Cari Blog Ini

Sabtu, 21 Februari 2015

Kita Dalam Waktu Terbaik



            “Pagi itu matahari bersinar terang. Menyilaukan. Sinarnya menembus kaca kamar kita yang tidak lebih dari satu meter ini. Membentuk sebuah bayangan tegak lurus kearah tempat tidur serba putih kita. Menyilaukan mata kita berdua. Memaksa tubuh kita untuk beranjak. Namun tubuh kita  malah semakin kita benamkan. Lelah, setelah semalaman bekerja. Membuat kita sungguh betah mengistirahatkan diri. Membenamkan wajah kita dari balik selimut. Tidak peduli sinar matahari semakin menyilaukan, kita tetap berusaha membenamkan mata. Namun itu hanya berlangsung beberapa menit. Mataku enggan mengatup sempurna. Tidak bisa lebih lama membenamkan selimut sepertimu. Melihat wajahmu yang letih setelah seharian bekerja, membuatku semakin bersyukur, kau masih menemaiku hingga pagi ini.
            Dari balik pintu, seorang anak kecil berjalan dengan tertatih. Maklum saja, ia baru belajar berjalan. Kakinya belum bisa sempurna menapaki lantai. Tangan mungilnya mengucek kedua matanya. Sesekali merengek memanggilku. Aku tersenyum mendengar rengekannya yang semakin keras. Aku bangkit, tetap duduk di tempat tidur sambil membelai lembut wajahmu yang masih terlelap. Aku rasakan, kaki mungil itu semakin mendekat. Perlahan tapi pasti, tangan kanannya membuka gagang pintu. Wajahnya yang manis, matanya yang bulat menyembul sempurna dari balik pintu. Seperti biasa, mata bulat itu berair. Tangannya sesekali masih mengucek perlahan. Membuat matanya semakin berair. Dengan tertatih, ia berjalan ke arahku. Aku yang masih duduk diatas tempat tidur, menyambutnya dengan senyum ramah. Ucapan selamat pagi sambil mencium keningnya adalah sapaan wajib setiap pagi. Tangannya meraih tanganku. Minta digendong. Aku angkat tubuhnya yang gendut. Kemudian aku pangku. Dia merengek lagi. Meraung-raung minta dipeluk. Aku memeluknya hangat. Mencium keningnya berkali-kali. Putri kecil ini tersenyum. Matanya semakin membulat. Sungguh, bisakah kau bayangkan betapa lucunya dia? Wajahnya ia benamkan di depan wajahmu. Hei, kau seharusnya bangun. Melihat putri kecilmu dengan jahil menggigit hidungmu agar kau terbangun. Ia masih saja berusaha, sementara kau masih tetap terpejam. Kau tahu, ini adalah sebuah pemandangan yang sungguh mahal.
            Aku tersenyum melihat tingkah putri kecil kita yang jahil menggigit hidungmu berkali-kali. Sesekali ia gemas, kemudian tangannya meremas rambutmu yang baru saja kau pangkas itu. Hei, bangunlah! Kau harus tahu betapa ia sungguh berusaha membuat matamu tak mengatup lagi. Ia sungguh berusaha membuatmu terbangun agar mendapat pelukan hangat darimu. Namun, usahanya tak berbuah. Kau tetap saja terlelap. Dan putri kecil kita mungkin sudah lelah. Aku kemudian beranjak. Bermaksud menyiapkan sarapan pagi untuk kita bertiga. Dan kau tahu? Putri kecil kita mengikuti langkahku. Meski masih tertatih, senyumnya selalu mengembang sambil mencoba mengimbangi langkahku agar kami sampai pada tempat yang sama. Aku kembali tersenyum. Pemandangan mahal ini kembali terulang.
            Aku mulai mengoleskan selai ke beberapa lembar roti dan putri kecil kita juga melakukan hal yang sama. Ia mnegambil selai kesukaannya. Selai coklat. Kemudian ia oleskan ke selembar roti yang sebelumnya telah ia ambil dari tempat roti. Selainya tak teroleskan sempurna. Berjatuhan disana sini. Sialnya, puti kecil kita tidak menyadarinya. Tangannya yang mungil tetap mengoles roti yang ada ditangannya. Aku menggenggam tangannya. Kemudian aku bantu mengoleskan ke rotinya agar tak berceceran kemana-mana. Berkali-kali ia mengoceh tak jelas. Maklum saja, ia baru bisa menghafal beberapa kata yang mudah. Lidahnya masih sulit menerima kata yang sulit. Matanya yang bulat berkedip kedip. Rambutnya yang halus bergoyang indah. Sekarang, putri kecil kita berjalan riang kembali ke kamar. Membawa sebuah roti selai coklat ditangan kanannya. Aku mengikutinya dari belakang. Membiarkan putri kecil kita berjalan tertatih mendahuluiku. Ada segelas susu putih dan beberapa roti selai yang aku bawa tentu saja untuk kita bertiga.
            Sampai dikamar, kau masih terlelap. Kali ini, posisinya berubah. Wajahmu menghadap kelangit-langit. Tanganmu kau rentangkan. Seakan-akan siap memeluk kami berdua. Putri kecil kita setengah berlari ke arahmu. Membiarkan roti dengan selai coklat itu ikut bergoyang hebat. Kakinya yang mungil naik keatas tempat tidur, kemudian mencium keningmu. Bisakah kau rasakan ciuman hangat itu? Ciuman itu adalah ciuman putri kecilmu yang sudah dengan susah payah membuatkanmu sarapan. Kau kemudian setengah terbangun. Melihat sekitar. Kemudian berhenti pada putri kecil kita. Kau terseyum hangat. Putri kecil kita juga demikian, tersenyum manis sekali. Mencoba memperlihatkan giginya yang masih seberapa. Tangan kanannya memberikan sebuah roti selai coklat kepadamu. Dengan senyum sumringah, kau menerimanya. Ah, sungguh pemandangan ini adalah pemandangan yang tidak dapat diganti dengan apapun. Betapa bahagianya aku melihat dua orang yang paling aku sayangi bercengkrama berdua. Manis sekali. Aku berjalan mendekat. Sambil membawa segelas susu untukmu. Kau kemudian tersenyum kepadaku. Seperti biasa, memberi ucapan selamat pagi kemudian mencium keningku hangat. Putri kecil kita kembali meraung minta dipeluk. Kau kemudian dengan sigap memeluk tubuhnya yang mungil. Di gelindingkan ke kanan dan ke kiri. Membuat tawa putri kecil kita pecah. Berkali-kali kau mendaratkan ciuman ke keningnya, pipinya, bahkan ke punggungnya. Kau sungguh membuat putri kecil kita bahagia.”
            Nah, bisakah kau membayangkan kejadian itu setiap kali kau terbangun dari tidurmu? Bisakah kau membayangkan ada tangan mungil yang membangunkanmu ketika kau sungguh tidak ingin terbangun. Bisakah kau membayangkan ada aku yang setiap pagi membuatkan sarapan untuk kita bertiga? Nah, jika kau bisa membayangkannya, apakah perasaan dalam hatimu akan membuncah? Seperti yang sedang aku rasakan saat ini. Kau tahu, aku sungguh membayangkan saat-saat itu terjadi, komandan. Aku sungguh ingin kita benar-benar hadir dalam waktu terbaik. Tak peduli berapa lama, waktu itu akan hadir. Aku akan senantiasa menunggumu hingga kau bisa mewujudkannya bersamaku. Aku akan hadir bersamamu di setiap proses yang akan kita lalui. Aku ingin menemanimu dalam proses hingga esok kita sudah sampai di atas. Di waktu terbaik kita. Aku akan bersabar demi mendapatkan waktu terbaik yang sudah kita janjikan. Jadi, tolong pastikan bahwa kau sungguh ingin mewujudkannya bersamaku. Sungguh ingin mendapatkan waktu terbaik itu. Berdua. Karena kau telah berjanji, semoga semua ini bisa menjadi nyata.



You wanna get it all, bae?
21 February 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar