“Pagi
itu matahari bersinar terang. Menyilaukan. Sinarnya menembus kaca kamar kita
yang tidak lebih dari satu meter ini. Membentuk sebuah bayangan tegak lurus
kearah tempat tidur serba putih kita. Menyilaukan mata kita berdua. Memaksa
tubuh kita untuk beranjak. Namun tubuh kita malah semakin kita benamkan. Lelah, setelah
semalaman bekerja. Membuat kita sungguh betah mengistirahatkan diri.
Membenamkan wajah kita dari balik selimut. Tidak peduli sinar matahari semakin
menyilaukan, kita tetap berusaha membenamkan mata. Namun itu hanya berlangsung
beberapa menit. Mataku enggan mengatup sempurna. Tidak bisa lebih lama
membenamkan selimut sepertimu. Melihat wajahmu yang letih setelah seharian
bekerja, membuatku semakin bersyukur, kau masih menemaiku hingga pagi ini.
Dari
balik pintu, seorang anak kecil berjalan dengan tertatih. Maklum saja, ia baru
belajar berjalan. Kakinya belum bisa sempurna menapaki lantai. Tangan mungilnya
mengucek kedua matanya. Sesekali merengek memanggilku. Aku tersenyum mendengar
rengekannya yang semakin keras. Aku bangkit, tetap duduk di tempat tidur sambil
membelai lembut wajahmu yang masih terlelap. Aku rasakan, kaki mungil itu
semakin mendekat. Perlahan tapi pasti, tangan kanannya membuka gagang pintu.
Wajahnya yang manis, matanya yang bulat menyembul sempurna dari balik pintu.
Seperti biasa, mata bulat itu berair. Tangannya sesekali masih mengucek
perlahan. Membuat matanya semakin berair. Dengan tertatih, ia berjalan ke
arahku. Aku yang masih duduk diatas tempat tidur, menyambutnya dengan senyum
ramah. Ucapan selamat pagi sambil mencium keningnya adalah sapaan wajib setiap
pagi. Tangannya meraih tanganku. Minta digendong. Aku angkat tubuhnya yang gendut.
Kemudian aku pangku. Dia merengek lagi. Meraung-raung minta dipeluk. Aku memeluknya
hangat. Mencium keningnya berkali-kali. Putri kecil ini tersenyum. Matanya
semakin membulat. Sungguh, bisakah kau bayangkan betapa lucunya dia? Wajahnya
ia benamkan di depan wajahmu. Hei, kau seharusnya bangun. Melihat putri kecilmu
dengan jahil menggigit hidungmu agar kau terbangun. Ia masih saja berusaha,
sementara kau masih tetap terpejam. Kau tahu, ini adalah sebuah pemandangan
yang sungguh mahal.
Aku
tersenyum melihat tingkah putri kecil kita yang jahil menggigit hidungmu
berkali-kali. Sesekali ia gemas, kemudian tangannya meremas rambutmu yang baru
saja kau pangkas itu. Hei, bangunlah! Kau harus tahu betapa ia sungguh berusaha
membuat matamu tak mengatup lagi. Ia sungguh berusaha membuatmu terbangun agar mendapat
pelukan hangat darimu. Namun, usahanya tak berbuah. Kau tetap saja terlelap.
Dan putri kecil kita mungkin sudah lelah. Aku kemudian beranjak. Bermaksud
menyiapkan sarapan pagi untuk kita bertiga. Dan kau tahu? Putri kecil kita
mengikuti langkahku. Meski masih tertatih, senyumnya selalu mengembang sambil
mencoba mengimbangi langkahku agar kami sampai pada tempat yang sama. Aku
kembali tersenyum. Pemandangan mahal ini kembali terulang.
Aku
mulai mengoleskan selai ke beberapa lembar roti dan putri kecil kita juga
melakukan hal yang sama. Ia mnegambil selai kesukaannya. Selai coklat. Kemudian
ia oleskan ke selembar roti yang sebelumnya telah ia ambil dari tempat roti.
Selainya tak teroleskan sempurna. Berjatuhan disana sini. Sialnya, puti kecil
kita tidak menyadarinya. Tangannya yang mungil tetap mengoles roti yang ada
ditangannya. Aku menggenggam tangannya. Kemudian aku bantu mengoleskan ke
rotinya agar tak berceceran kemana-mana. Berkali-kali ia mengoceh tak jelas. Maklum
saja, ia baru bisa menghafal beberapa kata yang mudah. Lidahnya masih sulit
menerima kata yang sulit. Matanya yang bulat berkedip kedip. Rambutnya yang
halus bergoyang indah. Sekarang, putri kecil kita berjalan riang kembali ke
kamar. Membawa sebuah roti selai coklat ditangan kanannya. Aku mengikutinya
dari belakang. Membiarkan putri kecil kita berjalan tertatih mendahuluiku. Ada segelas
susu putih dan beberapa roti selai yang aku bawa tentu saja untuk kita bertiga.
Sampai
dikamar, kau masih terlelap. Kali ini, posisinya berubah. Wajahmu menghadap
kelangit-langit. Tanganmu kau rentangkan. Seakan-akan siap memeluk kami berdua.
Putri kecil kita setengah berlari ke arahmu. Membiarkan roti dengan selai
coklat itu ikut bergoyang hebat. Kakinya yang mungil naik keatas tempat tidur,
kemudian mencium keningmu. Bisakah kau rasakan ciuman hangat itu? Ciuman itu
adalah ciuman putri kecilmu yang sudah dengan susah payah membuatkanmu sarapan.
Kau kemudian setengah terbangun. Melihat sekitar. Kemudian berhenti pada putri kecil
kita. Kau terseyum hangat. Putri kecil kita juga demikian, tersenyum manis
sekali. Mencoba memperlihatkan giginya yang masih seberapa. Tangan kanannya
memberikan sebuah roti selai coklat kepadamu. Dengan senyum sumringah, kau
menerimanya. Ah, sungguh pemandangan ini adalah pemandangan yang tidak dapat
diganti dengan apapun. Betapa bahagianya aku melihat dua orang yang paling aku
sayangi bercengkrama berdua. Manis sekali. Aku berjalan mendekat. Sambil membawa
segelas susu untukmu. Kau kemudian tersenyum kepadaku. Seperti biasa, memberi
ucapan selamat pagi kemudian mencium keningku hangat. Putri kecil kita kembali
meraung minta dipeluk. Kau kemudian dengan sigap memeluk tubuhnya yang mungil. Di
gelindingkan ke kanan dan ke kiri. Membuat tawa putri kecil kita pecah. Berkali-kali
kau mendaratkan ciuman ke keningnya, pipinya, bahkan ke punggungnya. Kau sungguh
membuat putri kecil kita bahagia.”
Nah,
bisakah kau membayangkan kejadian itu setiap kali kau terbangun dari tidurmu? Bisakah
kau membayangkan ada tangan mungil yang membangunkanmu ketika kau sungguh tidak
ingin terbangun. Bisakah kau membayangkan ada aku yang setiap pagi membuatkan
sarapan untuk kita bertiga? Nah, jika kau bisa membayangkannya, apakah perasaan
dalam hatimu akan membuncah? Seperti yang sedang aku rasakan saat ini. Kau tahu,
aku sungguh membayangkan saat-saat itu terjadi, komandan. Aku sungguh ingin
kita benar-benar hadir dalam waktu terbaik. Tak peduli berapa lama, waktu itu
akan hadir. Aku akan senantiasa menunggumu hingga kau bisa mewujudkannya
bersamaku. Aku akan hadir bersamamu di setiap proses yang akan kita lalui. Aku ingin
menemanimu dalam proses hingga esok kita sudah sampai di atas. Di waktu terbaik
kita. Aku akan bersabar demi mendapatkan waktu terbaik yang sudah kita
janjikan. Jadi, tolong pastikan bahwa kau sungguh ingin mewujudkannya
bersamaku. Sungguh ingin mendapatkan waktu terbaik itu. Berdua. Karena kau
telah berjanji, semoga semua ini bisa menjadi nyata.
You wanna get it all, bae?
21 February 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar