Cari Blog Ini

Selasa, 05 Januari 2016

Terlalu Yakin



Terhitung sudah hampir setahun, saat pertama aku berani memulai agar bisa dekat denganmu. Hal yang sama untukmu, bukan? Hampir setahun saat kamu mencoba berani menerimaku. Masa masa hebat, saat aku memaksakan diri mendekat,  saat aku memelukmu pertama kali, saat kamu berpaling mencoba pergi. Iya, malam ini memori hebat itu menerobos memenuhi langit-langit kamar.  Semakin lama kian memadat, berdesakan. Memori ini bahkan terasa dekat sekali, terngiang-ngiang dalam ingatan. Selalu. Bahkan pikiran inilah yang selalu memaksa memori ini untuk kembali. Untuk apa? Agar aku bisa mengenang masa-masa hebat itu, masa tersulit yang pahitnya menundukkan kita berdua, hingga saat termanis yang dengan sempurna membuang masa tersulit perjalanan kita. Hingga saat ini, hampir setahun aku bisa terus bersamamu, menggenggamu, melihatmu, sungguh adalah keberuntungan terbesar dalam hidupku saat aku memustuskan untuk mengenalmu malam itu. Hingga waktu melesat sampai sekarang ini. Saat hatiku dan hatimu sudah memilih rumahnya. Aku beruntung bisa bertemu orang yang membuatku menjadi secinta ini. Apakah kamu beruntung sudah menambatkan hatimu padaku?
Sayang, yang jelas aku sudah memilih. Hatiku juga sejalan seiring denganku. Memilihmu. Aku sudah membayangkan kemana ini akan berakhir, yaitu sebuah akhir yang indah. Sangat indah hingga membuat kita berdua menangis, bahagia. Dan aku akan memastikan hingga hal ini bukan sekedar bayangan. Akan aku pastikan agar kita selalu beriringan.  Berjalan bersisian, melihat indahmu dari dekat.

Sayang, aku sudah terlalu yakin denganmu. Terlalu yakin bahwa esok akan jauh lebih indah dari apa yang pantas kita dapatkan. Bahwa bersamamu adalah sebuah perjalanan yang hebat. Dan bersamamu juga adalah tujuan terindah yang pernah aku bayangkan. Sungguh, kamu adalah alasan mengapa aku gigih berjuang melawan “ini”. Bahkan lebih, kamu adalah alasan mengapa aku benar-benar berhenti. Berhenti mencari. Hingga saatnya nanti, kita sudah tidak mencari apa-apa lagi.  

Yours, 5 Januari 2016

Sabtu, 28 Februari 2015

Berlangsung Selamanya


Pernah kau berpikir akan ada masa-masa buruk di antara kita? Saat mata ini benar-benar tak bisa menjangkaumu, mulutku yang tak bisa berbicara langsung, menyentuh apalagi. Saat jarak kembali menjadi tembok besar menghalangi jarak pandangku dengan sempurna. Apa yang bisa kulakukan? Katakanlah. Kau tau aku belum bisa mengatasi ini. Belum bisa jauh dari dekap hangatmu. Dan kau harus tau, setiap saat masalah ini selalu berhasil menembus otak, selalu menempati satu ruang kosong di pikiranku. Setiap pagi, entah kenapa aku selalu memikirkan ini. Memikirkan jalan keluar terbaik. Agar kau tetap bersamaku, tak peduli akan ada atau tidak ada di samping. Tapi bagaimana?
Aku membuka tirai, membiarkan cahaya pagi menerobos kaca jendela. Cahaya melesat menyinari setengah bagian kamar. Aku bangkit dari tempat tidur, beranjak keluar. Biasanya banyak orang-orang giat berlari, jogging, berkeringat. Biasa, rutinitas di Minggu pagi. Selalu ada yang memanfaatkanya untuk olahraga. Memaksa badan mereka bergerak teratur. Aku melihat beberapa pasangan berlari bersisian, bercanda.  Dasar pecinta otot gadungan! Haha. Aku menyengir, kembali melihat sekeliling. Ada beberapa anak kecil yang berlari kali ini. Tunggu, ternyata mereka sedang berlomba. Memaksa kedua kaki untuk bekerja cepat melesat. Berlomba meninggalkan satu sama lain. Setelah mencapai titik finish yang ditentukan, si pemenang tertawa bangga. Sambil gagah menepuk-nepuk dadanya sendiri, mengoceh tak karuan. Seperti pemenang lomba jarak pendek profesional. Mengejek teman-teman yang kalah. Tak peduli nafasnya hampir putus sejak tadi. Anak yang lain hanya ngos-ngosan mengiyakan. Tentu saja, setelahnya mereka tertawa bersama. Tapi anak kecil selalu begitu bukan? Mereka melakukan apapun sambil tertawa lepas seolah tidak ada beban, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bukan kan itu masa-masa indah? Tidak ada masalah yang berarti, tidak ada masalah yang sempurna mengganggu otak mereka. Tinggal waktu saja yang selalu menjadi sosok pengubah. Hei, tapi apakah kalian ingin seperti itu selamanya? Tertawa lepas, banyak teman, tak peduli sakit asalkan senang! Sungguh, kalian tak ingin bukan? Nah berarti waktu memang punya tujuan. Punya sisi baik, dan menjadi guru yang baik. Bukankah semakin besar umur akan semakin besar problematika? Selalu akan ada masalah yang tak bisa lepas dari pikiran.
Saat ini, aku juga begitu. Memikirkan bagaimana ini bisa terlewati. Bukan! Bagaimana kita bisa melewati ini berdua. Karena sungguh, aku tak ingin ada yang tertinggal. Aku tak ingin menjadi tokoh yang meninggalkan ataupun ditinggalkan. Bukankah sudah jelas? Aku akan tetap berdiri tegak di saat-saat terbaik itu muncul. Kamu? Tentu saja juga akan berdiri di sampingku, tersenyum bangga. Kamu selalu menjadi sosok yang aku inginkan. Akan tetap menjadi sosok hebat saat aku terjatuh. Nah terjatuh. Apa kau akan selalu disampingku saat aku tersungkur? Apa kau akan tetap menegakkan kepalaku saat aku tak berdaya tertunduk? Dan apa tanganmu akan tetap memegang erat tanganku saat aku tak bisa beranjak? Tolong katakan kamu bisa melakukan itu semua. Sungguh, aku ingin kau menjadi penenang. Dan aku selalu tau dan yakin, bahwa kaulah orangnya! Kau yang akan menjadikan aku gagah, kau yang akan selalu membuatku terus menerjang hambatan tanpa ampun, kau yang pasti akan mengubahku menjadi baik. Dan pada akhirnya, saat-saat terbaik itu bisa kita wujudkan. Bisakah?
Aku kembali tersenyum. Menatap sekeliling datar, memikirkan sesuatu. Hei bukankah dulu aku sangat keukeuh tentang opini nothing last forever? Bahwa sesuatu, seseorang, apapun itu tidak akan bisa berlangsung selamanya. Tidak akan selamanya bisa ada disamping, tidak akan bisa benar-benar kita rasakan selalu, tidak ada hal yang bisa kita lihat seutuhnya. Apapun itu, sekuat apapun kita ingin mempertahankannya. Akan hilang, akan pergi. Nah kalian tinggal pilih, dengan cara apa sesuatu itu akan pergi. Kalian akan melepaskannya dengan lembut, menerima. Atau ingin mengilangkannya dengan memaksa. Yang bisa menyakiti diri kalian sendiri malah. Nah kalian ingin tau kenapa aku stagnant dengan opini ini? Karena selalu, waktu bisa merubah segalanya. Bekerja tanpa diminta, tak bisa berhenti sekalipun seluruh dunia bersatu menentang. Bahkan, dilambatkan saja tidak akan bisa. Sungguh, sebenci apapun kita dengan perubahan ini. Kita hanya bisa menerima. Tidak peduli dengan cara apa penerimaan itu hadir. Terserah kalian jika kalian akan menerima dengan tertunduk, menangis. Dengan memaki, menghujam. Atau dengan tatapan teduh, mengikhlaskan. Nah apakah waktu akan merubah kita? Apakah jika benar bisa merubah, akankah kita akan kembali bertemu di lintasan yang sejalur, bersisian? Bisa iya, aku harap. Namun bisa tidak. Akan selalu ada kemungkinan terburuk yang muncul.
Nah, apapun yang bisa waktu lakukan. Setidaknya, kita bisa terus berusaha maju kedepan. Bersisian untuk sekarang. Selamanya? Kau tahu aku tetap berdoa untuk yang satu ini. Apakah akan berlangsung selamanya? Entahlah. Setidaknya kita sudah sama-sama berusaha ingin mewujudkannya. Ingin merubah janji-janji masa depan tidak hanya sekedar bualan janji. Tapi entahlah, jika kita terpisahkan karena ulah jarak dan waktu. Apakah kita tetap bisa mengusahakan janji itu? Semoga. Aku tidak akan berhenti sebelum diminta, apakah kau akan memintaku? Aku tidak peduli akan bagaimana jawabanmu sekarang, sungguh aku tidak peduli. Karena sejak dulu aku sudah tau, waktu bisa seenaknya merubah apapun. Aku takut? Tentu. Semua kepergian adalah menyakitkan. Memberi bekas baru, tergores sempurna di hati. Tinggal bagaimana kita memaknai itu semua. Nah apakah kita akan benar-benar menyatu kembali saat jarak dan waktu memisahkan? Aku yakin bisa. Aku yakin.
Aku beranjak. Melangkah pelan ke lantai 2 sambil membawa teh panas hasil seduhan. Kau tau? Aku tipe orang dengan pemikiran dalam. Sekecil apapun masalah itu selalu terngiang di kepala, selalu mendobrak paksa. Bukan memperebutkan tempat kosong, tapi bersatu mengusir semua hal baik. Nah jadi benar, over thinking kills your happiness. Bahwa pemikiran yang berebih mendalam akan mengusir kebahagiaan. Tapi bagaimana lagi, aku memang begitu. Apapun sesuatu yang pergi akan selalu bekerja membebani. Tidak bisa ku bayangkan jika kau pergi, jarak saja tidak bisa aku kalahkan dengan sekali pukul. Apalagi waktu?
Aku tau kau juga akan tetap berjuang sepertiku bukan? Entah apa yang akan kau perjuangkan. Aku selalu berharap itu tetap aku. Aku yang akan dengan mati-matian kau perjuangkan. Dan aku juga akan dengan senang hati melakukannya. Kita hanya bisa berusaha berjalan kedepan. Persetan waktu akan mengubah apapun, tak peduli jika akan membalikan seluruh kebahagiaanku. Aku akan tetap berdiri saat kau berhenti. Tersungkur? Tidak. Aku selalu akan berusaha menerima. Akan selalu berusaha mengerti. Dan akan selalu berusaha memahami seutuhnya. Karena waktu adalah guru yang baik, aku akan menjadi pembelajar yang baik. Tapi kau tahu, aku tidak akan bisa melakukan apapun tanpamu.

Dan, satu beberapa yang harus dilakukan. Menebalkan kepercayaan, tetap berpegangan, jangan lepas. Aku sungguh akan tetap berusaha tetap di jalan yang sama sepertimu. Jadi bisakah kau tetap menguatkan? Sampai salah satu dari kita mencapai batas. Aku tidak akan memintamu berhenti, sungguh. Tapi bisa apa aku jika waktu dengan tegas meminta salah satu dari kita berhenti? Melepaskan. Aku tidak ingin, sungguh kau tau kalau aku tidak ingin begitu bukan? Tapi tenang, asalkan waktu dengan serius memisahkan, aku akan dengan mati-matian menyeretmu kembali. Hingga tangan kita benar-benar erat menyatu. Nanti.



Lived our dreams and take the risks

1 Maret 2015

Sabtu, 21 Februari 2015

Kita Dalam Waktu Terbaik



            “Pagi itu matahari bersinar terang. Menyilaukan. Sinarnya menembus kaca kamar kita yang tidak lebih dari satu meter ini. Membentuk sebuah bayangan tegak lurus kearah tempat tidur serba putih kita. Menyilaukan mata kita berdua. Memaksa tubuh kita untuk beranjak. Namun tubuh kita  malah semakin kita benamkan. Lelah, setelah semalaman bekerja. Membuat kita sungguh betah mengistirahatkan diri. Membenamkan wajah kita dari balik selimut. Tidak peduli sinar matahari semakin menyilaukan, kita tetap berusaha membenamkan mata. Namun itu hanya berlangsung beberapa menit. Mataku enggan mengatup sempurna. Tidak bisa lebih lama membenamkan selimut sepertimu. Melihat wajahmu yang letih setelah seharian bekerja, membuatku semakin bersyukur, kau masih menemaiku hingga pagi ini.
            Dari balik pintu, seorang anak kecil berjalan dengan tertatih. Maklum saja, ia baru belajar berjalan. Kakinya belum bisa sempurna menapaki lantai. Tangan mungilnya mengucek kedua matanya. Sesekali merengek memanggilku. Aku tersenyum mendengar rengekannya yang semakin keras. Aku bangkit, tetap duduk di tempat tidur sambil membelai lembut wajahmu yang masih terlelap. Aku rasakan, kaki mungil itu semakin mendekat. Perlahan tapi pasti, tangan kanannya membuka gagang pintu. Wajahnya yang manis, matanya yang bulat menyembul sempurna dari balik pintu. Seperti biasa, mata bulat itu berair. Tangannya sesekali masih mengucek perlahan. Membuat matanya semakin berair. Dengan tertatih, ia berjalan ke arahku. Aku yang masih duduk diatas tempat tidur, menyambutnya dengan senyum ramah. Ucapan selamat pagi sambil mencium keningnya adalah sapaan wajib setiap pagi. Tangannya meraih tanganku. Minta digendong. Aku angkat tubuhnya yang gendut. Kemudian aku pangku. Dia merengek lagi. Meraung-raung minta dipeluk. Aku memeluknya hangat. Mencium keningnya berkali-kali. Putri kecil ini tersenyum. Matanya semakin membulat. Sungguh, bisakah kau bayangkan betapa lucunya dia? Wajahnya ia benamkan di depan wajahmu. Hei, kau seharusnya bangun. Melihat putri kecilmu dengan jahil menggigit hidungmu agar kau terbangun. Ia masih saja berusaha, sementara kau masih tetap terpejam. Kau tahu, ini adalah sebuah pemandangan yang sungguh mahal.
            Aku tersenyum melihat tingkah putri kecil kita yang jahil menggigit hidungmu berkali-kali. Sesekali ia gemas, kemudian tangannya meremas rambutmu yang baru saja kau pangkas itu. Hei, bangunlah! Kau harus tahu betapa ia sungguh berusaha membuat matamu tak mengatup lagi. Ia sungguh berusaha membuatmu terbangun agar mendapat pelukan hangat darimu. Namun, usahanya tak berbuah. Kau tetap saja terlelap. Dan putri kecil kita mungkin sudah lelah. Aku kemudian beranjak. Bermaksud menyiapkan sarapan pagi untuk kita bertiga. Dan kau tahu? Putri kecil kita mengikuti langkahku. Meski masih tertatih, senyumnya selalu mengembang sambil mencoba mengimbangi langkahku agar kami sampai pada tempat yang sama. Aku kembali tersenyum. Pemandangan mahal ini kembali terulang.
            Aku mulai mengoleskan selai ke beberapa lembar roti dan putri kecil kita juga melakukan hal yang sama. Ia mnegambil selai kesukaannya. Selai coklat. Kemudian ia oleskan ke selembar roti yang sebelumnya telah ia ambil dari tempat roti. Selainya tak teroleskan sempurna. Berjatuhan disana sini. Sialnya, puti kecil kita tidak menyadarinya. Tangannya yang mungil tetap mengoles roti yang ada ditangannya. Aku menggenggam tangannya. Kemudian aku bantu mengoleskan ke rotinya agar tak berceceran kemana-mana. Berkali-kali ia mengoceh tak jelas. Maklum saja, ia baru bisa menghafal beberapa kata yang mudah. Lidahnya masih sulit menerima kata yang sulit. Matanya yang bulat berkedip kedip. Rambutnya yang halus bergoyang indah. Sekarang, putri kecil kita berjalan riang kembali ke kamar. Membawa sebuah roti selai coklat ditangan kanannya. Aku mengikutinya dari belakang. Membiarkan putri kecil kita berjalan tertatih mendahuluiku. Ada segelas susu putih dan beberapa roti selai yang aku bawa tentu saja untuk kita bertiga.
            Sampai dikamar, kau masih terlelap. Kali ini, posisinya berubah. Wajahmu menghadap kelangit-langit. Tanganmu kau rentangkan. Seakan-akan siap memeluk kami berdua. Putri kecil kita setengah berlari ke arahmu. Membiarkan roti dengan selai coklat itu ikut bergoyang hebat. Kakinya yang mungil naik keatas tempat tidur, kemudian mencium keningmu. Bisakah kau rasakan ciuman hangat itu? Ciuman itu adalah ciuman putri kecilmu yang sudah dengan susah payah membuatkanmu sarapan. Kau kemudian setengah terbangun. Melihat sekitar. Kemudian berhenti pada putri kecil kita. Kau terseyum hangat. Putri kecil kita juga demikian, tersenyum manis sekali. Mencoba memperlihatkan giginya yang masih seberapa. Tangan kanannya memberikan sebuah roti selai coklat kepadamu. Dengan senyum sumringah, kau menerimanya. Ah, sungguh pemandangan ini adalah pemandangan yang tidak dapat diganti dengan apapun. Betapa bahagianya aku melihat dua orang yang paling aku sayangi bercengkrama berdua. Manis sekali. Aku berjalan mendekat. Sambil membawa segelas susu untukmu. Kau kemudian tersenyum kepadaku. Seperti biasa, memberi ucapan selamat pagi kemudian mencium keningku hangat. Putri kecil kita kembali meraung minta dipeluk. Kau kemudian dengan sigap memeluk tubuhnya yang mungil. Di gelindingkan ke kanan dan ke kiri. Membuat tawa putri kecil kita pecah. Berkali-kali kau mendaratkan ciuman ke keningnya, pipinya, bahkan ke punggungnya. Kau sungguh membuat putri kecil kita bahagia.”
            Nah, bisakah kau membayangkan kejadian itu setiap kali kau terbangun dari tidurmu? Bisakah kau membayangkan ada tangan mungil yang membangunkanmu ketika kau sungguh tidak ingin terbangun. Bisakah kau membayangkan ada aku yang setiap pagi membuatkan sarapan untuk kita bertiga? Nah, jika kau bisa membayangkannya, apakah perasaan dalam hatimu akan membuncah? Seperti yang sedang aku rasakan saat ini. Kau tahu, aku sungguh membayangkan saat-saat itu terjadi, komandan. Aku sungguh ingin kita benar-benar hadir dalam waktu terbaik. Tak peduli berapa lama, waktu itu akan hadir. Aku akan senantiasa menunggumu hingga kau bisa mewujudkannya bersamaku. Aku akan hadir bersamamu di setiap proses yang akan kita lalui. Aku ingin menemanimu dalam proses hingga esok kita sudah sampai di atas. Di waktu terbaik kita. Aku akan bersabar demi mendapatkan waktu terbaik yang sudah kita janjikan. Jadi, tolong pastikan bahwa kau sungguh ingin mewujudkannya bersamaku. Sungguh ingin mendapatkan waktu terbaik itu. Berdua. Karena kau telah berjanji, semoga semua ini bisa menjadi nyata.



You wanna get it all, bae?
21 February 2015

Senin, 09 Februari 2015

Andai Kau Bahagia



            Aku kira sejauh ini aku sudah menjadi orang yang terbaik, untukmu. Aku pikir setelah kita banyak melewati kisah yang sungguh berliku, akulah yang paling kuat mempertahankan. Namun sayangnya, belum. Apapun yang aku lakukan sungguh amat kurang. Entah darimana, rasanya setelah rasa “kurang” itu tenggelam cukup lama, ia muncul begitu saja. Seakan menamparku. Plak! Keras sekali. Berkata kalau aku belum seberapa. Berkata kalau aku belum ada apa-apa. Bah! Baru kali ini aku sungguh merasakan arti memperjuangkan. Entahlah, yang aku pikul sungguh berat. Kewajiban yang harus aku penuhi meski berat, sungguh aku tak merasakannya. Terbawa suasana indah berjalan bersama. Kau tahu? Kewajiban itu adalah membahagiakanmu. Kewajiban yang tak pernah lalai aku lakukan. Seberapa kecilpun harga atas kewajiban itu, aku mati-matian melakukannya untukmu. Seandainya kamu tahu, aku sama sepertimu “ingin sempurna”. Wajar, bukan? Aku ingin menjadi sosok yang sempurna. Utuh. Tak kurang sama sekali. Kau benar, aku hanya sekedar “ingin”. Usahaku belum berbuah. Tumbuhan itu sedang aku tanam. Sedang aku rawat dengan baik. Hingga nanti berbuah manis. Sedang aku tunggu. Sungguh.
            Jika mungkin aku bisa menjanjikan kebahagiaan itu, aku ingin berkata langsung kepadamu. Dalam malam yang pekat. Angkasa yang indah memberikan panorama bintang. Akan aku hadirkan bulan, menghadirkan hati kita yang tak hentinya meletup. Menghadirkan senyum indah itu. Lantas, aku berkata, “Aku berjanji, membahagiakanmu.” Belum jelas bagaimana jalannya. Belum tahu bagaimana caranya. Yang penting aku berjanji. Tapi, aku tidak. Anggap saja semua tentang bulan, hati, dan senyum tadi adalah gambaran. Kenyataannya, tidak. Aku tidak mau mengatakannya. Kenapa? Karena aku tidak ingin berjanji di depanmu. Lantas membiarkan bulan melihatnya. Membiarkan hatimu meletup kencang tak terkendali. Membiarkan senyum itu merekah menjadi saksi. Tidak. Aku tidak akan berjanji. Tetapi, aku akan memberikanmu kebahagian meski tak harus aku janjikan. Aku akan selalu berkata, “Mari kita saling membahagiakan.” Bukankah lebih indah di dengar? Kau selalu berkata segalanya yang dilakukan berdua selalu menyenangkan, bukan? Nah, kali ini aku menurut. Percaya. Aku membahagiakanmu. Dan kau membahagiakanku. Tidak! Tentu saja aku tidak minta dibahagiakan sebagai bayaran. Aku sungguh melakukan itu atas nama sebuah kewajiban. Sebagai seorang pendamping, bukankah aku seharusnya demikian? Sayangnya, kewajiban itu sungguh belum berjalan sepenuhnya. Maaf. Aku pasti akan lebih berusaha.
            Bagiku, kebahagian bukan soal bisa atau tidak bisa. Namun soal bagimana dan seberapa. Aku tentu sudah mempersiapkan segala bentuk “bagimana” dan “seberapa”. Namun, tidak semua bisa membahagiakan. Memang seperti itu. Inilah hidup. Berbeda. Ada yang bilang, bahagia hanya ada pada mimpi. Pada cerita khayal ftv. Pada kisah-kisah kerajaan barat. Kau harus tahu, itu tidak benar. Kembali pada “bagimana”. Aku sungguh menjabarkan kata “bagaimana” menjadi ratusan. Agar aku tetap memiliki jawaban dari “bagaimana cara membahagiakanmu?” itu lebih banyak. Dan hingga saat ini, aku yakin, kau belum sebahagia yang aku perkirakan. Ah! Kau tentu akan menolak aku berkata demikian. Namun, sungguh targetku untuk membahagiakanmu jauh dari ini. Mungkin ke level sangat teramat bahagia sekali. Atau lebih. Atau hingga tak terhingga. Dan itu belum aku capai. Tapi tenang, wanitamu ini sungguh akan berusaha keras. Bagiaman dengan seberapa? Oh iya, setiap aku merasa sudah membahagiakanmu, aku selalu bertanya pada diriku sendiri,”sudah seberapa tinggi aku membahagiakanmu?”. Nah, pertanyaan sakral yang tentu tidak bisa aku jawab sendiri. Aku selalu menjadi orang yang sok tahu. Mencoret kertas. Awalnya menggambar sebuah garis tegak lurus. Lalu, aku membuat presentasi kebahagiaan itu sedikit demi sedikit. Sok tahu. Sok nulis. Biar terhilat sudah seberapa tinggi. Dan tentu saja aku selalu menggambar dibawah angka 10. Karena aku masih sadar kemampuanku. Belum setinggi target. Bahkan jauh dari sempurna. Belum melewati separuhnya. Memang susah. Tapi sekali lagi, kau tenang saja. Aku tentu tidak akan berhenti berusaha sebelum kau benar-benar memintaku untuk berhenti.
            Hari demi hari “bersama” kita, aku sungguh berusaha keras membuatmu bahagia. Aku ingin membahagiakanmu dengan caraku. Dengan apa adanya aku. Dengan apa yang aku miliki. Tentu saja dengan ketulusan. Harga mati yang sungguh sudah aku berikan. Aku tidak ingin membahagiakanmu dengan keterpaksaan. Dengan hati yang gelap. Sungguh, tidak ada dalam tujuanku. Aku akan selalu berkata bisa bila aku bisa melakukannya demi membuatmu bahagia. Atau aku akan mengatakan tidak, bila aku harus menunda untuk membuatmu bahagia. Kini kau tahu, bukan? Aku sungguh tidak ingin membahagiakanmu dengan terpaksa. Aku ingin membahagiakanmu dengan tulus. Dengan tanganku sendiri. Bukan karena campur tangan orang lain.
            Sekali lagi aku tegaskan, semahal apapun harga dari kebahagianmu itu, sungguh akan aku tebus sebisaku. Akan aku beli dengan usahaku. Kau harus tahu. Jadi, kau kini tidak perlu takut aku akan bekata iya atau tidak. Karena sesungguhnya membahagiakanmu adalah sebuah kewajiban yang tidak akan pernah aku lalaikan. Sekecil apapun itu, jika itu bisa membahagiakanmu, akan aku usahakan. Karena andai kamu bahagia, ada hati yang lebih bahagia ketika bisa melihat senyum itu mengembang.



“I’ll try to make you meaningfull”
9 February 2015

Kamis, 05 Februari 2015

Maaf



Kau pernah berkata, tidak ingin membuatku bekerja menghasilkan airmata. Tidak ingin melihat air mataku berlinang, bukan? Namun, kau sungguh kini membuat air mataku berlinang. Malam yang gelap. Kau memutuskan untuk tidur lebih dahulu. Aku mengiyakan. Kau mungkin lelah setelah pertengkaran hebat kita sebelumnya. Dan aku masih memutuskan untuk tetap terjaga. Semalaman aku enggan tidur, sama sepertimu waktu itu. Terus berkutat dengan air mata yang tidak mau berhenti. Kau sebenarnya tidak membuatku menangis. Tapi kau adalah alasan kenapa aku menangis. Aku sungguh menjadi wanita yang tidak tahu diri. Untuk kesekian kali, aku sungguh menyakitimu sangat dalam. Aku jahat sekali. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Sakit sekali, bukan? Itu adalah alasan mengapa aku malam ini sungguh tidak bisa mengendalikan air mata. Aku menangis karena aku sadar, sudah seberapa dalam aku menyakiti perasaanmu, wahai komandan? Kau boleh marah kepadaku. Jengkel, kesal, atau sebagainya. Aku akan menerimanya. Bukankah itu sudah menjadi konsekuensi karena aku menyakitimu? Aku akan menerimanya. Jika waktu bisa kuputar kembali, aku juga ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tentu saja untukmu. Untuk kita.

Seiring kita berjalan bersama, semakin aku tahu jalan kita sudah semakin berliku. Sudah semakin menemui tikungan. Kau tahu, mungkin kini kau sudah tahu bagaimana sifatku. Aku sungguh belum sebaik yang kau pikirkan. Jangan terlalu mengagungkanku, komandan. Aku belum siap dicap sebagai orang terbaik. Karena dengan demikian, aku harus membuktikan kepadamu bahwa aku memang sudah baik. Namun, kenyataan yang aku alami, tidak demikian. Aku masih berusaha. Aku masih dalam proses. Kau tahu, selama ini sungguh akulah pengacaunya, bukan? Sungguh akulah yang paling sering membesarkan ego dan tidak mau mengalah. Itu aku komandan, bukan kau! Kau kali ini sungguh tidak bisa menolak argumen yang jelas jelas nyata. Mau kau bilang apapun, bagiku akulah yang selalu menjadi pengacau. Bah! Sungguh susah menjadi orang baik bagimu, komandan. Aku hanya ingin membuatmu nyaman bersamamku. Berdua. Tapi, aku justru melukaimu. Bodoh sekali, bukan?

Komandan, malam ini sejujurnya aku sangat ingin menemuimu. Kembali memeluk tubuhmu yang gagah perkasa itu. Tidak ingin aku lepaskan. Aku ingin membisikkan berjuta kata maaf hingga kau benar-benar memaafkanku. Hingga kau sudah kembali seperti semula. Ah, kau benar mungkin kata maaf tidak sebanding dengan apa yang sudah aku lakukan kepadamu. Namun, kau harus melihat betapa hatiku sungguh terkoyak hebat. Sakit sekali rasanya. Mungkin, sakit yang aku alami belum sesakit kau. Tapi aku sungguh menyesal komandan. Aku hanya ingin menjadi orang terbaik. Sama seperti sebelumnya. Namun entahlah, aku belum bisa mengendalikan emosiku. Belum bisa membuatmu bahagia secata utuh. Maafkan aku, komandan.

Komandan, katakan kepadaku. Bagaimana agar kau bahagia bersamaku? Katakan! Kau tau aku sudah cukup gila dengan semua ini. Rasanya sungguh sakit. Sakit sekali. Aku memang terlahir bodoh. Bodoh sekali untuk memahami betapa sesungguhnya kau mati-matian berjuang untukku. Maafkan aku. Ternyata hingga sejauh ini aku masih buta. Aku pikir sejauh ini aku sudah cukup mengetahui siapa kamu. Mengetahui semua keinginanmu, bersamaku. Tapi ternyata semua itu salah. Aku masih benar-benar buta. Bahkan selalu merasa kurang. Padahal, kau ada bersamaku saja itu sudah cukup. Jadi, mulai sekarang aku akan membuka mataku lebar-lebar. Akan melihatmu agar kau tak lagi merasa kurang. Merasa bersalah. Sesungguhnya semua ini adalah karnaku. Sungguh, karna aku.

            Kali ini aku sungguh ingin bicara serius padamu. Aku tidak ingin membuatmu sakit seperti sebelumnya. Aku tidak ingin melukai hati yang sudah kau berikan kepadaku. Jangan sampai. Aku juga tidak ingin merasa kau selalu kurang. Karena sesungguhnya kau sudah cukup, komandan. Cukup. Aku tidak akan kembali menuntutmu dengan manja. Aku juga akan lebih menjaga cara bicaraku. Sudah ku katakan bukan, bahwa aku ingin membuktikan pada Ibumu, kalau anak lelakinya jatuh pada wanita yang tepat. Aku sungguh berjanji dan berbicara serius. Aku ingin menjadi wanita yang berwibawa, untukmu. Sama seperti kau kelak. Menjadi duta besar. Berjanji akan membawaku keliling dunia. Ah! Aku sungguh menginginkan hal itu terjadi, komandan.

            Nah, kali ini aku benar-beanr minta maaf kepadamu. Maafkan aku atas hari kemarin. Mungkin hari kemarin adalah hari berat untuk kita berdua. Mungkin kisah kita sedang diuji Tuhan. Atau mungkin juga Tuhan ingin tahu, sejauh mana kita bertahan berdua. Jadi, sekarang ijinkan aku untuk menjadi lebih baik. Beri aku waktu untuk memperbaiki segalanya. Karena aku ingin mewujudkan mimpi kita. Mewujudkan angan yang masih semu itu. Aku sungguh berjanji. Jadi, sebagai “komandan” tolong tuntun aku. Aku masih buruk. Perlu diperbaiki. Sebagi calon pendamping komandan, sudah seharusmya aku mempunyai tabiat yang baik, bukan? Nah, jangan pernah lelah untuk menuntunku. Sungguh, aku mau agar tanganku digandeng dan dituntun ke arah yang lebih baik. Aku juga ingin hanya kamu. Hanya kita. Berdua. Hingga nanti, usahaku sudah berbuah manis. Hingga nanti angan semu kita sudah menjadi kenyataan. Aku tetap akan menunggu waktu itu. Waktu terbaik kita.


Sorry for all I've done...
Yours
6 Februari 2015


Bayangan Sempurna





 Hari ini, hujan tidak bosan bosannya mengguyur kota. Sudah sejak siang tadi rintik hujan giat berjatuhan. Menyisahkan bising suara ketika mengenai genting, berisik mendengarnya. Satu dua anak kecil terlihat sedang asyik bermain, bermandikan air hujan. Sibuk berlari-lari, tertawa lepas. Terkadang mendongakkan kepala keatas dengan gagah, bersyukur sudah dikasih hujan.Tak peduli tubuh kecil mereka basah kuyup, tak peduli besok paginya akan terbaring menggigil. Demam. Peduli apa anak sekecil mereka tentang hukum sebab-akibat? Yang penting mereka bahagia.Tak terbebani dengan masalah hari esok, lusa. Hanya berpikir soal present, peduli apa tentang  future? Masa bodoh. Otak mereka belum bekerja sejauh itu. Jika bisa, tentu saja akan jauh dari harapan. Coba tanyakan mereka tentang cita-cita, paling mentok jawabannya superhero lah, astronot lah. Itu itu saja.
Lupakan. Aku kembali mendongak ke atas, mataku sempurna tertuju ke langit. Entah menatap apa, hanya langit kosong. Gugusan bintang yang biasanya tersebar menawan tertutup awan gelap. Sepertinya gumpalan awan malam ini enggan menampakkan harta karun yang masih tersisa. Lantas memilih jalan teraman dengan menggelapkan tubuhnya dan mengirim sang hujan agar mengurangi jarak pandang. Perlindungan sempurna. Dan benar saja, hujan malam ini bertambah lebat, satu dua kali lintasan cahaya kilat terlihat  mengakar, disusul gema yang menggelegar. Membuat lamunanku terpecah, sial. Hei, kau tahu apa yang aku lamunkan? Masa depan. Masa depan indah saat tangan kita dengan sempurna menyatu. Duh!
Memang benar, akhir-akhir ini kamu sering sekali muncul di pikiranku. Selalu hadir menjadi peran utama. Atau lebih tepatnya aku yang memaksa pikiran ini untuk mendatangkanmu, aku yang selalu menjadikanmu sosok utama di dalamnya. Konyol? Masa bodoh. Toh aku menikmati saat saat yang menyenangkan ini. Saat aku bisa menghilangkan semua batasan-batasan yang mengikat, yang menjadi penghalang. Aku bisa menembus itu semua. Seperti saat hujan seperti ini, coba bayangkan. Saat kita benar-benar bisa berjalan berdua, bersisian. Saat tanganmu dengan manja meraih tanganku. Saat aku dengan jelas melihat senyum mu, menyimpul indah seperti biasanya, aduhai! Senyum itu. Sungguh aku ingin melihatnya. Sungguh aku ingin mengembangkan payung untuk kita berdua. Dan menggenggam erat tanganmu, terus berjalan menembus hujan.
Sungguh. Lamunan ini bekerja sangat baik membuatku seperti orang gila. Lihatlah! Aku senyam-senyum  dan tawaku mengembang  tanpa alasan. Cukup untuk membuat seorang ibu khawatir dengan anaknya bukan? Haha. Tapi tenang. Ibukku berbeda, dia selalu tahu apa yang sedang aku pikirkan. Selalu tahu apa yang muncul di benakku. Dan seperti sekarang ini, lihat. Justru dia malah ikut-ikutan tersenyum, lantas menggodaku. Jahil berkata  “hayo ngelamunin cewek kan?” . Nah apa aku bilang, entah darimana asal-muasalnya dia selalu tahu. Mungkin akan selalu seperti itu. Aku lalu hanya tersenyum, cengengesan.
Hei, coba bayangan. Jika esok, saat sang mentari menyembul indah di dingin pagi. Saat burung memainkan lagu wajib, berkicau riang. Dan yang di nantikan, saat aku sempurna memandang wajahmu tepat saat terbangun.  Melihatmu paras indahmu, senyum mu apalagi. Jangan tanya! Aku selalu betah melihatnya, aku selalu begitu bukan? Dan sama halnya jika kita benar-benar bersama besok. Aku akan menimpali senyummu, dengan senyum terindah yang aku miliki. Walau tak seindah kamu. Dan aku akan memelukmu dengan hangat. Membiarkanmu sempurna terdekap. Sungguh, tak ingin tangan ini melepaskan.  Tak akan.
Saat ini langit sudah kehabisan amunisi untuk menembakkan hujan, lantas menghilangkannya dengan perlahan. Bertahap, langit mulai nampak cerah. Dan perlahan, awan hitam tersingkir. Mengaku kalah, dikalahkan oleh dewi bulan yang bulat sempurna indahnya. Atau, dikalahkan perasaan ini, perasaan bahagia. Nah, bisa jadi langit sedang berbaik hati bukan? Ingin menyamakan perasaan langit dengan perasaanku. Bahagia.  Aku menyengir, kembali mendongak ke atas. Kali ini mataku terfokus menatap bulan. Apakah ke depan kita masih bisa menatap bulan yang sama? Maksudku, bersisian. Tak ada pembatas, penghalang, tembok, atau apalah itu. Semoga.
Hei, kau bisa memasangkan aku dasi bukan? Haha. Aku tak henti-hentinya membayangkan saat itu. Saat tanganmu terampil memasangkan dasi, saat kita sarapan berdua. Oh berdua? Tentu tidak, jangan lupakan Cleopatra di samping kita. Ingat? Haha. Aku sungguh tak sabar, ingin rasanya waktu ini melesat. Atau jika bisa, aku lesatkan sekalian! Biar kita bisa hadir di waktu yang tepat, waktu terbaik.
 Dan aku ingin mengatakan sesuatu, kau sungguh sudah melengkapiku. Kau sungguh sudah melakukan apapun. Nah apa salahnya aku memilihmu? Toh cinta ini sudah mengembang besar, 80%. Nilai sempurna untuk cinta seorang manusia. Dan semoga aku tak goyah, semoga aku bisa benar-benar mewujudkannya. Berdua.


Fad,
5 Februari 2015