Cari Blog Ini

Selasa, 27 Januari 2015

Untukmu #3



                Sudahkah aku menjadi rumah yang benar-benar nyaman untukmu? Sudahkah sentuhan tanganku ini menjadi sesuatu yang kau rindukan? Kau tahu, aku selalu berusaha membuatmu nyaman berada disisiku. Kau tentu tahu kenapa aku seperti ini. Ya benar! Karena aku ingin menjadi sepertimu. Menjadi sebuah rumah yang nyaman. Yang selamanya ingin aku tinggali. Yang tak ingin aku berikan kepada orang lain. Aku sudah berkali-kali mengatakan demikian, semoga kau tidak bosan mendengarnya.
                Tempo hari kita bertemu lagi. Seperti biasa, duduk berdua. Bersebelahan. Bercerita tentang semua yang terjadi. Lebih tepatnya aku yang bercerita. Dan kau menjadi pendengar yang cukup baik. Aku menyukainya. Namun, maafkan aku. Aku sungguh wanita yang tidak bisa diam. Aku tidak bisa mengerti kalau sesungguhnya kamu mungkin bosan, lelah, atau semacamnya. Maafkan aku. Tapi sekali lagi aku hanya ingin membuatmu nyaman. Sungguh. Aku ingin membuatmu bangga memiliki aku. Maka, aku serahkan padamu semua sifat buruk yang aku miliki. Aku sungguh membutuhkanmu. Aku perlu diperbaiki. Dengan cinta. Ya, aku percaya kekuatan itu. Kau tahu? Aku ingin kau yang memperbaikiku hingga aku benar-benar bisa sejajar berdiri disamping pria yang gagah. Kau juga yang aku inginkan untuk membuatku lebih baik, agar aku bisa menggandeng lenganmu yang kuat kemanapun tanpa kau merasa malu. Aku tahu, kau sungguh mengerti bukan bagaimana perasaan itu terjadi? Ya, terjadi karena sejak awal kau sudah berjalan menjadi sebuah rumah ke arahku. Perlahan, namun pasti. Kau kemudian berhenti disini. Ditempatku berdiri. Kau kemudian mempersilahkanku masuk. Menikmati hangatnya lengan yang gagah itu. Aku ingin, kelak lengan inilah yang mampu melindungiku dari apapun. Kelak, lengan ini juga yang akan menjadi sandaran terakhir hingga aku sudah tak tahu kemana lagi arah yang akan aku tuju. Dan kau sungguh memberikan yang terbaik, untukku. Kemudian kau menyuruhku menggenggam jemarimu. Mempersilahkan jariku memasuki celah yang sudah tersedia. Terdorong masuk, kemudian terperangkap begitu saja. Kau menggenggamnya erat. Seakan tak ingin lepas. Sama sepertiku. Aku juga demikian. Sekaligus berharap semoga jemarimu terus erat. Tak pernah longgar. Agar tak member celah untuk yang lain. Semoga juga jemarimu sanggup menuntunku hingga esok. Hingga nanti. Hingga malam berganti pagi. Hingga hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Dan seterusnya. Semoga saja kau benar-benar tak ingin melepasnya. Sama sepertiku.
                Kemudian, setelah jemari dan lengan yang gagah itu, sekali lagi kau memberiku kenyamanan. Kecupan hangat di kening yang selalu membuatku bak seperti puteri yang benar-benar disayang oleh seorang pangeran.  Kecupan yang hangat itu sungguh merasuk. Masuk kefikiranku, kemudian membuatku tak berhenti berkata bahwa kau kini adalah satu-satunya. Bahwa kau kini adalah yang harus aku tunjukkan kepada dunia, bahwa kini aku juga bisa bahagia. Bahagia bersama pria yang gagah. Dan aku sungguh berjanji kepadamu, aku akan berdiri disampingmu, hingga kau sudah lelah. dan aku akan menopangmu, serapuh apapun kau nanti, aku sudah siap. Karena hati tidak pernah mengajarkan mencintai orang yang rapuh. Tidak mengajarkan bagaimana “meninggalkan” orang lain. Karena hati benar-benar akan berhenti pada orang yang tepat. Pada ruang yang kosong dan cocok. Dan kau tahu? Aku sungguh berharap, ruang yang kosong dihatimu itu adalah milikku. Adalah ruang yang disediakan untukku. Hanya aku. Tidak untuk yang lain. Semoga kau tidak protes jika aku sungguh ingin menempatinya. Sungguh ingin berlama-lama. Semoga saja kau memang hanya untukku. Untukku saja.
                Nah, kau sungguh tahu sekarang bagaimana kenyamanan itu bisa tercipta. Sekarang biar aku yang membuatmu nyaman berada bersamaku. Apa yang harus aku perbaiki selain sifat-sifat burukku tadi? Beritahu aku. Aku ingin sepertimu. Tanpa bagian yang buruk. Aku juga ingin sempurna. Sama seperti yang kau lakukan untukku. Aku juga ingin menjadi satu-satunya. Sama seperti yang kau katakan padaku. Bertitahu aku. Aku tidak ingin ada angin yang menghapus semuanya. Tidak ingin ada air yang menghanyutkan semuanya. Aku hanya ingin menjadi sepertimu, setidaknya aku membuatmu bangga. Setidaknya rasa bangga itu bisa terpercik meski tidak berkali-kali. Setidaknya demikian. Semoga, kau sungguh merasa bangga. Kau sungguh tidak merasa terbebani karena aku. Kau sungguh bahagia. Tertawa lepas. Berdua. Aku ingin ketika kau bertemu denganku, kau tetap tersenyum. Enggan menampakkan wajah cemberutmu yang lucu itu. Bukan main, aku sungguh bahagia melihatnya jika kau tersenyum puas. Bahagia atas pertemuan kita yang kurang sempurna karena aku. Sekali lagi memang akulah pengacaunya. Ah, sungguh aku hanya menjadi pengacau ulung, bukan?
                Aku berjanji akan berkerja keras membenahi kekuranganku. Sungguh, aku tidak ingin rumahku pergi. Kemudian kenyamanan itu hilang. Aku akan berusaha hadir seperti yang kau minta. Tak kurang, juga tak lebih. Aku akan berusaha tetap bersamamu. Berdua. Seperti impian kita bersama, bukan? Nah, aku akan membuktikannya bahwa aku layak berdiri denganmu, pria gagah. Layak untuk menggandeng lenganmu. Layak untuk menemanimu berjalan keliling dunia, sama seperti impianmu kan, komandan? Aku akan buat diriku lebih layak, agar kau bangga memilikiku. Itu saja. Semoga semua ini tak sia-sia. Agar kau tetap menjadi rumah bagiku. Sekarang hingga seterusnya. Semoga….


Still trying
27 January 2015

Jumat, 23 Januari 2015

Untukmu #2



Setelah kejadian malam itu, aku tak henti-hentinya memaki diriku sendiri. Apa yang sudah aku lakukan padamu? Dengan mudahnya aku melukaimu dengan bilas perkataan yang tak pantas bukan? Aku sudah menghujam hatimu dengan lisanku sendiri. Ah iya, aku sungguh tidak tahu diri. Kini, aku sungguh tahu siapa yang mendapat peran antagonis dalam kisah kita. Orang itu adalah aku. Kau tahu kenapa? Karena akulah wanita yang banyak menuntutmu ini dan itu. Akulah wanita yang tidak tahu terimakasih. Wanita yang hanya mampu melihatmu dari segi negatif. Yang masih enggan mengetahui semua usahamu. Yang masih merasa bodoh amat dengan semua yang terjadi. Dia adalah aku. Ada yang perlu kau garis bawahi disini. Bahwa aku tak sebaik di pikiranmu. Aku menyadari betapa aku benar-benar belum bisa melihat usahamu yang gigih itu untukku. Aku hanya seperti bos yang ongkang-ongkang kaki menerima hasil tanpa ingin mengetahui prosesnya. Aku masih buruk. Masih jelek. Masih tidak bisa seperti jutaan manusia sempurna diluar sana.

Meski begitu, aku tetap teramat sangat bersyukur dalam keadaan ini karena adanya kamu. Adanya kamu adalah gelap pekat yang tak ingin aku selesaikan dengan mentari. Adanya kamu adalah udara dingin yang enggan aku tutupi dengan bara api. Aku hanya ingin kau seperti jalan lurus yang tak berpenghuni. Yang tak ingin aku temukan ujungnya. Aku ingin hanya akulah yang berjalan. Hanya akulah yang tetap akan menari bebas. Hanya akulah yang kelak tetap tinggal. Tak ingin beranjak sekecil apapun langkah yang akan tercipta. Kau adalah segalanya. Kau adalah sebuah asa yang aku perjuangkan. Kau adalah sebuah doa yang aku kayuh setiap saat agar sampai hingga tujuan. Asal kau tahu, aku sama sepertimu. Aku juga ingin menjadi ter-segalanya bagimu. Jadi yang terbaik. Jadi yang ternyaman, terindah, tersabar, hingga termenyebalkan. Aku tidak peduli. Akan ada berapa “ter” yang tercipta dalam kamusku. Aku juga tidak peduli tentang peran apa yang akan aku perankan setelah peran antagonis ini. Percayalah, aku belum sebaik yang engkau kira. Kau tentu tahu, aku masih jauh dari kata sempurna. Apalagi untukmu. Buktinya, aku masih melukaimu dengan perkataanku ini. Dan kau tahu, apa yang kini meracuni otakku? Sungguh rasa bersalah yang teramat besar. Mengembang tak terarah. Meski melayang tetap tak mau lepas. Seperti itu. Dan kini aku mau kau benar-benar memaafkan kesalahanku. Meskipun mulut itu tak pernah berkata ini adalah salahku. Tapi maaf, aku tetap menyadari bahwa akulah pengacau dalam kisah ini. Jadi, maafkan aku.

                        Dan kau tahu, untuk kesekian kali kau sudah membuatku bekerja menghasilkan air mata lagi. Kau sudah membuat mata ini berlinang. Memerah. Kau tahu apa alasannya? Karena aku masih belum bisa menghargaimu. Aku kini tahu, betapa gigih usahamu untukku. Aku juga tahu betapa kamu sungguh ingin menjadi yang terbaik untukku. Tak peduli ini akan berhasil atau gagal, kau sudah berusaha cukup keras. Dan aku bisa memastikan, kau takkan pernah gagal. Kau akan menang. Kau akan berdiri diujung. Menggandeng tanganku, kemudian berjalan bersama. Berdua, senyum itu tersimpul indah. Berdua, melangkah dengan yakin bahwa kau adalah untukku. Dan aku akan tetap menjadi milikmu. Selama kau menginginkannya. Semoga untuk seterusnya.

                        Kini, aku ingin duduk berdua denganmu. Berdampingan. Menggenggam jemarimu dengan erat. Menyandarkan kepalaku di tempat yang paling nyaman, pundakmu. Aku ingin melakukannya. Sama sepertimu yang tak pernah keberatan dengan kelakuan manjaku. Dengan egoku. Dengan segalanya yang masih buruk. Tentu saja yang menempel dalam diriku. Aku hanya ingin berdua. Ingin membisikkan padamu bahwa kau sudah menjadi yang terbaik. Setidaknya untuk saat ini. Sungguh, kau harus tahu semua ini bukan hanya tentang aku yang masih buruk, tentang perjalanan kisah kita yang sudah mulai berliku, tetapi juga tentang kamu yang sudah menjadi orang terbaik. Yang datang kepadaku. Merangkul. Kamu adalah tentang apa yang aku rasakan. Cinta, sayang, dan perhatian. Serta kenyamanan sebagai rumah. Lantas apa yang masih kau katakan bahwa kau masih “buruk”, ha? Tentang sikapmu? Ah ya, itu adalah tugasku. Kita bisa berjalan bersama. Membehani kerusakan kita masing-masing. Kau memperbaikiku. Aku memperbaikimu. Bukankah itu menyenangkan? Selalu. Selalu berdua. Itu yang aku mau. Kau juga yang berhak aku bahagiakan kelak. Kau juga yang ingin aku perjuangkan. Aku sungguh lelah jatuh pada hati yang salah. Aku lelah memapah hati yang terus menerus patah. Aku ingin kamu. Sungguh aku tak ingin yang lain. Aku tak ingin memapah hati lagi. Aku hanya ingin membawa hati ini terbang jauh ke angkasa. Membawanya ke singgasana milik orang yang tepat. Dan itu adalah kamu. Singgasana yang Tuhan sediakan untukku.

                        Nah, sekarang aku akan mengakui sesuatu. Maafkan aku yang buta dan tidak melihat bahwa sebenarnya kau berlari mati-matian membawakanku mentari. Maafkan aku juga karena aku sudah tuli. Tidak mau mendengarkan seruan indah yang selalu berusaha kau bisikkan. Sekali lagi maafkan aku juga. Karena aku sudah bisu. Bisu karena sama sekali tak ingin bersuara ketika kau memberiku bulan yang indah. Tapi kini aku sungguh mengerti. Kau melakukannya karena kau ingin aku tetap “ada”. Aku juga demikian. Ingin tetap kau disini. Tidak melangkah. Tidak berubah. Tidak memberi celah bagi orang lain untuk masuk. Hanya kau dan aku. Selalu. Aku ingin membuang waktuku bersamamu. Bukan bersama orang lain. Karena kau sudah teramat baik. Kau berhak mendapatkan hasilnya. Kau pantas berdiri gagah denganku. Wanita yang masih perlu diperbaiki olehmu. Setidaknya kau sudah lakukan dengan baik semua tugasmu. Teramat baik. Jadi, kini biarkanlah aku yang bekerja. Bekerja untuk membuatku sejajar denganmu. Agar kau mau tetap mendampingiku. Seburuk apapun aku.



Still trying
23 January 2015

Rabu, 21 Januari 2015

Untukmu


     Tolong katakan. Apakah aku sudah menjadi yang terbaik untukmu? Karena jika kau tau, aku selalu ingin menjadi baik. Untukmu. Aku hanya ingin selalu membuatmu nyaman jika bersama. Selalu membuatmu merasa rindu jika jarak bagai tembok penghalang. Karena kita sama sama tau, kita selalu punya masalah tentang rindu bukan? Ya, sama sama tidak bisa mengatasi. Tak mau hilang, tak mau pergi. Kenyataan yang indah nan aneh kurasa. Bagaimana tidak. Saat kita teramat dekat dalam pandangan, dekat dalam jangkauan. Saat aku bisa benar benar menyentuhmu. Melihat tawa menyenangkan itu. Masih saja ada rindu yang dengan senang hati selalu hadir. Menguat. Hingga saat jarak membentang lagi. Hal bernama rindu ini malah memberontak sejadi-jadinya. Tak ingin menjauh. Sepertinya rinduku ini tidak bisa jauh-jauh dari rumahnya. Tidak bisa jauh dari kamu.
     Jadi tolong katakan. Apakah aku sudah jadi yang paling baik untukmu? sungguh. Aku selalu mencoba membuat senyummu tersimpul. Membuat tawamu mengembang. Kau tau? Aku selalu ingin bersamamu. Aku ingin kau selalu bahagia, bersamaku. Melihatku. Entah akan berakhir baik atau buruk usaha ini, tapi setidaknya. Aku melakukan ini karena ingin melihatmu nyaman karena memiliki aku. Aku ingin menghapus kekurangan ini, sungguh. Aku akan dengan senang hati melakukannya. Asal senyummu selalu ada, menyimpul indah seperti biasa. Sungguh.
     Aku tau. Setiap individu memiliki sisi buruk, kekurangan. Selalu bukan? Tapi apa salahnya jika aku ingin menjadi yang terbaik? Toh segala upaya ini dilakukan buatmu. Aku tidak ingin kau pergi. Tak ingin kau menghilang. Jangan sampai. Dan kamu tau? Kamu orang kedua yang ingin aku perjuangkan dan bahagiakan lewat hati. Setelah ibuku tentu. Sungguh aku tidak ingin matamu bekerja membuat airmata, lantas membiarkannya jatuh. Sia-sia. Aku tidak ingin sikapku membuatmu tidak nyaman. Apalagi membuat matamu berlinang. Jangan sampai, aku sungguh berusaha. 
     Nah sialnya, aku belum bisa melakukanya. Sampai saat ini. Maaf, aku sungguh minta maaf. Sikapku bebalku masih membuatmu protes. Kamu tau? Sesuatu yang kecil ini masih aku perhitungkan. Masih aku catat. Aku ingat penuh. Sudah aku bilang, aku ingin melihatmu nyaman. Aku tidak ingin ada gangguan kecil dari sikapku membuat tawamu pergi. Tak ingin melihatnya hilang. Dan aku selalu berusaha dengan baik. Berusaha diam, memperhatikan. Sial. Kenapa sikapku tak kunjung berubah? Tak kunjung membaik?
     Iya aku tau. Aku tipe orang keras kepala. Enggan dinasehati, menolak. Iya aku sungguh ingin merubahnya. Kenapa dihadapanmu sikap bebalku ini masih terlihat? Aku ingin menjadi tempatmu bercerita. Ingin menerima segala nasihatmu. Ingin melihatmu tersenyum puas saat nasihatnya di dengar. Tapi egoku masih sibuk bekerja menghalangi. Aku sungguh menghadapi tembok besar dalam situasi ini bukan? Haha. Maafkan aku belum bisa menjadi paling baik. Aku sungguh akan terus berusaha agar kau tetap tinggal. Berusaha agar kita bisa saling menatap tanpa bosan. Disini. Sungguh maafkan aku....  

     Malam ini aku mataku tidak bisa terpejam. Enggan menutup. Bodohnya aku kenapa bisa terkalahkan ego. Terkalahkan sifat sendiri. Sial. Aku masih belum bisa membuatmu bahagia secara utuh bukan? Aku ingin sekali melakukannya. Begitu ingin kau menerima apa yang seharusnya diterima. Kebahagiaan. Aku ingin melihat setiap jengkal raut bahagia itu. Setidaknya aku sudah melakukan apa yang bisa. Menyuruhmu istirahat. Enggan penyakit itu datang. Biarkan saja aku terjaga sendiri. Ingin sebenarnya melihatmu tertidur pulas, disini. Di pundakku. Kau senang melakukannya bukan? Begitu juga aku. Begitu juga dengan aku yang selalu berusaha. Untukmu...


"Work In Progress"
   21 Januari 2015

Sebuah Lagu



It's just another night
And I'm staring at the moon
I saw a shooting star
And thought of you
I sang a lullaby
By the waterside and knew
If you were here,
I'd sing to you
You're on the other side
As the skyline splits in two
I'm miles away from seeing you
I can see the stars
From America
I wonder, do you see them, too?
So open your eyes and see
The way our horizons meet
And all of the lights will lead
Into the night with me
And I know these scars will bleed
But both of our hearts believe
All of these stars will guide us home

Aku matikan lagu yang terakhir aku dengar, All Of The Stars. Lagu ini hanya membuatku semakin memikirkanmu. Aku masih ingat ketika malam itu. Percakapan manis kita memang terjadi hampir setiap waktu. Ah iya, aku memang tidak bisa lepas tanpa mengetahui kabarmu sedetik saja. Mengapa? Karena memang aku memikirkanmu setiap saat. Apakah salah? Tentu saja tidak, kan? Tolong jangan menyalahkan perasaanku. Aku tidak tahu apa yang membuat perasaan ini tumbuh subur. Aku juga tidak mengerti jenis pupuk apa yang aku gunakan. Entahlah, rasanya benar-benar semakin tumbuh. Semakin hijau saja. Aku tidak sabar ingin tahu sampai kapan perasaan ini tumbuh subur. Sampai kapan perasaan ini tidak layu. Semoga saja, pupuk yang tak bernama itu masih aku simpan. Sehingga bisa aku gunakan hingga kapan saja. Hingga kamu masih akan tetap ada disampingku.
            Aku baringkan tubuhku. Aku rentangkan tangan. Nyaman sekali. Kau tahu tidak? Saat seperti inilah aku sering berfikir sesuatu. Hingga saat ini aku masih enggan percaya kenapa aku bisa bersamamu. Hingga detik ini aku masih seperti bermimpi. Mimpi yang indah. Enggan terbangun meski hari sudah mulai berganti dan berganti. Enggan memekakkan mata walau guratan cahaya sudah menyilaukan. Aku juga enggan berpindah posisi. Tak ingin jika mimpi ini bergeser sedikit saja. Aku hanya ingin terlelap. Kalau boleh, aku ingin terus tidur seperti ini. Jika memang ini mimpi. Tolong ijinkan aku untuk terus memejamkan mata. Namun sungguh beruntungnya aku, ini semua bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan. Skenario Tuhan yang sungguh indah. Dia masih mengijinkanku untuk menikmati semuanya dalam kenyataan. Bukan dalam mimpi yang aku paksakan. Kau tahu? Aku mungkin berlebihan. Tapi aku memang enggan berpindah posisi jika ini memang mimpi. Takut, kalau-kalau kau ikut bergeser juga.
            Aku mengambil handphone yang sedari tadi aku letakkan di samping. Kembali aku tekan tombol turn on pada gambar music dan mengalunlah lagu All Of The Stars untuk yang kedua kali. Aku pikir ini akan menjadi lagu cinta kita berdua. Lagu yang sampai kapanpun akan tetap enak di dengar meski untuk bertahun-tahun kedepan. Meski esok akan menjadi lagu kuno yang bahkan sudah dilupakan penggemarnya. Namun, tenang saja Om Ed Sheeren, akan aku pastikan aku tidak akan melupakan lagumu. Bagaimanapun, lagu ini banyak ikut andil dalam perjalanan cintaku dengannya. Selamanya pasti akan aku ingat. Aku berjanji.
            Lagu itu terus saja mengalun dengan lembut. Masuk dari telingaku kemudian merasuki otakku. Berhasil membuat bayangan semu wajahmu. Meski semu, aku berani bertaruh itu mirip sekali dengan wajahmu. Ya! bagaimana tidak? aku hafal betul tabiatmu. Teramat hafal malah. Meski aku orang baru, aku yakin akan tetap menjadi orang yang menghafal semuanya setelah perempuan yang tempo hari kau katakan sebagai orang yang paling lucu, ibumu. Dan tentu dalam hati aku berharap, setelah itu semoga adalah aku. All Of The Stars masih setia beralun hingga menuju reff  yang kedua kali. Lagu ini bak menyihirku. Membuatku seperti terbang mengitari wajahmu. Menyelaminya. Memaksaku menatap mata itu. Mata yang penuh dengan kedamaian. Mata yang seperti mengajakku untuk tetap bersama. Senyum itu? Jangan tanyakan! Aku selalu tidak kuat meliaht kau tersenyum. Simpul yang indah dan menyembul penuh keikhlasan itu tidak hanya menyihir. Bahkan membuatku semakin lekat. Tak ingin lepas. Tak ingin jauh. Hanya ingin mendekat. Dekat sedekat mungkin. Menatapnya. Kemudian mengecupnya lembut. Ada banyak yang bisa aku temukan padamu. Semua rasa yang belum pernah ada didalam hidupku, kau lukis perlahan. Menorehkan warna-warna baru yang tak hanya indah namun sangat memanjakan mata. Ah iya, kau tahu semua ini hanya membuatku semakin rindu. Rindu. Rindu sekali. Bah!
            Beberapa menit berlalu. Aku masih berbaring. Kali ini aku biarkan lagu Thinking Out Loud yang mengalun bebas memenuhi isi ruangan yang tak lebih dari tiga meter ini. Kau ingat tidak? Ketika malam itu kau memintaku untuk menyanyikannya. Kau memaksaku hanya karena lagu ini begitu romantis. Ah iya, kau tentu ingat. Rasa-rasanya aku ingin tertawa sendiri jika teringat malam itu. Aku mati-matian menghafalkan lirik lagu yang sama sekali belum pernah aku dengar. Dan aku harus menyanyikannya untukmu. Tolong jangan tertawakan momen itu. Kau tidak tahu betapa aku sungguh berusaha menghafalkannya hanya untukmu. Hanya untuk mengirim voice note yang berdurasi sepersekian menit? Kau tentu tidak mengerti mengapa aku sungguh mau melakukannya. Akan aku beritahu. Kau sungguh ingin tahu? Aku kira kau juga sudah tahu jawabannya. Karena aku juga merasakan hal yang sama. Sama seperti yang diutarakan dalam lagu itu, “Well, me—I fall in love with you every single day.” Itu adalah jawaban yang paling tepat. Kau harus tahu itu.
            Lagu kedua cinta kita masih mengalun. Hampir pada puncaknya, entahlah, atmosfer apa yang merasukiku setiap aku mendengarkan lagu ini. Rasanya seperti menemukanmu kembali disini. Disampingku. Merasa seperti tak ada jarak yang membentang diantara kita. Seperti tak ada angin yang berhembus. Tak ada tembok besar yang menutup. Aku melihat semua ini lengang. Dan kau ada disini. Disampingku. Hey, ada sesuatu yang ingin aku utarakan. Hingga sekarang aku sungguh tidak ingin kita terberai karena apapun. Hingga nanti aku ingin kau tetap ada disampingku. Dan aku tetap ada di sampingmu. Menyenderkan kepalaku pada bahumu. Mengecup keningku sebagai tanda kau benar-benar akan selalu disini. Tak akan pergi. Sungguh, kau harus mengerti. Aku tak ingin kita berakhir sia-sia. Kelak, aku hanya ingin satu. Kau tetap jadi untukku, dan sebaliknya.
Akan aku biarkan lagu cinta kita itu tetap mengalun. Akan aku biarkan juga tanganku terlentang. Mataku menatap langit-langit kamar yang kosong. Kulitku menahan dingin malam yang menusuk. Dan pikiranku tertuju padamu. Bah! Sulit sekali mengendalikan ini. Rasa rinduku sungguh telah membuncah.

“And, darling, I will be loving you 'til we're 70
And, baby, my heart could still fall as hard at 23
And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Well, me—I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am

So honey now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
I'm thinking out loud
That maybe we found love right where we are”


Yours
21 January 2015


Selasa, 20 Januari 2015

Wajah yang Menenangkan



                Ketika itu, hujan yang turun deras memaksaku untuk tak meneruskan perjalanan. Membuatku untuk berhenti di sebuah pertokoan tua di sudut kota. Di depan sebuah toko buku yang masih terawat baik meski bangunannya sudah kuno. Catnya mengelupas hampir diseluruh bagian. Meski begitu, tempat ini menawarkan kenyamanan bagiku. Menawarkan sebuah pemandangan mahal yang tak bisa aku dapatkan dimanapun. Hanya bisa aku dapatkan disini. Di tempat yang tak lebih dari duapuluh meter ini, aku menemukan sosoknya.
                Hujan tak kunjung berhenti. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam toko. Penjaga tokonya seorang pria tua yang sudah aku kenal baik. Ia adalah mantan sastrawan. Hidupnya sungguh sederhana. Kecintaannya pada sastra membuatnya membangun toko buku ini. Ia mempersilahkanku masuk dengan senyum yang ramah. Senyum yang masih sama. Hangat. Sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Ketika aku bertemu pertama kali dengannya. Raut wajahnya bak sebuah cerita novel yang panjang lebar. Kerutan di wajahnya tergambar jelas. Kacamata tebal yang dipakainya sangat unik. Indah sekali. Aku melangkah memasuki toko buku. Melihat sekeliling. Menyusuri rak satu kemudian ke rak yang lain. Sesekali menarik buku dari rak. Kemudian dibaca bagian belakang sampulnya. Ah, kebiasaan lama. Mataku kembali bergerilya. Menarik dua novel karya novelist terkenal. Kemudian aku bawa ke sebuah meja tua. Duduk disebuah bangku panjang. Kemudian membukanya satu-persatu. Melirik ke samping kanan. Ah iya pria itu! Wajahnya menyembul dari balik tumpukan novel tebal. Matanya fokus melihat tulisan yang berjejer rapi. Tunggu dulu, ia membaca novel yang sama persisi denganku. Karya novelist terkenal yang sama pula. Tiba-tiba rambutnya terjatuh pelan. Kemudian ia sibakkan ke belakang dengan tangan kanan. Ya Tuhan, sungguh menyenangkan melihatnya. Sesekali ia mengernyitkan dahi kemudian mengut-mangut sok mengerti. Dibolak-baliknya kertas novel yang tipis itu satu persatu. Menyenangkan sekali. Aku masih mengamatinya dari sini. Mengamati setiap detail wajahnya. Agar aku cepat mengahafal wajah yang menenangkan itu. Aku belum pernah melihat pria seperti ini sebelumnya. Yang betah berlama-lama berdua dengan sebuah buku. Betah membaca baris demi baris yang berjejer rapi. Tak mengeluh meski mata sudah tak kuat menahan lelah. Ternyata ada pria yang demikian.
                Entahlah, mengamatinya membuatku merasa damai. Rambutnya yang kembali jatuh itu rasanya ingin aku sibakkan. Ingin rasanya mendekat, membaca novel berdua. Membaca kata demi kata secara bergantian. Meski lebih lama, namun aku yakin akan menyenangkan. Aku ingin mendengar desahan nafasnya yang lembut. Memperhatikan dengan detail dahinya yang mengerut. Membantunya menemukan kata-kata indah. Ah, sungguh ingin sekali rasanya. Ingin menemukan kedamaian yang sama. Mengabaikan deru kendaraan yang bising di luar toko buku. Dan fokus pada baris-baris novel romantis sembari membayangkan seakan itu juga terjadi. Ingin juga rasanya ikut menggenggam tangannya. Membantunya memilah novel untuk dibaca bersama. Tak akan bisa dibayangkan, seberapa menyenangkannya bila itu sungguh terjadi. Akan seperti apa degub jantung yang normal ini. Akankah terus berdegub normal ? atau akan lebih cepat dari biasanya? Entahlah, sampai detik ini aku masih duduk diujung bangku. Masih hanya memperhatikannya. Belum berani beranjak.
                Sudah berapa lama aku hanya memandanginya dari sini. Menyiksa. Iya. Betapa tidak? Tanganku sungguh gatal ingin ikut meyibak rambutnya yang jatuh itu. Ah, iya aku tak mengenalnya sama sekali. Mana bisa aku tiba-tiba ikut menyibak rambutnya? Namun, aku memang sungguh ingin mengenalnya. Tidak kuat rasanya, melihatnya hanya menyembul dari balik tumpukan novel tebal. Aku ingin melihat wajahnya. Ingin sekali. Ingin menatap matanya. Siapa tahu, mataku dapat bertemu dengan matanya. Kemudian tumbuhlah rasa tertarik satu sama lain. Sama seperti cerita khayal ftv yang sehari-hari tayang tak tahu jam. Kaki ini rasanya sungguh ingin melangkah maju. Duduk bersebelahan. Ingin sekali. Untuk kesekian kali, aku melihat rambutnya kembali terjatuh. Tanganku reflex terulur. Apa-apaan? Aku kemudian langsung menariknya kembali. Dan, perlahan dagunya terangkat. Menatap kearahku. “DEG” sungguh, benarkah ini semuanya? Rasanya waktu seperti berhenti. Berhenti lama sekali. Mataku benar-benar bertemu. Wajahnya. Ah iya, wajahnya sungguh tenang. Sebuah senyum, tersimpul jelas di bibirnya. Aku menghembuskan nafas. Kaget bukan kepalang. Ia menoleh, kemudian kembali fokus. Pertunjukan telah selesai.
                Aku tersenyum. Meski tidak di depannya. Namun, aku sungguh percaya, ia tahu. Suara hujan berangsur-angsur hilang. Aku melihat ke arah jendela. Sudah terang. Kemudian beranjak, meninggalkan wajah yang penuh dengan ketenangan itu. Aku tersenyum lagi tanpa sepengetahuannya. Aku membawa kedua novel tadi ke penjaga toko. Meminjamnya. Seperti biasa ia tersenyum ramah. Namun kali ini berbeda. Ia melirik ke arah pria itu kemudian berkata, “Dia bernama Fadhil.” Aku tersenyum puas. Setidaknya aku sudah mengetahui namanya. Kalau-kalau aku bertemunya lagi, aku bisa menyuarakan namanya dengan lantang. Semoga.
Semoga pertemuan ini tak berakhir sia sia….

Yours
20 January 2015