Malam ini, malam yang kesekian aku memutuskan berjalan beriringan bersamamu. Setuju untuk menghabiskan hari bersama. Bergandengan, menikmati jengkal waktu yang akan kita coret dengan banyak warna baru. Hari yang semula aku habiskan sendirian, kini telah aku bagi bersamamu. Kamu, sebagai orang yang selalu aku perhatikan ketika detik berlalu. Sebagai satu-satunya orang yang aku berikan separuh hati yang tersisa. Berdoa. Semoga kau tak merobeknya sama seperti yang lalu.
Sambil menyeduh
kopi malam ini, rasa-rasanya aku ingin menulis sedikit tentangmu. Iya, tentang
siapa yang kini menjadi rumah bagiku. Yang menawarkan kehangatan ketika dingin
merambat tubuhku. Yang memberikan kenyaman ketika aku membutuhkan tempat untuk
berlindung. Semoga, kau tak menjadi sementara. Tak hanya hadir dalam masa kini.
Tak hanya menghadirkan kenyamanan dan menawarkan kehangatan dalam waktu yang
singkat. Namun, selamanya. Hingga sesulit apapun kita nanti, aku tetap ingin
menjadikan kau sebagai rumahku. Aku juga ingin tetap kau yang memeluk tubuhku. Menyalurkan
kehangatan itu. Aku ingin tetap hanya kamu. Serapuh apapun kita nanti.
Aku menyeduh
kopi untuk yang kedua kali. Teringat ketika kita bertegur sapa pertama kali. Tak
ada yang aneh memang. Hanya aku tidak mengerti ternyata itu berlanjut hingga
saat ini. Kau tahu? Aku sungguh tak ingin tahu banyak tentangmu saat itu. Aku sungguh
tak acuh. Teramat sangat tak acuh malah. Aku juga simpang siur menerima kabar
tentangmu. Sedikit kabar tentang kamu, dan beberapa wanita. Ya, ini yang perlu
engkau tahu. Aku tahu semuanya. Semua yang tak sempat kau katakan ketika kita
bertemu. Juga semua yang enggan kau katakan, hingga kau tutup erat. Sungguh,
aku tahu itu. Tapi, aku tak mau jadi makhluk sok tahu. Hingga akhirnya aku
memilih diam. Menunggumu membuka gembok itu sendiri. Aku hanya tinggal memasang
telinga. Menjadi pendengar yang baik. Mangut-mangut sok paham. Memasang muka
sok polos hingga akhirnya tertawa beriringan tak berhenti. Sungguh, waktu yang
berharga. Kau tahu, ketika melihatmu tersenyum sedikit saja. Ah, sungguh aku
tak ingin mengubahnya. Tak ingin itu hilang. Aku berikrar tak ingin senyum itu
hilang dari kamu. Sungguh, sebisa mungkin aku ingin terus menjaganya. Hingga nanti.
Seterusnya jika kau masih mau berjalan denganku. Akan aku pastikan, senyummu
akan aku jaga.
Aku kembali
menyeduh kopi yang ketiga kali. Membiarkannya melewati tenggorokan dengan
hangat. Kemudian menghilang. Menyenangkan. Sama menyenangkannya ketika aku
tahu, kau mengutarakan perasaanmu tempo hari. Kau ternyata ingin berjalan
bersamaku. Ah, iya kau tentu tahu bagaimana rasa itu. Sama seperti sebelumnya,
aku pernah mengutarakan bahwa ada perasaan yang menyembul itu bukan? Kau masih
ingat? Ah iya, kau tentu ingat. Bagaimana kau bisa lupa. Karena kamulah aku
harus selalu menyaksikan rasa itu semakin meyembul. Dan gundukan itu? Tentu sudah
sangat tinggi. Melebihi tinggi tubuhku sendiri. Ya, sekuat apapun aku
menahannya. Aku tentu kalah kuat dengan rasa itu. Aku sungguh tidak tahu kau
memiliki rasa yang sama. Dan gundukan yang telah tercipta itu, kini bisa
meninggi bebas. Tak ada yang menghalangi. Kita bisa membuat rasa itu meletus! Ya,
jika kita berani untuk bersama. Berani untuk menyaksikan sendiri bagaimana rasa
itu meletus kuat. Dan gundukan itu akan tetap semakin meninggi sampai kapanpun.
Semoga, itu tak akan pernah jatuh. Kita harus sama-sama melihat gundukan itu
semakin tinggi, tinggi, dan terus meninggi. Kita harus bersama untuk membangun
gundukan itu. Gundukan yang tak bisa diukur dengan apapun. Karena, setinggi itulah aku memiliki rasa ini,
untukmu.
Kopi semakin
dingin. Namun aku tetap kembali menyeduhnya. Nah, kali ini aku benar-benar
ingin menulis tentangmu. Setelah sekian hari kau benar-benar hadir nyata dalam
hidupku. Tak ada keraguan lagi. Tak ada yang perlu aku takutkan. Aku tahu, kau
adalah rumahku yang menyediakan kenyamanan. Dan aku yakin, kau akan tetap bersamaku.
Bersama menyaksikan gundukan itu. Merasakan rasa yang meledak terus-menerus. Tolong
berjanjilah, sesulit apapun nanti, kau harus tetap berdiri disampingku. Menggenggam
tanganku erat-erat. Hingga tak ada niat akan meninggalkanku. Karna kau harus
tahu, aku sungguh tak ingin kau berlalu sama seperti yang lalu. Aku ingin kau
bersamaku. Hanya itu.
Untuk kesekian
kali, aku menyeduh kopi lagi. Pikiranku melayang membayangkan wajahmu. Kemudian
tanganku sudah menari lincah di dalam tuts laptop. Aku sudah menulis. Menulis
yang memang seharusnya aku tulis. Ya, tentangmu.
Your secret girl
18 January 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar