Setelah kejadian malam itu, aku tak henti-hentinya
memaki diriku sendiri. Apa yang sudah aku lakukan padamu? Dengan mudahnya aku
melukaimu dengan bilas perkataan yang tak pantas bukan? Aku sudah menghujam
hatimu dengan lisanku sendiri. Ah iya, aku sungguh tidak tahu diri. Kini, aku
sungguh tahu siapa yang mendapat peran antagonis dalam kisah kita. Orang itu
adalah aku. Kau tahu kenapa? Karena akulah wanita yang banyak menuntutmu ini
dan itu. Akulah wanita yang tidak tahu terimakasih. Wanita yang hanya mampu
melihatmu dari segi negatif. Yang masih enggan mengetahui semua usahamu. Yang
masih merasa bodoh amat dengan semua yang terjadi. Dia adalah aku. Ada yang
perlu kau garis bawahi disini. Bahwa aku tak sebaik di pikiranmu. Aku menyadari
betapa aku benar-benar belum bisa melihat usahamu yang gigih itu untukku. Aku
hanya seperti bos yang ongkang-ongkang kaki menerima hasil tanpa ingin
mengetahui prosesnya. Aku masih buruk. Masih jelek. Masih tidak bisa seperti
jutaan manusia sempurna diluar sana.
Meski begitu, aku tetap teramat sangat bersyukur dalam
keadaan ini karena adanya kamu. Adanya kamu adalah gelap pekat yang tak ingin
aku selesaikan dengan mentari. Adanya kamu adalah udara dingin yang enggan aku
tutupi dengan bara api. Aku hanya ingin kau seperti jalan lurus yang tak
berpenghuni. Yang tak ingin aku temukan ujungnya. Aku ingin hanya akulah yang
berjalan. Hanya akulah yang tetap akan menari bebas. Hanya akulah yang kelak
tetap tinggal. Tak ingin beranjak sekecil apapun langkah yang akan tercipta.
Kau adalah segalanya. Kau adalah sebuah asa yang aku perjuangkan. Kau adalah
sebuah doa yang aku kayuh setiap saat agar sampai hingga tujuan. Asal kau tahu,
aku sama sepertimu. Aku juga ingin menjadi ter-segalanya bagimu. Jadi yang
terbaik. Jadi yang ternyaman, terindah, tersabar, hingga termenyebalkan. Aku
tidak peduli. Akan ada berapa “ter” yang tercipta dalam kamusku. Aku juga tidak
peduli tentang peran apa yang akan aku perankan setelah peran antagonis ini.
Percayalah, aku belum sebaik yang engkau kira. Kau tentu tahu, aku masih jauh
dari kata sempurna. Apalagi untukmu. Buktinya, aku masih melukaimu dengan
perkataanku ini. Dan kau tahu, apa yang kini meracuni otakku? Sungguh rasa
bersalah yang teramat besar. Mengembang tak terarah. Meski melayang tetap tak
mau lepas. Seperti itu. Dan kini aku mau kau benar-benar memaafkan kesalahanku.
Meskipun mulut itu tak pernah berkata ini adalah salahku. Tapi maaf, aku tetap
menyadari bahwa akulah pengacau dalam kisah ini. Jadi, maafkan aku.
Dan kau
tahu, untuk kesekian kali kau sudah membuatku bekerja menghasilkan air mata
lagi. Kau sudah membuat mata ini berlinang. Memerah. Kau tahu apa alasannya?
Karena aku masih belum bisa menghargaimu. Aku kini tahu, betapa gigih usahamu
untukku. Aku juga tahu betapa kamu sungguh ingin menjadi yang terbaik untukku.
Tak peduli ini akan berhasil atau gagal, kau sudah berusaha cukup keras. Dan
aku bisa memastikan, kau takkan pernah gagal. Kau akan menang. Kau akan berdiri
diujung. Menggandeng tanganku, kemudian berjalan bersama. Berdua, senyum itu
tersimpul indah. Berdua, melangkah dengan yakin bahwa kau adalah untukku. Dan
aku akan tetap menjadi milikmu. Selama kau menginginkannya. Semoga untuk
seterusnya.
Kini, aku
ingin duduk berdua denganmu. Berdampingan. Menggenggam jemarimu dengan erat.
Menyandarkan kepalaku di tempat yang paling nyaman, pundakmu. Aku ingin
melakukannya. Sama sepertimu yang tak pernah keberatan dengan kelakuan manjaku.
Dengan egoku. Dengan segalanya yang masih buruk. Tentu saja yang menempel dalam
diriku. Aku hanya ingin berdua. Ingin membisikkan padamu bahwa kau sudah
menjadi yang terbaik. Setidaknya untuk saat ini. Sungguh, kau harus tahu semua
ini bukan hanya tentang aku yang masih buruk, tentang perjalanan kisah kita
yang sudah mulai berliku, tetapi juga tentang kamu yang sudah menjadi orang
terbaik. Yang datang kepadaku. Merangkul. Kamu adalah tentang apa yang aku
rasakan. Cinta, sayang, dan perhatian. Serta kenyamanan sebagai rumah. Lantas
apa yang masih kau katakan bahwa kau masih “buruk”, ha? Tentang sikapmu? Ah ya,
itu adalah tugasku. Kita bisa berjalan bersama. Membehani kerusakan kita
masing-masing. Kau memperbaikiku. Aku memperbaikimu. Bukankah itu menyenangkan?
Selalu. Selalu berdua. Itu yang aku mau. Kau juga yang berhak aku bahagiakan
kelak. Kau juga yang ingin aku perjuangkan. Aku sungguh lelah jatuh pada hati
yang salah. Aku lelah memapah hati yang terus menerus patah. Aku ingin kamu.
Sungguh aku tak ingin yang lain. Aku tak ingin memapah hati lagi. Aku hanya
ingin membawa hati ini terbang jauh ke angkasa. Membawanya ke singgasana milik
orang yang tepat. Dan itu adalah kamu. Singgasana yang Tuhan sediakan untukku.
Nah,
sekarang aku akan mengakui sesuatu. Maafkan aku yang buta dan tidak melihat
bahwa sebenarnya kau berlari mati-matian membawakanku mentari. Maafkan aku juga
karena aku sudah tuli. Tidak mau mendengarkan seruan indah yang selalu berusaha
kau bisikkan. Sekali lagi maafkan aku juga. Karena aku sudah bisu. Bisu karena sama
sekali tak ingin bersuara ketika kau memberiku bulan yang indah. Tapi kini aku
sungguh mengerti. Kau melakukannya karena kau ingin aku tetap “ada”. Aku juga
demikian. Ingin tetap kau disini. Tidak melangkah. Tidak berubah. Tidak memberi celah
bagi orang lain untuk masuk. Hanya kau dan aku. Selalu. Aku ingin membuang
waktuku bersamamu. Bukan bersama orang lain. Karena kau sudah teramat baik. Kau
berhak mendapatkan hasilnya. Kau pantas berdiri gagah denganku. Wanita yang
masih perlu diperbaiki olehmu. Setidaknya kau sudah lakukan dengan baik semua
tugasmu. Teramat baik. Jadi, kini biarkanlah aku yang bekerja. Bekerja untuk
membuatku sejajar denganmu. Agar kau mau tetap mendampingiku. Seburuk apapun
aku.
Still trying
23 January 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar