Terhitung sudah hampir setahun, saat pertama aku berani
memulai agar bisa dekat denganmu. Hal yang sama untukmu, bukan? Hampir setahun
saat kamu mencoba berani menerimaku. Masa masa hebat, saat aku memaksakan diri mendekat,
saat aku memelukmu pertama kali, saat
kamu berpaling mencoba pergi. Iya, malam ini memori hebat itu menerobos
memenuhi langit-langit kamar. Semakin lama
kian memadat, berdesakan. Memori ini bahkan terasa dekat sekali,
terngiang-ngiang dalam ingatan. Selalu. Bahkan pikiran inilah yang selalu
memaksa memori ini untuk kembali. Untuk apa? Agar aku bisa mengenang masa-masa
hebat itu, masa tersulit yang pahitnya menundukkan kita berdua, hingga saat
termanis yang dengan sempurna membuang masa tersulit perjalanan kita. Hingga saat
ini, hampir setahun aku bisa terus bersamamu, menggenggamu, melihatmu, sungguh
adalah keberuntungan terbesar dalam hidupku saat aku memustuskan untuk
mengenalmu malam itu. Hingga waktu melesat sampai sekarang ini. Saat hatiku dan
hatimu sudah memilih rumahnya. Aku beruntung bisa bertemu orang yang membuatku
menjadi secinta ini. Apakah kamu beruntung sudah menambatkan hatimu padaku?
Sayang, yang jelas aku sudah memilih. Hatiku juga sejalan
seiring denganku. Memilihmu. Aku sudah membayangkan kemana ini akan berakhir,
yaitu sebuah akhir yang indah. Sangat indah hingga membuat kita berdua
menangis, bahagia. Dan aku akan memastikan hingga hal ini bukan sekedar
bayangan. Akan aku pastikan agar kita selalu beriringan. Berjalan bersisian, melihat indahmu dari
dekat.
Sayang, aku sudah terlalu yakin denganmu. Terlalu yakin bahwa
esok akan jauh lebih indah dari apa yang pantas kita dapatkan. Bahwa bersamamu
adalah sebuah perjalanan yang hebat. Dan bersamamu juga adalah tujuan terindah
yang pernah aku bayangkan. Sungguh, kamu adalah alasan mengapa aku gigih
berjuang melawan “ini”. Bahkan lebih, kamu adalah alasan mengapa aku benar-benar
berhenti. Berhenti mencari. Hingga saatnya nanti, kita sudah tidak mencari
apa-apa lagi.
Yours, 5 Januari 2016
