Cari Blog Ini

Sabtu, 28 Februari 2015

Berlangsung Selamanya


Pernah kau berpikir akan ada masa-masa buruk di antara kita? Saat mata ini benar-benar tak bisa menjangkaumu, mulutku yang tak bisa berbicara langsung, menyentuh apalagi. Saat jarak kembali menjadi tembok besar menghalangi jarak pandangku dengan sempurna. Apa yang bisa kulakukan? Katakanlah. Kau tau aku belum bisa mengatasi ini. Belum bisa jauh dari dekap hangatmu. Dan kau harus tau, setiap saat masalah ini selalu berhasil menembus otak, selalu menempati satu ruang kosong di pikiranku. Setiap pagi, entah kenapa aku selalu memikirkan ini. Memikirkan jalan keluar terbaik. Agar kau tetap bersamaku, tak peduli akan ada atau tidak ada di samping. Tapi bagaimana?
Aku membuka tirai, membiarkan cahaya pagi menerobos kaca jendela. Cahaya melesat menyinari setengah bagian kamar. Aku bangkit dari tempat tidur, beranjak keluar. Biasanya banyak orang-orang giat berlari, jogging, berkeringat. Biasa, rutinitas di Minggu pagi. Selalu ada yang memanfaatkanya untuk olahraga. Memaksa badan mereka bergerak teratur. Aku melihat beberapa pasangan berlari bersisian, bercanda.  Dasar pecinta otot gadungan! Haha. Aku menyengir, kembali melihat sekeliling. Ada beberapa anak kecil yang berlari kali ini. Tunggu, ternyata mereka sedang berlomba. Memaksa kedua kaki untuk bekerja cepat melesat. Berlomba meninggalkan satu sama lain. Setelah mencapai titik finish yang ditentukan, si pemenang tertawa bangga. Sambil gagah menepuk-nepuk dadanya sendiri, mengoceh tak karuan. Seperti pemenang lomba jarak pendek profesional. Mengejek teman-teman yang kalah. Tak peduli nafasnya hampir putus sejak tadi. Anak yang lain hanya ngos-ngosan mengiyakan. Tentu saja, setelahnya mereka tertawa bersama. Tapi anak kecil selalu begitu bukan? Mereka melakukan apapun sambil tertawa lepas seolah tidak ada beban, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bukan kan itu masa-masa indah? Tidak ada masalah yang berarti, tidak ada masalah yang sempurna mengganggu otak mereka. Tinggal waktu saja yang selalu menjadi sosok pengubah. Hei, tapi apakah kalian ingin seperti itu selamanya? Tertawa lepas, banyak teman, tak peduli sakit asalkan senang! Sungguh, kalian tak ingin bukan? Nah berarti waktu memang punya tujuan. Punya sisi baik, dan menjadi guru yang baik. Bukankah semakin besar umur akan semakin besar problematika? Selalu akan ada masalah yang tak bisa lepas dari pikiran.
Saat ini, aku juga begitu. Memikirkan bagaimana ini bisa terlewati. Bukan! Bagaimana kita bisa melewati ini berdua. Karena sungguh, aku tak ingin ada yang tertinggal. Aku tak ingin menjadi tokoh yang meninggalkan ataupun ditinggalkan. Bukankah sudah jelas? Aku akan tetap berdiri tegak di saat-saat terbaik itu muncul. Kamu? Tentu saja juga akan berdiri di sampingku, tersenyum bangga. Kamu selalu menjadi sosok yang aku inginkan. Akan tetap menjadi sosok hebat saat aku terjatuh. Nah terjatuh. Apa kau akan selalu disampingku saat aku tersungkur? Apa kau akan tetap menegakkan kepalaku saat aku tak berdaya tertunduk? Dan apa tanganmu akan tetap memegang erat tanganku saat aku tak bisa beranjak? Tolong katakan kamu bisa melakukan itu semua. Sungguh, aku ingin kau menjadi penenang. Dan aku selalu tau dan yakin, bahwa kaulah orangnya! Kau yang akan menjadikan aku gagah, kau yang akan selalu membuatku terus menerjang hambatan tanpa ampun, kau yang pasti akan mengubahku menjadi baik. Dan pada akhirnya, saat-saat terbaik itu bisa kita wujudkan. Bisakah?
Aku kembali tersenyum. Menatap sekeliling datar, memikirkan sesuatu. Hei bukankah dulu aku sangat keukeuh tentang opini nothing last forever? Bahwa sesuatu, seseorang, apapun itu tidak akan bisa berlangsung selamanya. Tidak akan selamanya bisa ada disamping, tidak akan bisa benar-benar kita rasakan selalu, tidak ada hal yang bisa kita lihat seutuhnya. Apapun itu, sekuat apapun kita ingin mempertahankannya. Akan hilang, akan pergi. Nah kalian tinggal pilih, dengan cara apa sesuatu itu akan pergi. Kalian akan melepaskannya dengan lembut, menerima. Atau ingin mengilangkannya dengan memaksa. Yang bisa menyakiti diri kalian sendiri malah. Nah kalian ingin tau kenapa aku stagnant dengan opini ini? Karena selalu, waktu bisa merubah segalanya. Bekerja tanpa diminta, tak bisa berhenti sekalipun seluruh dunia bersatu menentang. Bahkan, dilambatkan saja tidak akan bisa. Sungguh, sebenci apapun kita dengan perubahan ini. Kita hanya bisa menerima. Tidak peduli dengan cara apa penerimaan itu hadir. Terserah kalian jika kalian akan menerima dengan tertunduk, menangis. Dengan memaki, menghujam. Atau dengan tatapan teduh, mengikhlaskan. Nah apakah waktu akan merubah kita? Apakah jika benar bisa merubah, akankah kita akan kembali bertemu di lintasan yang sejalur, bersisian? Bisa iya, aku harap. Namun bisa tidak. Akan selalu ada kemungkinan terburuk yang muncul.
Nah, apapun yang bisa waktu lakukan. Setidaknya, kita bisa terus berusaha maju kedepan. Bersisian untuk sekarang. Selamanya? Kau tahu aku tetap berdoa untuk yang satu ini. Apakah akan berlangsung selamanya? Entahlah. Setidaknya kita sudah sama-sama berusaha ingin mewujudkannya. Ingin merubah janji-janji masa depan tidak hanya sekedar bualan janji. Tapi entahlah, jika kita terpisahkan karena ulah jarak dan waktu. Apakah kita tetap bisa mengusahakan janji itu? Semoga. Aku tidak akan berhenti sebelum diminta, apakah kau akan memintaku? Aku tidak peduli akan bagaimana jawabanmu sekarang, sungguh aku tidak peduli. Karena sejak dulu aku sudah tau, waktu bisa seenaknya merubah apapun. Aku takut? Tentu. Semua kepergian adalah menyakitkan. Memberi bekas baru, tergores sempurna di hati. Tinggal bagaimana kita memaknai itu semua. Nah apakah kita akan benar-benar menyatu kembali saat jarak dan waktu memisahkan? Aku yakin bisa. Aku yakin.
Aku beranjak. Melangkah pelan ke lantai 2 sambil membawa teh panas hasil seduhan. Kau tau? Aku tipe orang dengan pemikiran dalam. Sekecil apapun masalah itu selalu terngiang di kepala, selalu mendobrak paksa. Bukan memperebutkan tempat kosong, tapi bersatu mengusir semua hal baik. Nah jadi benar, over thinking kills your happiness. Bahwa pemikiran yang berebih mendalam akan mengusir kebahagiaan. Tapi bagaimana lagi, aku memang begitu. Apapun sesuatu yang pergi akan selalu bekerja membebani. Tidak bisa ku bayangkan jika kau pergi, jarak saja tidak bisa aku kalahkan dengan sekali pukul. Apalagi waktu?
Aku tau kau juga akan tetap berjuang sepertiku bukan? Entah apa yang akan kau perjuangkan. Aku selalu berharap itu tetap aku. Aku yang akan dengan mati-matian kau perjuangkan. Dan aku juga akan dengan senang hati melakukannya. Kita hanya bisa berusaha berjalan kedepan. Persetan waktu akan mengubah apapun, tak peduli jika akan membalikan seluruh kebahagiaanku. Aku akan tetap berdiri saat kau berhenti. Tersungkur? Tidak. Aku selalu akan berusaha menerima. Akan selalu berusaha mengerti. Dan akan selalu berusaha memahami seutuhnya. Karena waktu adalah guru yang baik, aku akan menjadi pembelajar yang baik. Tapi kau tahu, aku tidak akan bisa melakukan apapun tanpamu.

Dan, satu beberapa yang harus dilakukan. Menebalkan kepercayaan, tetap berpegangan, jangan lepas. Aku sungguh akan tetap berusaha tetap di jalan yang sama sepertimu. Jadi bisakah kau tetap menguatkan? Sampai salah satu dari kita mencapai batas. Aku tidak akan memintamu berhenti, sungguh. Tapi bisa apa aku jika waktu dengan tegas meminta salah satu dari kita berhenti? Melepaskan. Aku tidak ingin, sungguh kau tau kalau aku tidak ingin begitu bukan? Tapi tenang, asalkan waktu dengan serius memisahkan, aku akan dengan mati-matian menyeretmu kembali. Hingga tangan kita benar-benar erat menyatu. Nanti.



Lived our dreams and take the risks

1 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar