Cari Blog Ini

Minggu, 18 Januari 2015

Tentang Kamu



                


                    Malam ini, malam yang kesekian aku memutuskan berjalan beriringan bersamamu. Setuju untuk menghabiskan hari bersama. Bergandengan, menikmati jengkal waktu yang akan kita coret dengan banyak warna baru. Hari yang semula aku habiskan sendirian, kini telah aku bagi bersamamu. Kamu, sebagai orang yang selalu aku perhatikan ketika detik berlalu. Sebagai satu-satunya orang yang aku berikan separuh hati yang tersisa. Berdoa. Semoga kau tak merobeknya sama seperti yang lalu.
                Sambil menyeduh kopi malam ini, rasa-rasanya aku ingin menulis sedikit tentangmu. Iya, tentang siapa yang kini menjadi rumah bagiku. Yang menawarkan kehangatan ketika dingin merambat tubuhku. Yang memberikan kenyaman ketika aku membutuhkan tempat untuk berlindung. Semoga, kau tak menjadi sementara. Tak hanya hadir dalam masa kini. Tak hanya menghadirkan kenyamanan dan menawarkan kehangatan dalam waktu yang singkat. Namun, selamanya. Hingga sesulit apapun kita nanti, aku tetap ingin menjadikan kau sebagai rumahku. Aku juga ingin tetap kau yang memeluk tubuhku. Menyalurkan kehangatan itu. Aku ingin tetap hanya kamu. Serapuh apapun kita nanti.
                Aku menyeduh kopi untuk yang kedua kali. Teringat ketika kita bertegur sapa pertama kali. Tak ada yang aneh memang. Hanya aku tidak mengerti ternyata itu berlanjut hingga saat ini. Kau tahu? Aku sungguh tak ingin tahu banyak tentangmu saat itu. Aku sungguh tak acuh. Teramat sangat tak acuh malah. Aku juga simpang siur menerima kabar tentangmu. Sedikit kabar tentang kamu, dan beberapa wanita. Ya, ini yang perlu engkau tahu. Aku tahu semuanya. Semua yang tak sempat kau katakan ketika kita bertemu. Juga semua yang enggan kau katakan, hingga kau tutup erat. Sungguh, aku tahu itu. Tapi, aku tak mau jadi makhluk sok tahu. Hingga akhirnya aku memilih diam. Menunggumu membuka gembok itu sendiri. Aku hanya tinggal memasang telinga. Menjadi pendengar yang baik. Mangut-mangut sok paham. Memasang muka sok polos hingga akhirnya tertawa beriringan tak berhenti. Sungguh, waktu yang berharga. Kau tahu, ketika melihatmu tersenyum sedikit saja. Ah, sungguh aku tak ingin mengubahnya. Tak ingin itu hilang. Aku berikrar tak ingin senyum itu hilang dari kamu. Sungguh, sebisa mungkin aku ingin terus menjaganya. Hingga nanti. Seterusnya jika kau masih mau berjalan denganku. Akan aku pastikan, senyummu akan aku jaga.
                Aku kembali menyeduh kopi yang ketiga kali. Membiarkannya melewati tenggorokan dengan hangat. Kemudian menghilang. Menyenangkan. Sama menyenangkannya ketika aku tahu, kau mengutarakan perasaanmu tempo hari. Kau ternyata ingin berjalan bersamaku. Ah, iya kau tentu tahu bagaimana rasa itu. Sama seperti sebelumnya, aku pernah mengutarakan bahwa ada perasaan yang menyembul itu bukan? Kau masih ingat? Ah iya, kau tentu ingat. Bagaimana kau bisa lupa. Karena kamulah aku harus selalu menyaksikan rasa itu semakin meyembul. Dan gundukan itu? Tentu sudah sangat tinggi. Melebihi tinggi tubuhku sendiri. Ya, sekuat apapun aku menahannya. Aku tentu kalah kuat dengan rasa itu. Aku sungguh tidak tahu kau memiliki rasa yang sama. Dan gundukan yang telah tercipta itu, kini bisa meninggi bebas. Tak ada yang menghalangi. Kita bisa membuat rasa itu meletus! Ya, jika kita berani untuk bersama. Berani untuk menyaksikan sendiri bagaimana rasa itu meletus kuat. Dan gundukan itu akan tetap semakin meninggi sampai kapanpun. Semoga, itu tak akan pernah jatuh. Kita harus sama-sama melihat gundukan itu semakin tinggi, tinggi, dan terus meninggi. Kita harus bersama untuk membangun gundukan itu. Gundukan yang tak bisa diukur dengan apapun.  Karena, setinggi itulah aku memiliki rasa ini, untukmu.
                Kopi semakin dingin. Namun aku tetap kembali menyeduhnya. Nah, kali ini aku benar-benar ingin menulis tentangmu. Setelah sekian hari kau benar-benar hadir nyata dalam hidupku. Tak ada keraguan lagi. Tak ada yang perlu aku takutkan. Aku tahu, kau adalah rumahku yang menyediakan kenyamanan. Dan aku yakin, kau akan tetap bersamaku. Bersama menyaksikan gundukan itu. Merasakan rasa yang meledak terus-menerus. Tolong berjanjilah, sesulit apapun nanti, kau harus tetap berdiri disampingku. Menggenggam tanganku erat-erat. Hingga tak ada niat akan meninggalkanku. Karna kau harus tahu, aku sungguh tak ingin kau berlalu sama seperti yang lalu. Aku ingin kau bersamaku. Hanya itu.
                Untuk kesekian kali, aku menyeduh kopi lagi. Pikiranku melayang membayangkan wajahmu. Kemudian tanganku sudah menari lincah di dalam tuts laptop. Aku sudah menulis. Menulis yang memang seharusnya aku tulis. Ya, tentangmu.


Your secret girl
18 January 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar