Pernah kau berpikir akan ada
masa-masa buruk di antara kita? Saat mata ini benar-benar tak bisa menjangkaumu,
mulutku yang tak bisa berbicara langsung, menyentuh apalagi. Saat jarak kembali
menjadi tembok besar menghalangi jarak pandangku dengan sempurna. Apa yang bisa
kulakukan? Katakanlah. Kau tau aku belum bisa mengatasi ini. Belum bisa jauh
dari dekap hangatmu. Dan kau harus tau, setiap saat masalah ini selalu berhasil
menembus otak, selalu menempati satu ruang kosong di pikiranku. Setiap pagi,
entah kenapa aku selalu memikirkan ini. Memikirkan jalan keluar terbaik. Agar
kau tetap bersamaku, tak peduli akan ada atau tidak ada di samping. Tapi
bagaimana?
Aku membuka tirai, membiarkan
cahaya pagi menerobos kaca jendela. Cahaya melesat menyinari setengah bagian
kamar. Aku bangkit dari tempat tidur, beranjak keluar. Biasanya banyak
orang-orang giat berlari, jogging,
berkeringat. Biasa, rutinitas di Minggu pagi. Selalu ada yang memanfaatkanya
untuk olahraga. Memaksa badan mereka bergerak teratur. Aku melihat beberapa
pasangan berlari bersisian, bercanda.
Dasar pecinta otot gadungan! Haha. Aku menyengir, kembali melihat
sekeliling. Ada beberapa anak kecil yang berlari kali ini. Tunggu, ternyata
mereka sedang berlomba. Memaksa kedua kaki untuk bekerja cepat melesat. Berlomba
meninggalkan satu sama lain. Setelah mencapai titik finish yang ditentukan, si pemenang tertawa bangga. Sambil gagah
menepuk-nepuk dadanya sendiri, mengoceh tak karuan. Seperti pemenang lomba
jarak pendek profesional. Mengejek teman-teman yang kalah. Tak peduli nafasnya
hampir putus sejak tadi. Anak yang lain hanya ngos-ngosan mengiyakan. Tentu
saja, setelahnya mereka tertawa bersama. Tapi anak kecil selalu begitu bukan?
Mereka melakukan apapun sambil tertawa lepas seolah tidak ada beban, tidak ada
yang perlu dikhawatirkan. Bukan kan itu masa-masa indah? Tidak ada masalah yang
berarti, tidak ada masalah yang sempurna mengganggu otak mereka. Tinggal waktu
saja yang selalu menjadi sosok pengubah. Hei, tapi apakah kalian ingin seperti
itu selamanya? Tertawa lepas, banyak teman, tak peduli sakit asalkan senang! Sungguh,
kalian tak ingin bukan? Nah berarti waktu memang punya tujuan. Punya sisi baik,
dan menjadi guru yang baik. Bukankah semakin besar umur akan semakin besar
problematika? Selalu akan ada masalah yang tak bisa lepas dari pikiran.
Saat ini, aku juga begitu.
Memikirkan bagaimana ini bisa terlewati. Bukan! Bagaimana kita bisa melewati
ini berdua. Karena sungguh, aku tak ingin ada yang tertinggal. Aku tak ingin
menjadi tokoh yang meninggalkan ataupun ditinggalkan. Bukankah sudah jelas? Aku
akan tetap berdiri tegak di saat-saat terbaik itu muncul. Kamu? Tentu saja juga
akan berdiri di sampingku, tersenyum bangga. Kamu selalu menjadi sosok yang aku
inginkan. Akan tetap menjadi sosok hebat saat aku terjatuh. Nah terjatuh. Apa kau
akan selalu disampingku saat aku tersungkur? Apa kau akan tetap menegakkan
kepalaku saat aku tak berdaya tertunduk? Dan apa tanganmu akan tetap memegang
erat tanganku saat aku tak bisa beranjak? Tolong katakan kamu bisa melakukan
itu semua. Sungguh, aku ingin kau menjadi penenang. Dan aku selalu tau dan
yakin, bahwa kaulah orangnya! Kau yang akan menjadikan aku gagah, kau yang akan
selalu membuatku terus menerjang hambatan tanpa ampun, kau yang pasti akan
mengubahku menjadi baik. Dan pada akhirnya, saat-saat terbaik itu bisa kita
wujudkan. Bisakah?
Aku kembali tersenyum. Menatap sekeliling
datar, memikirkan sesuatu. Hei bukankah dulu aku sangat keukeuh tentang opini nothing
last forever? Bahwa sesuatu, seseorang, apapun itu tidak akan bisa
berlangsung selamanya. Tidak akan selamanya bisa ada disamping, tidak akan bisa
benar-benar kita rasakan selalu, tidak ada hal yang bisa kita lihat seutuhnya. Apapun
itu, sekuat apapun kita ingin mempertahankannya. Akan hilang, akan pergi. Nah kalian
tinggal pilih, dengan cara apa sesuatu itu akan pergi. Kalian akan
melepaskannya dengan lembut, menerima. Atau ingin mengilangkannya dengan
memaksa. Yang bisa menyakiti diri kalian sendiri malah. Nah kalian ingin tau
kenapa aku stagnant dengan opini ini?
Karena selalu, waktu bisa merubah segalanya. Bekerja tanpa diminta, tak bisa
berhenti sekalipun seluruh dunia bersatu menentang. Bahkan, dilambatkan saja
tidak akan bisa. Sungguh, sebenci apapun kita dengan perubahan ini. Kita hanya
bisa menerima. Tidak peduli dengan cara apa penerimaan itu hadir. Terserah kalian
jika kalian akan menerima dengan tertunduk, menangis. Dengan memaki, menghujam.
Atau dengan tatapan teduh, mengikhlaskan. Nah apakah waktu akan merubah kita? Apakah
jika benar bisa merubah, akankah kita akan kembali bertemu di lintasan yang
sejalur, bersisian? Bisa iya, aku harap. Namun bisa tidak. Akan selalu ada
kemungkinan terburuk yang muncul.
Nah, apapun yang bisa waktu
lakukan. Setidaknya, kita bisa terus berusaha maju kedepan. Bersisian untuk
sekarang. Selamanya? Kau tahu aku tetap berdoa untuk yang satu ini. Apakah akan
berlangsung selamanya? Entahlah. Setidaknya kita sudah sama-sama berusaha ingin
mewujudkannya. Ingin merubah janji-janji masa depan tidak hanya sekedar bualan
janji. Tapi entahlah, jika kita terpisahkan karena ulah jarak dan waktu. Apakah
kita tetap bisa mengusahakan janji itu? Semoga. Aku tidak akan berhenti sebelum
diminta, apakah kau akan memintaku? Aku tidak peduli akan bagaimana jawabanmu
sekarang, sungguh aku tidak peduli. Karena sejak dulu aku sudah tau, waktu bisa
seenaknya merubah apapun. Aku takut? Tentu. Semua kepergian adalah menyakitkan.
Memberi bekas baru, tergores sempurna di hati. Tinggal bagaimana kita memaknai
itu semua. Nah apakah kita akan benar-benar menyatu kembali saat jarak dan
waktu memisahkan? Aku yakin bisa. Aku yakin.
Aku beranjak. Melangkah pelan ke
lantai 2 sambil membawa teh panas hasil seduhan. Kau tau? Aku tipe orang dengan
pemikiran dalam. Sekecil apapun masalah itu selalu terngiang di kepala, selalu
mendobrak paksa. Bukan memperebutkan tempat kosong, tapi bersatu mengusir semua
hal baik. Nah jadi benar, over thinking
kills your happiness. Bahwa pemikiran yang berebih mendalam akan mengusir
kebahagiaan. Tapi bagaimana lagi, aku memang begitu. Apapun sesuatu yang pergi
akan selalu bekerja membebani. Tidak bisa ku bayangkan jika kau pergi, jarak
saja tidak bisa aku kalahkan dengan sekali pukul. Apalagi waktu?
Aku tau kau juga akan tetap
berjuang sepertiku bukan? Entah apa yang akan kau perjuangkan. Aku selalu
berharap itu tetap aku. Aku yang akan dengan mati-matian kau perjuangkan. Dan aku
juga akan dengan senang hati melakukannya. Kita hanya bisa berusaha berjalan
kedepan. Persetan waktu akan mengubah apapun, tak peduli jika akan membalikan
seluruh kebahagiaanku. Aku akan tetap berdiri saat kau berhenti. Tersungkur? Tidak.
Aku selalu akan berusaha menerima. Akan selalu berusaha mengerti. Dan akan
selalu berusaha memahami seutuhnya. Karena waktu adalah guru yang baik, aku
akan menjadi pembelajar yang baik. Tapi kau tahu, aku tidak akan bisa melakukan
apapun tanpamu.
Dan, satu beberapa yang harus
dilakukan. Menebalkan kepercayaan, tetap berpegangan, jangan lepas. Aku sungguh
akan tetap berusaha tetap di jalan yang sama sepertimu. Jadi bisakah kau tetap
menguatkan? Sampai salah satu dari kita mencapai batas. Aku tidak akan
memintamu berhenti, sungguh. Tapi bisa apa aku jika waktu dengan tegas meminta
salah satu dari kita berhenti? Melepaskan. Aku tidak ingin, sungguh kau tau
kalau aku tidak ingin begitu bukan? Tapi tenang, asalkan waktu dengan serius
memisahkan, aku akan dengan mati-matian menyeretmu kembali. Hingga tangan kita
benar-benar erat menyatu. Nanti.
Lived our dreams and take the risks
1 Maret 2015
