Hari ini, hujan tidak bosan
bosannya mengguyur kota. Sudah sejak siang tadi rintik hujan giat berjatuhan.
Menyisahkan bising suara ketika mengenai genting, berisik mendengarnya. Satu
dua anak kecil terlihat sedang asyik bermain, bermandikan air hujan. Sibuk
berlari-lari, tertawa lepas. Terkadang mendongakkan kepala keatas dengan gagah,
bersyukur sudah dikasih hujan.Tak peduli tubuh kecil mereka basah kuyup, tak
peduli besok paginya akan terbaring menggigil. Demam. Peduli apa anak sekecil
mereka tentang hukum sebab-akibat? Yang penting mereka bahagia.Tak terbebani
dengan masalah hari esok, lusa. Hanya berpikir soal present, peduli apa tentang future? Masa bodoh. Otak mereka belum
bekerja sejauh itu. Jika bisa, tentu saja akan jauh dari harapan. Coba tanyakan
mereka tentang cita-cita, paling mentok jawabannya superhero lah, astronot lah.
Itu itu saja.
Lupakan. Aku kembali mendongak ke
atas, mataku sempurna tertuju ke langit. Entah menatap apa, hanya langit
kosong. Gugusan bintang yang biasanya tersebar menawan tertutup awan gelap.
Sepertinya gumpalan awan malam ini enggan menampakkan harta karun yang masih tersisa. Lantas memilih jalan teraman dengan
menggelapkan tubuhnya dan mengirim sang hujan agar mengurangi jarak pandang.
Perlindungan sempurna. Dan benar saja, hujan malam ini bertambah lebat, satu
dua kali lintasan cahaya kilat terlihat mengakar,
disusul gema yang menggelegar. Membuat lamunanku terpecah, sial. Hei, kau tahu
apa yang aku lamunkan? Masa depan. Masa depan indah saat tangan kita dengan
sempurna menyatu. Duh!
Memang benar, akhir-akhir ini
kamu sering sekali muncul di pikiranku. Selalu hadir menjadi peran utama. Atau
lebih tepatnya aku yang memaksa pikiran ini untuk mendatangkanmu, aku yang
selalu menjadikanmu sosok utama di dalamnya. Konyol? Masa bodoh. Toh aku menikmati
saat saat yang menyenangkan ini. Saat aku bisa menghilangkan semua
batasan-batasan yang mengikat, yang menjadi penghalang. Aku bisa menembus itu
semua. Seperti saat hujan seperti ini, coba bayangkan. Saat kita benar-benar
bisa berjalan berdua, bersisian. Saat tanganmu dengan manja meraih tanganku.
Saat aku dengan jelas melihat senyum mu, menyimpul indah seperti biasanya, aduhai! Senyum itu. Sungguh aku ingin melihatnya.
Sungguh aku ingin mengembangkan payung untuk kita berdua. Dan menggenggam erat
tanganmu, terus berjalan menembus hujan.
Sungguh. Lamunan ini bekerja
sangat baik membuatku seperti orang gila. Lihatlah!
Aku senyam-senyum dan tawaku mengembang tanpa alasan. Cukup untuk membuat seorang ibu
khawatir dengan anaknya bukan? Haha. Tapi tenang. Ibukku berbeda, dia selalu
tahu apa yang sedang aku pikirkan. Selalu tahu apa yang muncul di benakku. Dan
seperti sekarang ini, lihat. Justru dia malah ikut-ikutan tersenyum, lantas
menggodaku. Jahil berkata “hayo
ngelamunin cewek kan?” . Nah apa aku bilang, entah darimana asal-muasalnya dia
selalu tahu. Mungkin akan selalu seperti itu. Aku lalu hanya tersenyum,
cengengesan.
Hei, coba bayangan. Jika esok,
saat sang mentari menyembul indah di dingin pagi. Saat burung memainkan lagu wajib,
berkicau riang. Dan yang di nantikan, saat aku sempurna memandang wajahmu tepat
saat terbangun. Melihatmu paras indahmu,
senyum mu apalagi. Jangan tanya! Aku selalu
betah melihatnya, aku selalu begitu bukan? Dan sama halnya jika kita
benar-benar bersama besok. Aku akan menimpali senyummu, dengan senyum terindah
yang aku miliki. Walau tak seindah kamu. Dan aku akan memelukmu dengan hangat. Membiarkanmu
sempurna terdekap. Sungguh, tak ingin tangan ini melepaskan. Tak akan.
Saat ini langit sudah kehabisan amunisi untuk menembakkan hujan, lantas
menghilangkannya dengan perlahan. Bertahap, langit mulai nampak cerah. Dan perlahan,
awan hitam tersingkir. Mengaku kalah, dikalahkan oleh dewi bulan yang bulat
sempurna indahnya. Atau, dikalahkan perasaan ini, perasaan bahagia. Nah, bisa
jadi langit sedang berbaik hati bukan? Ingin menyamakan perasaan langit dengan
perasaanku. Bahagia. Aku menyengir,
kembali mendongak ke atas. Kali ini mataku terfokus menatap bulan. Apakah ke
depan kita masih bisa menatap bulan yang sama? Maksudku, bersisian. Tak ada
pembatas, penghalang, tembok, atau apalah itu. Semoga.
Hei, kau bisa memasangkan aku
dasi bukan? Haha. Aku tak henti-hentinya membayangkan saat itu. Saat tanganmu
terampil memasangkan dasi, saat kita sarapan berdua. Oh berdua? Tentu tidak,
jangan lupakan Cleopatra di samping kita. Ingat? Haha. Aku sungguh tak sabar,
ingin rasanya waktu ini melesat. Atau jika bisa, aku lesatkan sekalian! Biar kita
bisa hadir di waktu yang tepat, waktu terbaik.
Dan aku ingin mengatakan sesuatu, kau sungguh
sudah melengkapiku. Kau sungguh sudah melakukan apapun. Nah apa salahnya aku
memilihmu? Toh cinta ini sudah mengembang besar, 80%. Nilai sempurna untuk
cinta seorang manusia. Dan semoga aku tak goyah, semoga aku bisa benar-benar
mewujudkannya. Berdua.
Fad,
5 Februari 2015
Fad,
5 Februari 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar