Cari Blog Ini

Kamis, 05 Februari 2015

Bayangan Sempurna





 Hari ini, hujan tidak bosan bosannya mengguyur kota. Sudah sejak siang tadi rintik hujan giat berjatuhan. Menyisahkan bising suara ketika mengenai genting, berisik mendengarnya. Satu dua anak kecil terlihat sedang asyik bermain, bermandikan air hujan. Sibuk berlari-lari, tertawa lepas. Terkadang mendongakkan kepala keatas dengan gagah, bersyukur sudah dikasih hujan.Tak peduli tubuh kecil mereka basah kuyup, tak peduli besok paginya akan terbaring menggigil. Demam. Peduli apa anak sekecil mereka tentang hukum sebab-akibat? Yang penting mereka bahagia.Tak terbebani dengan masalah hari esok, lusa. Hanya berpikir soal present, peduli apa tentang  future? Masa bodoh. Otak mereka belum bekerja sejauh itu. Jika bisa, tentu saja akan jauh dari harapan. Coba tanyakan mereka tentang cita-cita, paling mentok jawabannya superhero lah, astronot lah. Itu itu saja.
Lupakan. Aku kembali mendongak ke atas, mataku sempurna tertuju ke langit. Entah menatap apa, hanya langit kosong. Gugusan bintang yang biasanya tersebar menawan tertutup awan gelap. Sepertinya gumpalan awan malam ini enggan menampakkan harta karun yang masih tersisa. Lantas memilih jalan teraman dengan menggelapkan tubuhnya dan mengirim sang hujan agar mengurangi jarak pandang. Perlindungan sempurna. Dan benar saja, hujan malam ini bertambah lebat, satu dua kali lintasan cahaya kilat terlihat  mengakar, disusul gema yang menggelegar. Membuat lamunanku terpecah, sial. Hei, kau tahu apa yang aku lamunkan? Masa depan. Masa depan indah saat tangan kita dengan sempurna menyatu. Duh!
Memang benar, akhir-akhir ini kamu sering sekali muncul di pikiranku. Selalu hadir menjadi peran utama. Atau lebih tepatnya aku yang memaksa pikiran ini untuk mendatangkanmu, aku yang selalu menjadikanmu sosok utama di dalamnya. Konyol? Masa bodoh. Toh aku menikmati saat saat yang menyenangkan ini. Saat aku bisa menghilangkan semua batasan-batasan yang mengikat, yang menjadi penghalang. Aku bisa menembus itu semua. Seperti saat hujan seperti ini, coba bayangkan. Saat kita benar-benar bisa berjalan berdua, bersisian. Saat tanganmu dengan manja meraih tanganku. Saat aku dengan jelas melihat senyum mu, menyimpul indah seperti biasanya, aduhai! Senyum itu. Sungguh aku ingin melihatnya. Sungguh aku ingin mengembangkan payung untuk kita berdua. Dan menggenggam erat tanganmu, terus berjalan menembus hujan.
Sungguh. Lamunan ini bekerja sangat baik membuatku seperti orang gila. Lihatlah! Aku senyam-senyum  dan tawaku mengembang  tanpa alasan. Cukup untuk membuat seorang ibu khawatir dengan anaknya bukan? Haha. Tapi tenang. Ibukku berbeda, dia selalu tahu apa yang sedang aku pikirkan. Selalu tahu apa yang muncul di benakku. Dan seperti sekarang ini, lihat. Justru dia malah ikut-ikutan tersenyum, lantas menggodaku. Jahil berkata  “hayo ngelamunin cewek kan?” . Nah apa aku bilang, entah darimana asal-muasalnya dia selalu tahu. Mungkin akan selalu seperti itu. Aku lalu hanya tersenyum, cengengesan.
Hei, coba bayangan. Jika esok, saat sang mentari menyembul indah di dingin pagi. Saat burung memainkan lagu wajib, berkicau riang. Dan yang di nantikan, saat aku sempurna memandang wajahmu tepat saat terbangun.  Melihatmu paras indahmu, senyum mu apalagi. Jangan tanya! Aku selalu betah melihatnya, aku selalu begitu bukan? Dan sama halnya jika kita benar-benar bersama besok. Aku akan menimpali senyummu, dengan senyum terindah yang aku miliki. Walau tak seindah kamu. Dan aku akan memelukmu dengan hangat. Membiarkanmu sempurna terdekap. Sungguh, tak ingin tangan ini melepaskan.  Tak akan.
Saat ini langit sudah kehabisan amunisi untuk menembakkan hujan, lantas menghilangkannya dengan perlahan. Bertahap, langit mulai nampak cerah. Dan perlahan, awan hitam tersingkir. Mengaku kalah, dikalahkan oleh dewi bulan yang bulat sempurna indahnya. Atau, dikalahkan perasaan ini, perasaan bahagia. Nah, bisa jadi langit sedang berbaik hati bukan? Ingin menyamakan perasaan langit dengan perasaanku. Bahagia.  Aku menyengir, kembali mendongak ke atas. Kali ini mataku terfokus menatap bulan. Apakah ke depan kita masih bisa menatap bulan yang sama? Maksudku, bersisian. Tak ada pembatas, penghalang, tembok, atau apalah itu. Semoga.
Hei, kau bisa memasangkan aku dasi bukan? Haha. Aku tak henti-hentinya membayangkan saat itu. Saat tanganmu terampil memasangkan dasi, saat kita sarapan berdua. Oh berdua? Tentu tidak, jangan lupakan Cleopatra di samping kita. Ingat? Haha. Aku sungguh tak sabar, ingin rasanya waktu ini melesat. Atau jika bisa, aku lesatkan sekalian! Biar kita bisa hadir di waktu yang tepat, waktu terbaik.
 Dan aku ingin mengatakan sesuatu, kau sungguh sudah melengkapiku. Kau sungguh sudah melakukan apapun. Nah apa salahnya aku memilihmu? Toh cinta ini sudah mengembang besar, 80%. Nilai sempurna untuk cinta seorang manusia. Dan semoga aku tak goyah, semoga aku bisa benar-benar mewujudkannya. Berdua.


Fad,
5 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar