Cari Blog Ini

Rabu, 21 Januari 2015

Untukmu


     Tolong katakan. Apakah aku sudah menjadi yang terbaik untukmu? Karena jika kau tau, aku selalu ingin menjadi baik. Untukmu. Aku hanya ingin selalu membuatmu nyaman jika bersama. Selalu membuatmu merasa rindu jika jarak bagai tembok penghalang. Karena kita sama sama tau, kita selalu punya masalah tentang rindu bukan? Ya, sama sama tidak bisa mengatasi. Tak mau hilang, tak mau pergi. Kenyataan yang indah nan aneh kurasa. Bagaimana tidak. Saat kita teramat dekat dalam pandangan, dekat dalam jangkauan. Saat aku bisa benar benar menyentuhmu. Melihat tawa menyenangkan itu. Masih saja ada rindu yang dengan senang hati selalu hadir. Menguat. Hingga saat jarak membentang lagi. Hal bernama rindu ini malah memberontak sejadi-jadinya. Tak ingin menjauh. Sepertinya rinduku ini tidak bisa jauh-jauh dari rumahnya. Tidak bisa jauh dari kamu.
     Jadi tolong katakan. Apakah aku sudah jadi yang paling baik untukmu? sungguh. Aku selalu mencoba membuat senyummu tersimpul. Membuat tawamu mengembang. Kau tau? Aku selalu ingin bersamamu. Aku ingin kau selalu bahagia, bersamaku. Melihatku. Entah akan berakhir baik atau buruk usaha ini, tapi setidaknya. Aku melakukan ini karena ingin melihatmu nyaman karena memiliki aku. Aku ingin menghapus kekurangan ini, sungguh. Aku akan dengan senang hati melakukannya. Asal senyummu selalu ada, menyimpul indah seperti biasa. Sungguh.
     Aku tau. Setiap individu memiliki sisi buruk, kekurangan. Selalu bukan? Tapi apa salahnya jika aku ingin menjadi yang terbaik? Toh segala upaya ini dilakukan buatmu. Aku tidak ingin kau pergi. Tak ingin kau menghilang. Jangan sampai. Dan kamu tau? Kamu orang kedua yang ingin aku perjuangkan dan bahagiakan lewat hati. Setelah ibuku tentu. Sungguh aku tidak ingin matamu bekerja membuat airmata, lantas membiarkannya jatuh. Sia-sia. Aku tidak ingin sikapku membuatmu tidak nyaman. Apalagi membuat matamu berlinang. Jangan sampai, aku sungguh berusaha. 
     Nah sialnya, aku belum bisa melakukanya. Sampai saat ini. Maaf, aku sungguh minta maaf. Sikapku bebalku masih membuatmu protes. Kamu tau? Sesuatu yang kecil ini masih aku perhitungkan. Masih aku catat. Aku ingat penuh. Sudah aku bilang, aku ingin melihatmu nyaman. Aku tidak ingin ada gangguan kecil dari sikapku membuat tawamu pergi. Tak ingin melihatnya hilang. Dan aku selalu berusaha dengan baik. Berusaha diam, memperhatikan. Sial. Kenapa sikapku tak kunjung berubah? Tak kunjung membaik?
     Iya aku tau. Aku tipe orang keras kepala. Enggan dinasehati, menolak. Iya aku sungguh ingin merubahnya. Kenapa dihadapanmu sikap bebalku ini masih terlihat? Aku ingin menjadi tempatmu bercerita. Ingin menerima segala nasihatmu. Ingin melihatmu tersenyum puas saat nasihatnya di dengar. Tapi egoku masih sibuk bekerja menghalangi. Aku sungguh menghadapi tembok besar dalam situasi ini bukan? Haha. Maafkan aku belum bisa menjadi paling baik. Aku sungguh akan terus berusaha agar kau tetap tinggal. Berusaha agar kita bisa saling menatap tanpa bosan. Disini. Sungguh maafkan aku....  

     Malam ini aku mataku tidak bisa terpejam. Enggan menutup. Bodohnya aku kenapa bisa terkalahkan ego. Terkalahkan sifat sendiri. Sial. Aku masih belum bisa membuatmu bahagia secara utuh bukan? Aku ingin sekali melakukannya. Begitu ingin kau menerima apa yang seharusnya diterima. Kebahagiaan. Aku ingin melihat setiap jengkal raut bahagia itu. Setidaknya aku sudah melakukan apa yang bisa. Menyuruhmu istirahat. Enggan penyakit itu datang. Biarkan saja aku terjaga sendiri. Ingin sebenarnya melihatmu tertidur pulas, disini. Di pundakku. Kau senang melakukannya bukan? Begitu juga aku. Begitu juga dengan aku yang selalu berusaha. Untukmu...


"Work In Progress"
   21 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar