk. Dan pikiranku tertuju padamu. Bah! Sulit sekali mengendalikan ini. Rasa rinduku sungguh telah membuncah.

“And, darling, I will be loving you 'til we're 70
And, baby, my heart could still fall as hard at 23
And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Well, me—I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am

So honey now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
I'm thinking out loud
That maybe we found love right where we are”


Yours
21 January 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar