Cari Blog Ini

Senin, 19 Januari 2015

Hanya Rindu






                Hari ini aku menulis lagi. Entah, rasa-rasanya perasaanku sungguh tidak karuan. Kau tahu kenapa? Karena aku sungguh tidak bisa berhenti memikirkan keadaan ini. Keadaan dimana aku tidak bisa meraih pipimu yang lembut. Mengusapnya dengan penuh kasih. Kemudian mengecupnya. Ya, keadaan dimana aku hanya bisa diam. Memandangi dari balik layar. Menunggu ponsel yang berdering. Kemudian meraihnya cepat-cepat. Membalas sambil berurai senyum. Begitulah. Hanya bisa dari balik layar. Dan rindu ini semakin berkembang. Sungguh, tak menyenangkan.
                Kau tahu mengapa ini semua sungguh menyiksa? Pertemuan tempo hari, malah membuatku semakin rindu. Rindu ingin bertemu lagi. Rindu ingin duduk berdampingan lagi. Rindu ingin menyandarkan kepala di bahumu yang nyaman. Rindu mengecup keningmu sembari tersenyum. Rindu semuanya. Aku tidak bisa membayangkan, andai suatu saat kita sungguh jauh dan terbentang jarak beratus kilometer. Terpaksa menahan rindu yang mengembang. Tertatih mengabaikan perasaan yang tak karuan. Aku mana bisa? Aku tidak bisa menahannya. Sungguh. Rasanya, ketika malam datang, aku sungguh ingin memelukmu disini. Menyampaikan semua yang aku inginkan. Menghirup bau tubuhmu, sungguh menyenangkan. Benar-benar tak ingin aku lepaskan. Namun, jika suatu saat jarak beratus kilometer itu sungguh terjadi, aku tak bisa membayangkan. Berat. Rasanya tak mampu. Bagaimana denganmu? Apa kau sama denganku? Sama-sama tak bisa mengatasi “rindu”? atau kau hanya biasa saja. Ketika rindu itu melewatimu, apa kau hanya diam? Tak ingin melakukan apapun? Mengabaikan? Ah, entahlah. Aku tak peduli kalau rindu itu hadir lebih dari yang aku perkirakan. Aku juga tak ingin membuatmu merindukanku sama seperti aku merindukanmu berlebihan. Bagiku, merindukanmu adalah salah satu keharusan. Namun, untuk dirindukanmu, aku rasa itu bukan keharusan. Apakah aku berlebihan? Jawab saja. Tak usah memandangiku dengan pandangan aneh. Aku tidak membutuhkannya. Yang jelas aku merindukanmu. Sungguh.
                Sekarang aku memiliki beberapa pertanyaan untukmu. Pertanyaan pertama sungguh aku ingin mendengar jawabannya langsung, “Apa kau merindukanku?”. Aku memang pengecut. Tak berani bertanya langsung dan memastikan jawabannya adalah “ya”. Seperti biasa, aku hanya bisa menulisnya lewat media. Kalau-kalau kamu membacanya, dan berkata dalam hati bahwa kau juga merindukanku. Semoga demikian. Baiklah, untuk pertanyaan kedua, aku tak mengharuskanmu menjawabnya langsung. Aku juga tak mau mendengarnya. Takut hati ini sobek. Ya, semacam itulah. “Sampai kapan kau akan terus merindukanku?”. Nah, kali ini sungguh aku tak memastikan pertanyaan ini berjodoh dengan kata “Selamanya” atau “lama” atau apalah itu. Aku tak mau meracuni otakku dengan pendapatku sendiri. Aku lebih ingin menutup telinga. Tak mendengar jawabannya. Lalu pura-pura sok ngerti. Sungguh, peran yang sangat aku sukai. Pura-pura mengerti. Pura-pura baik-baik saja. Mungkin jika aku adalah bintang film, kedua pertan itulah yang akan aku pilih. Aku akan pura-pura baik-baik saja apabila pertanyaan itu berjodoh dengan kata, “tidak tahu”. Mengapa? Karena aku cukup tahu. Cukup. Aku sungguh tak ingin mendengar apapun lagi. Semuanya akan terasa biasa saja. Tak menarik. Tak spesial. Kecuali satu, rindu. Bukan rindumu kepadaku. Namun, rinduku kepadamu. Semacam itulah. Bisa mengerti?
                Nah, kini aku mempunyai masalah baru dengan rindu itu. Setelah aku mengajukan pertanyaan kepadamu, aku baru menyadari rasa rinduku lebih mengembang. Melebihi ukuran biasanya. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa. Kau tahu bukan, aku sungguh menaruh harapan itu disini. Menaruh benih yang sedang tumbuh itu pada tempat yang paling layak. Merawatnya hingga perlahan tumbuh dan berkembang. Berharap tak akan mati. Hal inilah yang selalu membuat aku rindu. Aku rindu kepadamu untuk benih yang aku tanam ini. Benih darimu. Benih yang kau titipkan kepadaku tempo hari kala itu. Kau minta aku untuk merawatnya dengan baik agar tidak mati. Kau juga memintaku untuk menjaganya agar terus tumbuh. Dan kau sungguh memberikan pada orang yang tepat. Karena aku melakukannya dengan baik. Mungkin lebih baik dari yang kau minta. Setidaknya, rindu yang aku sampaikan kepadamu sedikit membuat benih ini ikut tumbuh dengan baik. Jadi, bolehkah aku terus merindukanmu seperti biasa? Bolehkah aku terus menaruhmu dalam pikiranku yang bahkan berkecamuk tak berarah? Dan bolehkan aku tetap membiarkan benih itu tumbuh selama aku ingin memilikinya? Kali ini aku optimis semua akan berjodoh pada kata “Ya”.
                Rindu kini menjadi teman bagiku. Sungguh, bila hujan datang seperti ini. Dingin yang menusuk. Ah, semuanya. Aku sungguh ingin kamu hadir. Hadir dalam nyata. Bukan dibalik layar. Hadir benar-benar untukku. Hadir untuk mengobati rinduku yang telah menjadi-jadi ini. Jadi, apakah aku berlebihan ketika aku merindukanmu? Hingga aku menulis lagi seperti ini? Hingga aku meluangkan waktuku hanya untuk menuliskan beberapa paragraf tentang rinduku. Yang mungkin tak akan sempat kau baca. Yang mungkin akan tenggelam. Atau yang mungkin bahkan akan kau abaikan. Menurutmu, seberapa pengecutkah aku? Yang hanya berkata rindu dalam barisan paragraf dan terlalu rumit untuk dimengerti. Sungguh, tak berani berkata “rindu” yang sesungguhnya kepadamu. Ah, sudahlah. Yang jelas aku rindu. Rindu sekali. Semoga ini tak membuatmu risih atau apalah itu. Karena aku benar-benar rindu. Benar-benar ingin mengecup keningmu dengan hangat. Ketika aku menulis ini, ada hal yang perlu engkau tahu. Aku menulisnya dengan perasaan rindu. Rindu yang bahkan tak bisa kau ketahui seberapa dalamnya. Dan aku akan tetap merasa nyaman meski sedikit tersiksa. Karena apa? Karena kau belum menjawab pertanyaan pertamaku.
Baiklah, semoga kau merindukanku juga….




Your secret girl (again).
19 January 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar