Hari
ini aku menulis lagi. Entah, rasa-rasanya perasaanku sungguh tidak karuan. Kau
tahu kenapa? Karena aku sungguh tidak bisa berhenti memikirkan keadaan ini.
Keadaan dimana aku tidak bisa meraih pipimu yang lembut. Mengusapnya dengan
penuh kasih. Kemudian mengecupnya. Ya, keadaan dimana aku hanya bisa diam.
Memandangi dari balik layar. Menunggu ponsel yang berdering. Kemudian meraihnya
cepat-cepat. Membalas sambil berurai senyum. Begitulah. Hanya bisa dari balik
layar. Dan rindu ini semakin berkembang. Sungguh, tak menyenangkan.
Kau
tahu mengapa ini semua sungguh menyiksa? Pertemuan tempo hari, malah membuatku
semakin rindu. Rindu ingin bertemu lagi. Rindu ingin duduk berdampingan lagi.
Rindu ingin menyandarkan kepala di bahumu yang nyaman. Rindu mengecup keningmu
sembari tersenyum. Rindu semuanya. Aku tidak bisa membayangkan, andai suatu
saat kita sungguh jauh dan terbentang jarak beratus kilometer. Terpaksa menahan
rindu yang mengembang. Tertatih mengabaikan perasaan yang tak karuan. Aku mana
bisa? Aku tidak bisa menahannya. Sungguh. Rasanya, ketika malam datang, aku
sungguh ingin memelukmu disini. Menyampaikan semua yang aku inginkan. Menghirup
bau tubuhmu, sungguh menyenangkan. Benar-benar tak ingin aku lepaskan. Namun,
jika suatu saat jarak beratus kilometer itu sungguh terjadi, aku tak bisa
membayangkan. Berat. Rasanya tak mampu. Bagaimana denganmu? Apa kau sama
denganku? Sama-sama tak bisa mengatasi “rindu”? atau kau hanya biasa saja.
Ketika rindu itu melewatimu, apa kau hanya diam? Tak ingin melakukan apapun?
Mengabaikan? Ah, entahlah. Aku tak peduli kalau rindu itu hadir lebih dari yang
aku perkirakan. Aku juga tak ingin membuatmu merindukanku sama seperti aku
merindukanmu berlebihan. Bagiku, merindukanmu adalah salah satu keharusan.
Namun, untuk dirindukanmu, aku rasa itu bukan keharusan. Apakah aku berlebihan?
Jawab saja. Tak usah memandangiku dengan pandangan aneh. Aku tidak
membutuhkannya. Yang jelas aku merindukanmu. Sungguh.
Sekarang
aku memiliki beberapa pertanyaan untukmu. Pertanyaan pertama sungguh aku ingin
mendengar jawabannya langsung, “Apa kau merindukanku?”. Aku memang pengecut.
Tak berani bertanya langsung dan memastikan jawabannya adalah “ya”. Seperti
biasa, aku hanya bisa menulisnya lewat media. Kalau-kalau kamu membacanya, dan
berkata dalam hati bahwa kau juga merindukanku. Semoga demikian. Baiklah, untuk
pertanyaan kedua, aku tak mengharuskanmu menjawabnya langsung. Aku juga tak mau
mendengarnya. Takut hati ini sobek. Ya, semacam itulah. “Sampai kapan kau akan
terus merindukanku?”. Nah, kali ini sungguh aku tak memastikan pertanyaan ini
berjodoh dengan kata “Selamanya” atau “lama” atau apalah itu. Aku tak mau
meracuni otakku dengan pendapatku sendiri. Aku lebih ingin menutup telinga. Tak
mendengar jawabannya. Lalu pura-pura sok ngerti. Sungguh, peran yang sangat aku
sukai. Pura-pura mengerti. Pura-pura baik-baik saja. Mungkin jika aku adalah
bintang film, kedua pertan itulah yang akan aku pilih. Aku akan pura-pura
baik-baik saja apabila pertanyaan itu berjodoh dengan kata, “tidak tahu”.
Mengapa? Karena aku cukup tahu. Cukup. Aku sungguh tak ingin mendengar apapun
lagi. Semuanya akan terasa biasa saja. Tak menarik. Tak spesial. Kecuali satu,
rindu. Bukan rindumu kepadaku. Namun, rinduku kepadamu. Semacam itulah. Bisa
mengerti?
Nah,
kini aku mempunyai masalah baru dengan rindu itu. Setelah aku mengajukan
pertanyaan kepadamu, aku baru menyadari rasa rinduku lebih mengembang. Melebihi
ukuran biasanya. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa. Kau tahu bukan, aku sungguh
menaruh harapan itu disini. Menaruh benih yang sedang tumbuh itu pada tempat
yang paling layak. Merawatnya hingga perlahan tumbuh dan berkembang. Berharap
tak akan mati. Hal inilah yang selalu membuat aku rindu. Aku rindu kepadamu
untuk benih yang aku tanam ini. Benih darimu. Benih yang kau titipkan kepadaku
tempo hari kala itu. Kau minta aku untuk merawatnya dengan baik agar tidak
mati. Kau juga memintaku untuk menjaganya agar terus tumbuh. Dan kau sungguh
memberikan pada orang yang tepat. Karena aku melakukannya dengan baik. Mungkin
lebih baik dari yang kau minta. Setidaknya, rindu yang aku sampaikan kepadamu
sedikit membuat benih ini ikut tumbuh dengan baik. Jadi, bolehkah aku terus
merindukanmu seperti biasa? Bolehkah aku terus menaruhmu dalam pikiranku yang
bahkan berkecamuk tak berarah? Dan bolehkan aku tetap membiarkan benih itu
tumbuh selama aku ingin memilikinya? Kali ini aku optimis semua akan berjodoh
pada kata “Ya”.
Rindu
kini menjadi teman bagiku. Sungguh, bila hujan datang seperti ini. Dingin yang
menusuk. Ah, semuanya. Aku sungguh ingin kamu hadir. Hadir dalam nyata. Bukan
dibalik layar. Hadir benar-benar untukku. Hadir untuk mengobati rinduku yang
telah menjadi-jadi ini. Jadi, apakah aku berlebihan ketika aku merindukanmu?
Hingga aku menulis lagi seperti ini? Hingga aku meluangkan waktuku hanya untuk
menuliskan beberapa paragraf tentang rinduku. Yang mungkin tak akan sempat kau
baca. Yang mungkin akan tenggelam. Atau yang mungkin bahkan akan kau abaikan.
Menurutmu, seberapa pengecutkah aku? Yang hanya berkata rindu dalam barisan
paragraf dan terlalu rumit untuk dimengerti. Sungguh, tak berani berkata
“rindu” yang sesungguhnya kepadamu. Ah, sudahlah. Yang jelas aku rindu. Rindu
sekali. Semoga ini tak membuatmu risih atau apalah itu. Karena aku benar-benar
rindu. Benar-benar ingin mengecup keningmu dengan hangat. Ketika aku menulis
ini, ada hal yang perlu engkau tahu. Aku menulisnya dengan perasaan rindu.
Rindu yang bahkan tak bisa kau ketahui seberapa dalamnya. Dan aku akan tetap
merasa nyaman meski sedikit tersiksa. Karena apa? Karena kau belum menjawab
pertanyaan pertamaku.
Baiklah, semoga kau merindukanku juga….
Your secret girl (again).
19 January 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar