Aku
kira sejauh ini aku sudah menjadi orang yang terbaik, untukmu. Aku pikir
setelah kita banyak melewati kisah yang sungguh berliku, akulah yang paling
kuat mempertahankan. Namun sayangnya, belum. Apapun yang aku lakukan sungguh
amat kurang. Entah darimana, rasanya setelah rasa “kurang” itu tenggelam cukup
lama, ia muncul begitu saja. Seakan menamparku. Plak! Keras sekali. Berkata kalau aku belum seberapa. Berkata kalau
aku belum ada apa-apa. Bah! Baru kali
ini aku sungguh merasakan arti memperjuangkan. Entahlah, yang aku pikul sungguh
berat. Kewajiban yang harus aku penuhi meski berat, sungguh aku tak
merasakannya. Terbawa suasana indah berjalan bersama. Kau tahu? Kewajiban itu
adalah membahagiakanmu. Kewajiban yang tak pernah lalai aku lakukan. Seberapa kecilpun
harga atas kewajiban itu, aku mati-matian melakukannya untukmu. Seandainya kamu
tahu, aku sama sepertimu “ingin sempurna”. Wajar, bukan? Aku ingin menjadi
sosok yang sempurna. Utuh. Tak kurang sama sekali. Kau benar, aku hanya sekedar
“ingin”. Usahaku belum berbuah. Tumbuhan itu sedang aku tanam. Sedang aku rawat
dengan baik. Hingga nanti berbuah manis. Sedang aku tunggu. Sungguh.
Jika
mungkin aku bisa menjanjikan kebahagiaan itu, aku ingin berkata langsung
kepadamu. Dalam malam yang pekat. Angkasa yang indah memberikan panorama
bintang. Akan aku hadirkan bulan, menghadirkan hati kita yang tak hentinya
meletup. Menghadirkan senyum indah itu. Lantas, aku berkata, “Aku berjanji,
membahagiakanmu.” Belum jelas bagaimana jalannya. Belum tahu bagaimana caranya.
Yang penting aku berjanji. Tapi, aku tidak. Anggap saja semua tentang bulan,
hati, dan senyum tadi adalah gambaran. Kenyataannya, tidak. Aku tidak mau
mengatakannya. Kenapa? Karena aku tidak ingin berjanji di depanmu. Lantas membiarkan
bulan melihatnya. Membiarkan hatimu meletup kencang tak terkendali. Membiarkan senyum
itu merekah menjadi saksi. Tidak. Aku tidak akan berjanji. Tetapi, aku akan
memberikanmu kebahagian meski tak harus aku janjikan. Aku akan selalu berkata, “Mari
kita saling membahagiakan.” Bukankah lebih indah di dengar? Kau selalu berkata
segalanya yang dilakukan berdua selalu menyenangkan, bukan? Nah, kali ini aku
menurut. Percaya. Aku membahagiakanmu. Dan kau membahagiakanku. Tidak! Tentu saja
aku tidak minta dibahagiakan sebagai bayaran. Aku sungguh melakukan itu atas
nama sebuah kewajiban. Sebagai seorang pendamping, bukankah aku seharusnya
demikian? Sayangnya, kewajiban itu sungguh belum berjalan sepenuhnya. Maaf. Aku
pasti akan lebih berusaha.
Bagiku,
kebahagian bukan soal bisa atau tidak bisa. Namun soal bagimana dan seberapa. Aku
tentu sudah mempersiapkan segala bentuk “bagimana” dan “seberapa”. Namun, tidak
semua bisa membahagiakan. Memang seperti itu. Inilah hidup. Berbeda. Ada yang
bilang, bahagia hanya ada pada mimpi. Pada cerita khayal ftv. Pada kisah-kisah
kerajaan barat. Kau harus tahu, itu tidak benar. Kembali pada “bagimana”. Aku sungguh
menjabarkan kata “bagaimana” menjadi ratusan. Agar aku tetap memiliki jawaban
dari “bagaimana cara membahagiakanmu?” itu lebih banyak. Dan hingga saat ini,
aku yakin, kau belum sebahagia yang aku perkirakan. Ah! Kau tentu akan menolak aku berkata demikian. Namun, sungguh
targetku untuk membahagiakanmu jauh dari ini. Mungkin ke level sangat teramat
bahagia sekali. Atau lebih. Atau hingga tak terhingga. Dan itu belum aku capai.
Tapi tenang, wanitamu ini sungguh akan berusaha keras. Bagiaman dengan
seberapa? Oh iya, setiap aku merasa sudah membahagiakanmu, aku selalu bertanya
pada diriku sendiri,”sudah seberapa tinggi aku membahagiakanmu?”. Nah, pertanyaan
sakral yang tentu tidak bisa aku jawab sendiri. Aku selalu menjadi orang yang
sok tahu. Mencoret kertas. Awalnya menggambar sebuah garis tegak lurus. Lalu,
aku membuat presentasi kebahagiaan itu sedikit demi sedikit. Sok tahu. Sok nulis.
Biar terhilat sudah seberapa tinggi. Dan tentu saja aku selalu menggambar
dibawah angka 10. Karena aku masih sadar kemampuanku. Belum setinggi target. Bahkan
jauh dari sempurna. Belum melewati separuhnya. Memang susah. Tapi sekali lagi,
kau tenang saja. Aku tentu tidak akan berhenti berusaha sebelum kau benar-benar
memintaku untuk berhenti.
Hari
demi hari “bersama” kita, aku sungguh berusaha keras membuatmu bahagia. Aku ingin
membahagiakanmu dengan caraku. Dengan apa adanya aku. Dengan apa yang aku
miliki. Tentu saja dengan ketulusan. Harga mati yang sungguh sudah aku berikan.
Aku tidak ingin membahagiakanmu dengan keterpaksaan. Dengan hati yang gelap. Sungguh,
tidak ada dalam tujuanku. Aku akan selalu berkata bisa bila aku bisa melakukannya
demi membuatmu bahagia. Atau aku akan mengatakan tidak, bila aku harus menunda
untuk membuatmu bahagia. Kini kau tahu, bukan? Aku sungguh tidak ingin
membahagiakanmu dengan terpaksa. Aku ingin membahagiakanmu dengan tulus. Dengan
tanganku sendiri. Bukan karena campur tangan orang lain.
Sekali
lagi aku tegaskan, semahal apapun harga dari kebahagianmu itu, sungguh akan aku
tebus sebisaku. Akan aku beli dengan usahaku. Kau harus tahu. Jadi, kau kini
tidak perlu takut aku akan bekata iya atau tidak. Karena sesungguhnya
membahagiakanmu adalah sebuah kewajiban yang tidak akan pernah aku lalaikan. Sekecil
apapun itu, jika itu bisa membahagiakanmu, akan aku usahakan. Karena andai kamu
bahagia, ada hati yang lebih bahagia ketika bisa melihat senyum itu mengembang.
“I’ll try to make you meaningfull”
9 February 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar