Cari Blog Ini

Senin, 09 Februari 2015

Andai Kau Bahagia



            Aku kira sejauh ini aku sudah menjadi orang yang terbaik, untukmu. Aku pikir setelah kita banyak melewati kisah yang sungguh berliku, akulah yang paling kuat mempertahankan. Namun sayangnya, belum. Apapun yang aku lakukan sungguh amat kurang. Entah darimana, rasanya setelah rasa “kurang” itu tenggelam cukup lama, ia muncul begitu saja. Seakan menamparku. Plak! Keras sekali. Berkata kalau aku belum seberapa. Berkata kalau aku belum ada apa-apa. Bah! Baru kali ini aku sungguh merasakan arti memperjuangkan. Entahlah, yang aku pikul sungguh berat. Kewajiban yang harus aku penuhi meski berat, sungguh aku tak merasakannya. Terbawa suasana indah berjalan bersama. Kau tahu? Kewajiban itu adalah membahagiakanmu. Kewajiban yang tak pernah lalai aku lakukan. Seberapa kecilpun harga atas kewajiban itu, aku mati-matian melakukannya untukmu. Seandainya kamu tahu, aku sama sepertimu “ingin sempurna”. Wajar, bukan? Aku ingin menjadi sosok yang sempurna. Utuh. Tak kurang sama sekali. Kau benar, aku hanya sekedar “ingin”. Usahaku belum berbuah. Tumbuhan itu sedang aku tanam. Sedang aku rawat dengan baik. Hingga nanti berbuah manis. Sedang aku tunggu. Sungguh.
            Jika mungkin aku bisa menjanjikan kebahagiaan itu, aku ingin berkata langsung kepadamu. Dalam malam yang pekat. Angkasa yang indah memberikan panorama bintang. Akan aku hadirkan bulan, menghadirkan hati kita yang tak hentinya meletup. Menghadirkan senyum indah itu. Lantas, aku berkata, “Aku berjanji, membahagiakanmu.” Belum jelas bagaimana jalannya. Belum tahu bagaimana caranya. Yang penting aku berjanji. Tapi, aku tidak. Anggap saja semua tentang bulan, hati, dan senyum tadi adalah gambaran. Kenyataannya, tidak. Aku tidak mau mengatakannya. Kenapa? Karena aku tidak ingin berjanji di depanmu. Lantas membiarkan bulan melihatnya. Membiarkan hatimu meletup kencang tak terkendali. Membiarkan senyum itu merekah menjadi saksi. Tidak. Aku tidak akan berjanji. Tetapi, aku akan memberikanmu kebahagian meski tak harus aku janjikan. Aku akan selalu berkata, “Mari kita saling membahagiakan.” Bukankah lebih indah di dengar? Kau selalu berkata segalanya yang dilakukan berdua selalu menyenangkan, bukan? Nah, kali ini aku menurut. Percaya. Aku membahagiakanmu. Dan kau membahagiakanku. Tidak! Tentu saja aku tidak minta dibahagiakan sebagai bayaran. Aku sungguh melakukan itu atas nama sebuah kewajiban. Sebagai seorang pendamping, bukankah aku seharusnya demikian? Sayangnya, kewajiban itu sungguh belum berjalan sepenuhnya. Maaf. Aku pasti akan lebih berusaha.
            Bagiku, kebahagian bukan soal bisa atau tidak bisa. Namun soal bagimana dan seberapa. Aku tentu sudah mempersiapkan segala bentuk “bagimana” dan “seberapa”. Namun, tidak semua bisa membahagiakan. Memang seperti itu. Inilah hidup. Berbeda. Ada yang bilang, bahagia hanya ada pada mimpi. Pada cerita khayal ftv. Pada kisah-kisah kerajaan barat. Kau harus tahu, itu tidak benar. Kembali pada “bagimana”. Aku sungguh menjabarkan kata “bagaimana” menjadi ratusan. Agar aku tetap memiliki jawaban dari “bagaimana cara membahagiakanmu?” itu lebih banyak. Dan hingga saat ini, aku yakin, kau belum sebahagia yang aku perkirakan. Ah! Kau tentu akan menolak aku berkata demikian. Namun, sungguh targetku untuk membahagiakanmu jauh dari ini. Mungkin ke level sangat teramat bahagia sekali. Atau lebih. Atau hingga tak terhingga. Dan itu belum aku capai. Tapi tenang, wanitamu ini sungguh akan berusaha keras. Bagiaman dengan seberapa? Oh iya, setiap aku merasa sudah membahagiakanmu, aku selalu bertanya pada diriku sendiri,”sudah seberapa tinggi aku membahagiakanmu?”. Nah, pertanyaan sakral yang tentu tidak bisa aku jawab sendiri. Aku selalu menjadi orang yang sok tahu. Mencoret kertas. Awalnya menggambar sebuah garis tegak lurus. Lalu, aku membuat presentasi kebahagiaan itu sedikit demi sedikit. Sok tahu. Sok nulis. Biar terhilat sudah seberapa tinggi. Dan tentu saja aku selalu menggambar dibawah angka 10. Karena aku masih sadar kemampuanku. Belum setinggi target. Bahkan jauh dari sempurna. Belum melewati separuhnya. Memang susah. Tapi sekali lagi, kau tenang saja. Aku tentu tidak akan berhenti berusaha sebelum kau benar-benar memintaku untuk berhenti.
            Hari demi hari “bersama” kita, aku sungguh berusaha keras membuatmu bahagia. Aku ingin membahagiakanmu dengan caraku. Dengan apa adanya aku. Dengan apa yang aku miliki. Tentu saja dengan ketulusan. Harga mati yang sungguh sudah aku berikan. Aku tidak ingin membahagiakanmu dengan keterpaksaan. Dengan hati yang gelap. Sungguh, tidak ada dalam tujuanku. Aku akan selalu berkata bisa bila aku bisa melakukannya demi membuatmu bahagia. Atau aku akan mengatakan tidak, bila aku harus menunda untuk membuatmu bahagia. Kini kau tahu, bukan? Aku sungguh tidak ingin membahagiakanmu dengan terpaksa. Aku ingin membahagiakanmu dengan tulus. Dengan tanganku sendiri. Bukan karena campur tangan orang lain.
            Sekali lagi aku tegaskan, semahal apapun harga dari kebahagianmu itu, sungguh akan aku tebus sebisaku. Akan aku beli dengan usahaku. Kau harus tahu. Jadi, kau kini tidak perlu takut aku akan bekata iya atau tidak. Karena sesungguhnya membahagiakanmu adalah sebuah kewajiban yang tidak akan pernah aku lalaikan. Sekecil apapun itu, jika itu bisa membahagiakanmu, akan aku usahakan. Karena andai kamu bahagia, ada hati yang lebih bahagia ketika bisa melihat senyum itu mengembang.



“I’ll try to make you meaningfull”
9 February 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar