Kau
pernah berkata, tidak ingin membuatku bekerja menghasilkan airmata. Tidak ingin
melihat air mataku berlinang, bukan? Namun, kau sungguh kini membuat air mataku
berlinang. Malam yang gelap. Kau memutuskan untuk tidur lebih dahulu. Aku
mengiyakan. Kau mungkin lelah setelah pertengkaran hebat kita sebelumnya. Dan
aku masih memutuskan untuk tetap terjaga. Semalaman aku enggan tidur, sama
sepertimu waktu itu. Terus berkutat dengan air mata yang tidak mau berhenti.
Kau sebenarnya tidak membuatku menangis. Tapi kau adalah alasan kenapa aku
menangis. Aku sungguh menjadi wanita yang tidak tahu diri. Untuk kesekian kali, aku sungguh menyakitimu sangat dalam. Aku jahat sekali. Aku mengerti
bagaimana perasaanmu. Sakit sekali, bukan? Itu adalah alasan mengapa aku malam
ini sungguh tidak bisa mengendalikan air mata. Aku menangis karena aku sadar,
sudah seberapa dalam aku menyakiti perasaanmu, wahai komandan? Kau boleh marah
kepadaku. Jengkel, kesal, atau sebagainya. Aku akan menerimanya. Bukankah itu
sudah menjadi konsekuensi karena aku menyakitimu? Aku akan menerimanya. Jika
waktu bisa kuputar kembali, aku juga ingin menjadi pribadi yang lebih baik
lagi. Tentu saja untukmu. Untuk kita.
Seiring
kita berjalan bersama, semakin aku tahu jalan kita sudah semakin berliku. Sudah
semakin menemui tikungan. Kau tahu, mungkin kini kau sudah tahu bagaimana
sifatku. Aku sungguh belum sebaik yang kau pikirkan. Jangan terlalu
mengagungkanku, komandan. Aku belum siap dicap sebagai orang terbaik. Karena
dengan demikian, aku harus membuktikan kepadamu bahwa aku memang sudah baik.
Namun, kenyataan yang aku alami, tidak demikian. Aku masih berusaha. Aku masih
dalam proses. Kau tahu, selama ini sungguh akulah pengacaunya, bukan? Sungguh
akulah yang paling sering membesarkan ego dan tidak mau mengalah. Itu aku
komandan, bukan kau! Kau kali ini sungguh tidak bisa menolak argumen yang jelas
jelas nyata. Mau kau bilang apapun, bagiku akulah yang selalu menjadi pengacau.
Bah! Sungguh susah menjadi orang baik bagimu, komandan. Aku hanya ingin
membuatmu nyaman bersamamku. Berdua. Tapi, aku justru melukaimu. Bodoh sekali,
bukan?
Komandan,
malam ini sejujurnya aku sangat ingin menemuimu. Kembali memeluk tubuhmu yang
gagah perkasa itu. Tidak ingin aku lepaskan. Aku ingin membisikkan berjuta kata
maaf hingga kau benar-benar memaafkanku. Hingga kau sudah kembali seperti
semula. Ah, kau benar mungkin kata maaf tidak sebanding dengan apa yang sudah
aku lakukan kepadamu. Namun, kau harus melihat betapa hatiku sungguh terkoyak
hebat. Sakit sekali rasanya. Mungkin, sakit yang aku alami belum sesakit kau.
Tapi aku sungguh menyesal komandan. Aku hanya ingin menjadi orang terbaik. Sama
seperti sebelumnya. Namun entahlah, aku belum bisa mengendalikan emosiku. Belum
bisa membuatmu bahagia secata utuh. Maafkan aku, komandan.
Komandan,
katakan kepadaku. Bagaimana agar kau bahagia bersamaku? Katakan! Kau tau aku
sudah cukup gila dengan semua ini. Rasanya sungguh sakit. Sakit sekali. Aku
memang terlahir bodoh. Bodoh sekali untuk memahami betapa sesungguhnya kau mati-matian
berjuang untukku. Maafkan aku. Ternyata hingga sejauh ini aku masih buta. Aku
pikir sejauh ini aku sudah cukup mengetahui siapa kamu. Mengetahui semua keinginanmu,
bersamaku. Tapi ternyata semua itu salah. Aku masih benar-benar buta. Bahkan
selalu merasa kurang. Padahal, kau ada bersamaku saja itu sudah cukup. Jadi,
mulai sekarang aku akan membuka mataku lebar-lebar. Akan melihatmu agar kau tak
lagi merasa kurang. Merasa bersalah. Sesungguhnya semua ini adalah karnaku. Sungguh,
karna aku.
Kali ini aku sungguh ingin bicara serius padamu. Aku
tidak ingin membuatmu sakit seperti sebelumnya. Aku tidak ingin melukai hati
yang sudah kau berikan kepadaku. Jangan sampai. Aku juga tidak ingin merasa kau
selalu kurang. Karena sesungguhnya kau sudah cukup, komandan. Cukup. Aku tidak
akan kembali menuntutmu dengan manja. Aku juga akan lebih menjaga cara
bicaraku. Sudah ku katakan bukan, bahwa aku ingin membuktikan pada Ibumu,
kalau anak lelakinya jatuh pada wanita yang tepat. Aku sungguh berjanji dan berbicara
serius. Aku ingin menjadi wanita yang berwibawa, untukmu. Sama seperti kau
kelak. Menjadi duta besar. Berjanji akan membawaku keliling dunia. Ah! Aku
sungguh menginginkan hal itu terjadi, komandan.
Nah, kali ini aku benar-beanr minta maaf kepadamu.
Maafkan aku atas hari kemarin. Mungkin hari kemarin adalah hari berat untuk
kita berdua. Mungkin kisah kita sedang diuji Tuhan. Atau mungkin juga Tuhan
ingin tahu, sejauh mana kita bertahan berdua. Jadi, sekarang ijinkan aku untuk
menjadi lebih baik. Beri aku waktu untuk memperbaiki segalanya. Karena aku
ingin mewujudkan mimpi kita. Mewujudkan angan yang masih semu itu. Aku sungguh
berjanji. Jadi, sebagai “komandan” tolong tuntun aku. Aku masih buruk. Perlu
diperbaiki. Sebagi calon pendamping komandan, sudah seharusmya aku mempunyai
tabiat yang baik, bukan? Nah, jangan pernah lelah untuk menuntunku. Sungguh,
aku mau agar tanganku digandeng dan dituntun ke arah yang lebih baik. Aku juga
ingin hanya kamu. Hanya kita. Berdua. Hingga nanti, usahaku sudah berbuah
manis. Hingga nanti angan semu kita sudah menjadi kenyataan. Aku tetap akan
menunggu waktu itu. Waktu terbaik kita.
Sorry for all I've done...
Yours
6 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar