“It's
just another night
And I'm staring at the moon
I saw a shooting star
And thought of you
I sang a lullaby
By the waterside and knew
If you were here,
I'd sing to you
You're on the other side
As the skyline splits in two
I'm miles away from seeing you
I can see the stars
From America
I wonder, do you see them, too?
And I'm staring at the moon
I saw a shooting star
And thought of you
I sang a lullaby
By the waterside and knew
If you were here,
I'd sing to you
You're on the other side
As the skyline splits in two
I'm miles away from seeing you
I can see the stars
From America
I wonder, do you see them, too?
So
open your eyes and see
The way our horizons meet
And all of the lights will lead
Into the night with me
And I know these scars will bleed
But both of our hearts believe
All of these stars will guide us home”
The way our horizons meet
And all of the lights will lead
Into the night with me
And I know these scars will bleed
But both of our hearts believe
All of these stars will guide us home”
Aku matikan lagu yang
terakhir aku dengar, All Of The Stars.
Lagu ini hanya membuatku semakin memikirkanmu. Aku masih ingat ketika malam
itu. Percakapan manis kita memang terjadi hampir setiap waktu. Ah iya, aku
memang tidak bisa lepas tanpa mengetahui kabarmu sedetik saja. Mengapa? Karena memang
aku memikirkanmu setiap saat. Apakah salah? Tentu saja tidak, kan? Tolong jangan
menyalahkan perasaanku. Aku tidak tahu apa yang membuat perasaan ini tumbuh
subur. Aku juga tidak mengerti jenis pupuk apa yang aku gunakan. Entahlah,
rasanya benar-benar semakin tumbuh. Semakin hijau saja. Aku tidak sabar ingin
tahu sampai kapan perasaan ini tumbuh subur. Sampai kapan perasaan ini tidak
layu. Semoga saja, pupuk yang tak bernama itu masih aku simpan. Sehingga bisa
aku gunakan hingga kapan saja. Hingga kamu masih akan tetap ada disampingku.
Aku
baringkan tubuhku. Aku rentangkan tangan. Nyaman sekali. Kau tahu tidak? Saat seperti
inilah aku sering berfikir sesuatu. Hingga saat ini aku masih enggan percaya
kenapa aku bisa bersamamu. Hingga detik ini aku masih seperti bermimpi. Mimpi yang
indah. Enggan terbangun meski hari sudah mulai berganti dan berganti. Enggan memekakkan
mata walau guratan cahaya sudah menyilaukan. Aku juga enggan berpindah posisi. Tak
ingin jika mimpi ini bergeser sedikit saja. Aku hanya ingin terlelap. Kalau boleh,
aku ingin terus tidur seperti ini. Jika memang ini mimpi. Tolong ijinkan aku
untuk terus memejamkan mata. Namun sungguh beruntungnya aku, ini semua bukanlah
mimpi. Ini adalah kenyataan. Skenario Tuhan yang sungguh indah. Dia masih
mengijinkanku untuk menikmati semuanya dalam kenyataan. Bukan dalam mimpi yang
aku paksakan. Kau tahu? Aku mungkin berlebihan. Tapi aku memang enggan
berpindah posisi jika ini memang mimpi. Takut, kalau-kalau kau ikut bergeser
juga.
Aku
mengambil handphone yang sedari tadi aku letakkan di samping. Kembali aku tekan
tombol turn on pada gambar music dan mengalunlah lagu All Of The Stars untuk yang kedua kali.
Aku pikir ini akan menjadi lagu cinta kita berdua. Lagu yang sampai kapanpun
akan tetap enak di dengar meski untuk bertahun-tahun kedepan. Meski esok akan
menjadi lagu kuno yang bahkan sudah dilupakan penggemarnya. Namun, tenang saja
Om Ed Sheeren, akan aku pastikan aku
tidak akan melupakan lagumu. Bagaimanapun, lagu ini banyak ikut andil dalam
perjalanan cintaku dengannya. Selamanya pasti akan aku ingat. Aku berjanji.
Lagu
itu terus saja mengalun dengan lembut. Masuk dari telingaku kemudian merasuki
otakku. Berhasil membuat bayangan semu wajahmu. Meski semu, aku berani bertaruh
itu mirip sekali dengan wajahmu. Ya! bagaimana tidak? aku hafal betul tabiatmu.
Teramat hafal malah. Meski aku orang baru, aku yakin akan tetap menjadi orang
yang menghafal semuanya setelah perempuan yang tempo hari kau katakan sebagai orang
yang paling lucu, ibumu. Dan tentu dalam hati aku berharap, setelah itu semoga
adalah aku. All Of The Stars masih
setia beralun hingga menuju reff yang kedua kali. Lagu ini bak menyihirku. Membuatku
seperti terbang mengitari wajahmu. Menyelaminya. Memaksaku menatap mata itu. Mata
yang penuh dengan kedamaian. Mata yang seperti mengajakku untuk tetap bersama. Senyum
itu? Jangan tanyakan! Aku selalu tidak kuat meliaht kau tersenyum. Simpul yang
indah dan menyembul penuh keikhlasan itu tidak hanya menyihir. Bahkan membuatku
semakin lekat. Tak ingin lepas. Tak ingin jauh. Hanya ingin mendekat. Dekat
sedekat mungkin. Menatapnya. Kemudian mengecupnya lembut. Ada banyak yang bisa
aku temukan padamu. Semua rasa yang belum pernah ada didalam hidupku, kau lukis
perlahan. Menorehkan warna-warna baru yang tak hanya indah namun sangat
memanjakan mata. Ah iya, kau tahu semua ini hanya membuatku semakin rindu. Rindu.
Rindu sekali. Bah!
Beberapa
menit berlalu. Aku masih berbaring. Kali ini aku biarkan lagu Thinking Out Loud yang mengalun bebas
memenuhi isi ruangan yang tak lebih dari tiga meter ini. Kau ingat tidak? Ketika
malam itu kau memintaku untuk menyanyikannya. Kau memaksaku hanya karena lagu
ini begitu romantis. Ah iya, kau tentu ingat. Rasa-rasanya aku ingin tertawa
sendiri jika teringat malam itu. Aku mati-matian menghafalkan lirik lagu yang
sama sekali belum pernah aku dengar. Dan aku harus menyanyikannya untukmu. Tolong
jangan tertawakan momen itu. Kau tidak tahu betapa aku sungguh berusaha
menghafalkannya hanya untukmu. Hanya untuk mengirim voice note yang berdurasi sepersekian menit? Kau tentu tidak
mengerti mengapa aku sungguh mau melakukannya. Akan aku beritahu. Kau sungguh
ingin tahu? Aku kira kau juga sudah tahu jawabannya. Karena aku juga merasakan
hal yang sama. Sama seperti yang diutarakan dalam lagu itu, “Well, me—I fall in love with you every
single day.” Itu adalah jawaban yang paling tepat. Kau harus tahu itu.
Lagu
kedua cinta kita masih mengalun. Hampir pada puncaknya, entahlah, atmosfer apa
yang merasukiku setiap aku mendengarkan lagu ini. Rasanya seperti menemukanmu
kembali disini. Disampingku. Merasa seperti tak ada jarak yang membentang
diantara kita. Seperti tak ada angin yang berhembus. Tak ada tembok besar yang
menutup. Aku melihat semua ini lengang. Dan kau ada disini. Disampingku. Hey,
ada sesuatu yang ingin aku utarakan. Hingga sekarang aku sungguh tidak ingin
kita terberai karena apapun. Hingga nanti aku ingin kau tetap ada disampingku. Dan
aku tetap ada di sampingmu. Menyenderkan kepalaku pada bahumu. Mengecup keningku
sebagai tanda kau benar-benar akan selalu disini. Tak akan pergi. Sungguh, kau
harus mengerti. Aku tak ingin kita berakhir sia-sia. Kelak, aku hanya ingin
satu. Kau tetap jadi untukku, dan sebaliknya.
Akan aku biarkan lagu
cinta kita itu tetap mengalun. Akan aku biarkan juga tanganku terlentang. Mataku
menatap langit-langit kamar yang kosong. Kulitku menahan dingin malam yang
menusuk. Dan pikiranku tertuju padamu. Bah! Sulit sekali mengendalikan ini. Rasa
rinduku sungguh telah membuncah.
“And,
darling, I will be loving you 'til we're 70
And, baby, my heart could still fall as hard at 23
And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Well, me—I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am
So honey now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
I'm thinking out loud
That maybe we found love right where we are”
And, baby, my heart could still fall as hard at 23
And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Well, me—I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am
So honey now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
I'm thinking out loud
That maybe we found love right where we are”
Yours
21 January 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar