Cari Blog Ini

Selasa, 20 Januari 2015

Wajah yang Menenangkan



                Ketika itu, hujan yang turun deras memaksaku untuk tak meneruskan perjalanan. Membuatku untuk berhenti di sebuah pertokoan tua di sudut kota. Di depan sebuah toko buku yang masih terawat baik meski bangunannya sudah kuno. Catnya mengelupas hampir diseluruh bagian. Meski begitu, tempat ini menawarkan kenyamanan bagiku. Menawarkan sebuah pemandangan mahal yang tak bisa aku dapatkan dimanapun. Hanya bisa aku dapatkan disini. Di tempat yang tak lebih dari duapuluh meter ini, aku menemukan sosoknya.
                Hujan tak kunjung berhenti. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam toko. Penjaga tokonya seorang pria tua yang sudah aku kenal baik. Ia adalah mantan sastrawan. Hidupnya sungguh sederhana. Kecintaannya pada sastra membuatnya membangun toko buku ini. Ia mempersilahkanku masuk dengan senyum yang ramah. Senyum yang masih sama. Hangat. Sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Ketika aku bertemu pertama kali dengannya. Raut wajahnya bak sebuah cerita novel yang panjang lebar. Kerutan di wajahnya tergambar jelas. Kacamata tebal yang dipakainya sangat unik. Indah sekali. Aku melangkah memasuki toko buku. Melihat sekeliling. Menyusuri rak satu kemudian ke rak yang lain. Sesekali menarik buku dari rak. Kemudian dibaca bagian belakang sampulnya. Ah, kebiasaan lama. Mataku kembali bergerilya. Menarik dua novel karya novelist terkenal. Kemudian aku bawa ke sebuah meja tua. Duduk disebuah bangku panjang. Kemudian membukanya satu-persatu. Melirik ke samping kanan. Ah iya pria itu! Wajahnya menyembul dari balik tumpukan novel tebal. Matanya fokus melihat tulisan yang berjejer rapi. Tunggu dulu, ia membaca novel yang sama persisi denganku. Karya novelist terkenal yang sama pula. Tiba-tiba rambutnya terjatuh pelan. Kemudian ia sibakkan ke belakang dengan tangan kanan. Ya Tuhan, sungguh menyenangkan melihatnya. Sesekali ia mengernyitkan dahi kemudian mengut-mangut sok mengerti. Dibolak-baliknya kertas novel yang tipis itu satu persatu. Menyenangkan sekali. Aku masih mengamatinya dari sini. Mengamati setiap detail wajahnya. Agar aku cepat mengahafal wajah yang menenangkan itu. Aku belum pernah melihat pria seperti ini sebelumnya. Yang betah berlama-lama berdua dengan sebuah buku. Betah membaca baris demi baris yang berjejer rapi. Tak mengeluh meski mata sudah tak kuat menahan lelah. Ternyata ada pria yang demikian.
                Entahlah, mengamatinya membuatku merasa damai. Rambutnya yang kembali jatuh itu rasanya ingin aku sibakkan. Ingin rasanya mendekat, membaca novel berdua. Membaca kata demi kata secara bergantian. Meski lebih lama, namun aku yakin akan menyenangkan. Aku ingin mendengar desahan nafasnya yang lembut. Memperhatikan dengan detail dahinya yang mengerut. Membantunya menemukan kata-kata indah. Ah, sungguh ingin sekali rasanya. Ingin menemukan kedamaian yang sama. Mengabaikan deru kendaraan yang bising di luar toko buku. Dan fokus pada baris-baris novel romantis sembari membayangkan seakan itu juga terjadi. Ingin juga rasanya ikut menggenggam tangannya. Membantunya memilah novel untuk dibaca bersama. Tak akan bisa dibayangkan, seberapa menyenangkannya bila itu sungguh terjadi. Akan seperti apa degub jantung yang normal ini. Akankah terus berdegub normal ? atau akan lebih cepat dari biasanya? Entahlah, sampai detik ini aku masih duduk diujung bangku. Masih hanya memperhatikannya. Belum berani beranjak.
                Sudah berapa lama aku hanya memandanginya dari sini. Menyiksa. Iya. Betapa tidak? Tanganku sungguh gatal ingin ikut meyibak rambutnya yang jatuh itu. Ah, iya aku tak mengenalnya sama sekali. Mana bisa aku tiba-tiba ikut menyibak rambutnya? Namun, aku memang sungguh ingin mengenalnya. Tidak kuat rasanya, melihatnya hanya menyembul dari balik tumpukan novel tebal. Aku ingin melihat wajahnya. Ingin sekali. Ingin menatap matanya. Siapa tahu, mataku dapat bertemu dengan matanya. Kemudian tumbuhlah rasa tertarik satu sama lain. Sama seperti cerita khayal ftv yang sehari-hari tayang tak tahu jam. Kaki ini rasanya sungguh ingin melangkah maju. Duduk bersebelahan. Ingin sekali. Untuk kesekian kali, aku melihat rambutnya kembali terjatuh. Tanganku reflex terulur. Apa-apaan? Aku kemudian langsung menariknya kembali. Dan, perlahan dagunya terangkat. Menatap kearahku. “DEG” sungguh, benarkah ini semuanya? Rasanya waktu seperti berhenti. Berhenti lama sekali. Mataku benar-benar bertemu. Wajahnya. Ah iya, wajahnya sungguh tenang. Sebuah senyum, tersimpul jelas di bibirnya. Aku menghembuskan nafas. Kaget bukan kepalang. Ia menoleh, kemudian kembali fokus. Pertunjukan telah selesai.
                Aku tersenyum. Meski tidak di depannya. Namun, aku sungguh percaya, ia tahu. Suara hujan berangsur-angsur hilang. Aku melihat ke arah jendela. Sudah terang. Kemudian beranjak, meninggalkan wajah yang penuh dengan ketenangan itu. Aku tersenyum lagi tanpa sepengetahuannya. Aku membawa kedua novel tadi ke penjaga toko. Meminjamnya. Seperti biasa ia tersenyum ramah. Namun kali ini berbeda. Ia melirik ke arah pria itu kemudian berkata, “Dia bernama Fadhil.” Aku tersenyum puas. Setidaknya aku sudah mengetahui namanya. Kalau-kalau aku bertemunya lagi, aku bisa menyuarakan namanya dengan lantang. Semoga.
Semoga pertemuan ini tak berakhir sia sia….

Yours
20 January 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar